Islam dan Sains

introduction-in-interviews

ISLAM DAN SAINS
Oleh: Setyono

Kewajiban Berpikir

Pada acara-acara akademik biasa dilantunkan QS Ali Imran: 190-191 yang isinya:

190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (pelajaran) bagi orang-orang yang berakal,
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil (ketika) berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka.
Normalnya seorang mahasiswa apalagi mahasiswa santri termasuk golongan atau himpunan orang yang berakal, yang didefinisikan pada kedua ayat tersebut. Konsekuensinya, kalau langit yang jauh saja dipikirkan, apalagi sesuatu yang ada atau terjadi di sekitarnya. Ini bukan pilihan, tetapi keniscayaan. Sebagaimana kaidah kontrapositif yang berlaku pada aljabar pernyataan, “Kalau orang yang berakal adalah orang yang memikirkan kejadian di sekitarnya bahkan sampai langit yang jauh jaraknya” maka “Orang yang tidak memikirkannya tidak termasuk orang yang berakal”. Tentunya kita tidak mau kalau dikategorikan pada golongan ini.
Seberapa jauh pemikiran yang harus dicapai atau ditempuh orang yang berakal itu? Tidak hanya sampai menjadi pengetahuan saja, melainkan harus mewarnai pola pikirnya, pola sikapnya, pola tindaknya, bahkan sampai bertasbih pada Allah SWT. Mari kita evaluasi diri, seberapa kali kita bertasbih yang tasbihnya adalah refleksi pemikirannya terhadap penciptaan langit dan bumi. Karena kalau hanya mengucapkan,” Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar” ketika mengisi waktu saat duduk di angkot, anak-anak TK juga dapat melakukan. Celakanya kalau bertasbih semacam itu saja belum dilakukan, apalagi yang bertasbih sebagai refleksi hasil pemikirannya terhadap penciptaan langit dan bumi. Marilah kita memohon kepada Allah semoga termasuk golongan orang-orang yang berakal.

Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
Pengetahuan itu pada prinsipnya merupakan informasi mengenai fakta yang bisa berasal dari pengalaman maupun hasil pemikiran. Seorang petani tahu bahwa  tanaman  yang dipupuk subur, tetapi petani tersebut tidak tahu mengapa demikian. Penge­tahuan  bahwa “pupuk bisa menyuburkan tanaman” bagi petani  hanya sebatas pengetahuan. Suatu pengetahuan bisa dikategorikan sebagai ilmu pengetahuan bila pengetahuan tersebut menjelaskan secara tersusun rapi (terstruktur) mengenai apa, mengapa, dan bagaimana prosesnya. Untuk menjelaskan  tersebut  tentu menggunakan  pengetahuan  lainnya, sehingga antara pengetahuan-pengetahuan tersebut ada polanya. Oleh sebab itu ciri ilmu penge­tahuan adalah terstruktur, teruji, dan bisa menjelaskan. Dengan demikian ilmu pengetahuan bisa didefinisikan sebagai rangkaian keterangan yang teratur yang didukung oleh fakta.
Pengetahuan  yang diperoleh melalui metode  ilmiah  memenuhi syarat  sebagai  ilmu pengetahuan.  Pengetahuan  yang  diperoleh melalui  metode ilmiah selalu berasal dari hipotesis  yang  telah teruji. Hipotesis diperoleh berdasarkan pengetahuan sebelumnya melalui deduksi (misal dari buku referensi) atau induksi (misal dari hasil penelitian), sehingga sudah pasti bisa dijelaskan. Bisa dideduksikannya suatu hipotesis menandakan bahwa pengetahuan penyusunnya telah terpola.
Tidak  ada jaminan bahwa suatu ilmu pengetahuan lebih  benar dari  pada  pengetahuan. Ilmu pengetahuan  hanya  menjamin  bahwa pengetahuan  tersebut  diperoleh melalui langkah yang  benar  dan bisa  diulang.  Kebenaran hanya Tuhan yang  tahu,  manusia hanya berusaha  mencari  tahu  melalui langkah  yang  benar.  Pencarian pengetahuan melalui metode ilmiah merupakan langkah  yang  benar karena  disusun dari pengetahuan yang sudah diketahui  benar  dan bisa diuji.
Seorang  mahasiswa  harus membiasakan diri  selalu  berpikir secara  ilmiah (rasional) terhadap hal-hal yang berkaitan  dengan diri  dan lingkungannya, agar semua pengetahuannya  bisa  menjadi ilmu  pengetahuan.  Sekalipun sama-sama mencuci dengan  pembantu rumah  tangga,  seorang mahasiswa harus bisa memberi  makna yang berbeda  terhadap cara mencuci, air dulu atau pakaian  dulu  yang dimasukkan ke ember. Ketika sama-sama naik sepeda dengan pedagang kerupuk,  hendaknya  bisa menjelaskan mengapa  sepeda  yang  satu lebih  cepat daripada sepeda lainnya. Pokoknya prinsip dan  sikap metode ilmiah harus dibawa kemanapun pergi.

