Kunjungan Guru Besar Tafsir Universitas Al-Azhar Kairo

Profesor Mesir Himbau Dosen Perbaiki Ilmu dan Akhlak

Majelis ilmi, sebuah forum terbuka yang diselenggarakan untuk insan Universitas Djuanda, kali ini menghadirkan Prof. Dr. Nabil Gauhari, dari Universitas Al Azhar, Mesir. Majelis ilmi dilaksanakan tanggal 19 Agustus 2014, 2 hari setelah perayaan hari kemerdekaan Indonesia ke-69 dengan tema “Meningkatkan Kualitas Mahasiswa dan Dosen Melalui Ilmu dan Akhlak.”

Menurut Prof. Nabil, terdapat perbedaan nyata antara ajaran Yahudi, Nasrani dan Islam.  Yahudi lebih condong kepada pengetahuan yang bersifat materi, Nasrani lebih ke arah ruuhi, namun islam tidak condong kepada salah satu melainkan mengkombinasikan keduanya dalam satu kesatuan. Berdasarkan itulah maka setiap muslim idealnya  menuntut ilmu ukhrowi maupun duniawi. Beliau menjelaskan bahwa hakikatnya, ilmu duniawi pun tidak terlepas dari ilmu ukhrowi. Ayat pertama yang turun dalam Al Quran berbunyi ”Iqra, bismirobbikalladzii kholaq” yang artinya Bacalah, atas nama Robb yang Menciptakan. Sehingga kita harus meyakini bahwa alam dunia adalah ciptaan Allah SWT, dan ciptaan Allah yang terlihat/terasa disebut “materi”, sehingga hakikatnya orang yang berilmu duniawi/material  tidak akan terlepas dari Allah SWT, penciptanya.

Muslim yang memiliki ilmu duniawi akan lebih memiliki daya untuk dapat mengembangkan dan menguatkan islam, sehingga sangatlah penting bagi muslim untuk melakukan pembelajaran tanpa henti dalam segala bidang ilmu. Muslim yang memiliki ilmu duniawi bahkan akan dapat lebih memahami kebesaran dan keesaan Allah SWT sehingga terjadi proses pemahaman yang holistik. Muslim yang hanya mengenal agamanya saja akan menjadi umat yang lemah dan tidak dapat mempertahankan agamanya.

Proses transfer ilmu pengetahuan tidak terlepas dari sosok Guru. Guru adalah suri tauladan. Guru yang baik ilmu dan ahlaknya akan berpengaruh efektif terhadap peserta didik dalam proses transfer ilmu pengetahuan. Guru harus banyak melakukan kontemplasi atau introspeksi diri sehingga menemukan bekal untuk kehidupan yang sedang dijalaninya di dunia dan kelak untuk di akhirat. Sebagaimana kendaraan yang perlu diberi bensin untuk bergerak, hati juga perlu diberi makanan melalui introspeksi diri.  Prof. Nabil mengajak para mahasiswa dan dosen untuk menjadi guru, yang hakikatnya adalah suri tauladan sekaligus pen-transfer ilmu, yang baik ahlak dan ilmunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *