Siapakah Manusia Pertama

Sed quia non numquam eius modi tempora incidunt ut labore et dolore magnam aliquam quaerat voluptatem.

Download Brochure

START:
July 24, 2015
DURATION:
3 Weeks
ID:
BA-037
CREDIT:
12

INSTRUCTORS:

Jennifer Homes
LECTURER - ECONOMICS
Rektor Unida
Professor Of Economics
Anthony Lee
Junior Lecturer - Web Design

Address

Bentley campus, Perth, WA   View map

Categories

Bachelor , Course , Study

Siapakah Manusia Pertama

SIAPAKAH MANUSIA PERTAMA?

Oleh: Setyono

Definisi Sains

Istilah sains berasal dari bahasa latin yaitu “scientia” yang artinya pengetahuan. Salah satu definisi sains ialah suatu cara untuk mempelajari aspek tertentu dari alam secara terorganisir, sistematik & melalui berbagai metode ilmiah yang terbakukan. Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sains adalah ilmu pengetahuan.

Saat duduk di bangku sekolah kita mengenal ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial. Lulusan S2 IPB bergelar Magister Sains, baik itu S2 rumpun ilmu pengetahuan alam maupun S2 rumpun ilmu pengetahuan sosial. Dalam memberikan gelar pada sarjana (S1), perguruan tinggi di Indonesia menggunakan Sarjana Sains (S.Si.) untuk gelar lulusan MIPA, dan S.Sos. untuk lulusan sosial humaniora. Di UNDIP, FMIPA diberi nama Fakultas Sains dan Matematika. Jadi walaupun sains adalah ilmu pengetahuan, namun ada kecenderungan bahwa  yang dimaksud sains adalah ilmu pengetahuan alam.

Sains dan Al Qur’an

Pengetahuan  manusia adalah pengetahuan Allah yang  berhasil dikuasai.  Agar dapat dipelajari manusia, maka pengetahuan Allah tersebut perlu dituliskan secara terstruktur berupa keteraturan fenomena alam.  Pengetahuan  Allah yang boleh dipelajari manusia tidak dituliskan  dalam kertas, karena sekalipun disediakan lautan tinta tidak akan cukup untuk  menuliskan pengetahuan Allah. Oleh sebab itu  penulisannya dalam bentuk hukum alam, sehingga manusia dapat mempelajarinya.

Meskipun manusia diberi keleluasaan mempelajari pengetahuan Alah yang berupa fenomena alam, pada kasus tertentu Allah memberikan rambu-rambu dalam Al Qur’an agar manusia tidak tersesat dalam perburuannya. Teori asal-usul kehidupan, misalnya. Setelah diawali dengan abiogenesis, kemudian teori biogenesis, teori evolusi kimia, dan teori evolusi biologi, hasil sementara yang belum ditumbangkan oleh teori berikutnya adalah Teori Harold Uray, yang mengatakan “Kalau metana (CH4), uap air (H2O), amonia (NH3), dan karbondioksida (CO2) yang semuanya berbentuk uap diberi pengaruh energi yang luar biasa akan menghasilkan zat-zat hidup”. Jadi perkembangan teori asal-usul kehidupan mengarah pada kesimpulan bahwa kehidupan berasal atau dimulai di air. Hal ini sejalan dengan rambu-rambu yang diberikan melalui QS Al Anbiyaa:30.

30. Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Ilmu pengetahuan alam adalah ayat kauniyah yang berhasil dikuasai manusia. Dengan demikian normalnya tidak ada perbedaan antara ilmu pengetahuan dengan Al Qur’an. Al Qur’an sebagai rambu-rambu dalam pengembangan keilmuan, sedangkan ilmu dapat dijadikan alat untuk menafsirkan ayat-ayat dalam Al Qur’an. Oleh sebab itu Einstein mengatakan bahwa “Ilmu tanpa agama buta dan agama tanpa ilmu lemah”. Jadi kalau seolah ada perbedaan antara sains dan agama, kemungkinan ada pemahaman yang belum lengkap.

Pertanyaan tentang Asal-usul Manusia

Contoh kasus yang selama ini masih dianggap ada perbedaan antara Al Qur’an dan sains adalah teori tentang asal-usul manusia. Pemahaman umum berdasarkan teori evolusi adalah manusia sekarang ini hasil evolusi, dari yang sebelumnya seperti kera hingga berjalan tegak dan sempurna seperti sekarang. Bukti-bukti fosil cukup mendukung adanya perubahan dari manusia Australophithecines, Homo habilis, Homo erectus, hingga Homo sapiens. Berarti tidak cukup alasan untuk menolak teori evolusi Darwin.

Sementara itu pemahaman mengenai asal-usul manusia berdasarkan Al Qur’an adalah Allah menjadikan manusia dalam bentuk yang paling sempurna, berarti bukan hasil evolusi (QS At Tiin:4).

4. sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya

Akibatnya mereka menolak teori Darwin dan menganggap teori Darwin menyesatkan. Pada umumnya upaya menolak bahwa manusia hasil evolusi dilakukan dengan menolak teori evolusi.

Salah satu ilmuwan yang menolak teori evolusi Darwin adalah Harun Yahya. Nama aslinya Adnan Oktar (lahir pada tahun 1956 di Ankara, Turki). Ia seorang penulis dan kreasionis Islam dan merupakan penentang teori evolusi, Darwinisme dianggapnya sebagai sumber terorisme. Harun Yahya mengajukan usul untuk menggantikan teori evolusi Darwin yang ditulis melalui buku Keruntuhan Teori Evolusi. Padahal konsep evolusi Darwin sudah diterima pada biologi dan sudah dimanfatkan untuk pemuliaan melalui konsep mutasi dan seleksi.

Lalu di mana salahnya? Apakah ada rekayasa bukti dari Darwin? Apakah ada yang belum lengkap mengenai pemahaman terhadap teori Darwin? Apakah ada ayat atau keterangan lain dalam kitab suci Al Qur’an yang belum dijadikan referensi?

Kuliah Agama di IPB

Ketika tahun 1983 saya kuliah Pendidikan Agama Islam di tingkat persiapan bersama IPB, dosen agama menyampaikan QS Al Baqarah:30

30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Dalam penafsirannya, dosen saya menjelaskan bahwa pertanyaan malaikat tersebut seolah-olah malaikat sudah tahu bahwa manusia akan membuat kerusakan. Padahal selama ini malaikat tidak pernah beropini atau meramal sesuatu. Malaikat hanya mengatakan apa yang pernah diketahuinya atau diajarkan kepadanya, seperti pada dua ayat berikutnya.

31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

32. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”  

Dari situ ditafsirkan bahwa malaikat bertanya seperti itu karena dulu pernah ada manusia di muka bumi yang berbuat kerusakan. Dengan demikian kalaulah teori evolusi itu benar, maka manusia hasil evolusi itu adalah manusia sebelum Adam atau disebut saja manusia purba. Adam dan sesudahnya sudah diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna.

Kunjungan ke Trinil

Pada bulan Januari 2016 saya berkunjung ke museum Trinil yang terletak 1 km di sebelah utara kampung saya. Trinil adalah tempat ditemukannya fosil Pithecanthropus erectus yang merupakan kelompok Homo erectus. Fosil ditemukan oleh E. Dubois pada tahun 1890. Dari pemandu museum diperoleh informasi bahwa teori evolusi Darwin sebelumnya ada yang teputus, dengan ditemukannya fosil Pithecanthropus erectus, sejarah perkembangan manusia purba menjadi jelas (tersambung) sejak Australophithecines hingga Homo sapiens. Pemandu menjelaskan bahwa sejarah perkembangan manusia ini adalah sejarah manusia purba. Darwin tidak berbicara apapun mengenai manusia sejak Adam dan seterusnya. Jadi tidak ada informasi bahwa manusia sekarang adalah hasil evolusi dari kera. Berarti selama ini banyak orang yang berprasangka buruk kepada Darwin.

Kesimpulan

Penolakan konsep Darwin terjadi karena kalau digunakan untuk menjelaskan asal-usul manusia dianggap betentangan dengan Al Qur’an, padahal pengkajian terhadap Al Qur’an belum lengkap. Ilmuwan menerima konsep Darwin pada biologi dan sudah memanfatkannya untuk pemuliaan melalui konsep mutasi dan seleksi. Konsep Darwin mungkin berlaku pada manusia purba sebelum Nabi Adam. Nabi Adam dan keturunannya adalah bentuk final bukan hasil evolusi. Dengan demikian tidak ada perbedaan pandangan antara Islam dan sains. Oleh sebab itu jadikanlah ayat-ayat di dalam Al Qur’an sebagai pemandu mempelajari ayat kauniyah di alam, dan jadikanlah sains untuk memperkuat pemahaman terhadap Islam. Sikap menyalahkan atau adanya perbedaan terjadi antara lain karena belum lengkapnya pemahaman.

sumber : http://faperta.unida.ac.id//detailpost/siapakah-manusia-pertama

Sed quia non numquam eius modi tempora incidunt ut labore et dolore magnam aliquam quaerat voluptatem.

ENROLL NOW

Silahkan Share Artikel Universitas Djuanda