Definisi Sains
Sains adalah berasal dari bahasa latin yaitu “scientia” yang artinya pengetahuan. Salah satu definisi sains ialah suatu cara untuk mempelajari aspek tertentu dari alam secara terorganisir, sistematik & melalui berbagai metode ilmiah yang terbakukan. Ruang lingkup sains terbatas pada berbagai hal yang dapat dipahami oleh indera (penglihatan, sentuhan, pendengaran, rabaan & pengecapan, dan alat ukur) atau dapat dibilang sains itu pengetahuan yang diperoleh melalui pembelajaran dan pembuktian. Definisi lain dari sains adalah cara ilmu pengetahuan yang didapatkan dengan menggunakan metode tertentu. Berdasarkan definisi dan ruang lingkup tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sains adalah ilmu pengetahuan.
Di dunia pendidikan dasar dan menengah dikenal ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial. Lulusan S2 IPB bergelar Magister Sains, baik itu S2 rumpun ilmu pengetahuan alam maupun S2 rumpun ilmu pengetahuan sosial. Dalam memberikan gelar pada sarjana (S1), perguruan tinggi di Indonesia menggunakan Sarjana Sains (S.Si.) untuk gelar lulusan MIPA, sedangkan lulusan sosial humaniora menggunakan gelar Sarjana Sosial (S.Sos.). Di UNDIP, FMIPA diberi nama Fakultas Sains dan Matematika. Universitas Teknologi Yogyakarta menggunakan Fakultas Sains dan Teknologi untuk mengelola Program Studi: Teknik Informatika, Teknik Industri, Teknik Sipil, Teknik Elektro, Arsitektur, dan Sistem Komputer. Jadi walaupun sains adalah ilmu pengetahuan, namun dalam pengertian umum cenderung yang dimaksud sains adalah ilmu pengetahuan alam.

Pengetahuan, Kebenaran, dan Keindahan
Ilmu pengetahuan alam adalah pengetahuan terstrukur mengenai fenomena alam yang semuanya tunduk atau mengikuti hukum alam yang biasa disebut sunatullah. Bagi  Tuhan, realita, fenomena, kejadian,  pengetahuan,  dan kebenaran adalah sama. Ini terjadi karena Tuhan yang menciptakan  fenomena (realita),  Tuhan  mengetahui apa yang diciptakan,  dan  otomatis pengetahuannya adalah kebenaran. Pengetahuan tersebut apakah terstruktur atau tidak, bagi Tuhan tidaklah penting, karena  bisa dipanggil, disimpan, atau diciptakan kapan saja. Namun agar bisa dipelajari manusia, maka pengetahuan Tuhan tersebut perlu dituliskan secara terstruktur dalam kalam, berupa keteraturan fenomena alam.  Pengeta­huan  Tuhan yang boleh dipelajari manusia tidak dituliskan  dalam kertas, karena sekalipun disediakan lautan tinta tidak akan cukup untuk  menuliskan pengetahuan Tuhan. Oleh sebab itu penulisannya dalam bentuk hukum alam, sehingga manusia bisa mempelajarinya.
Pengetahuan  manusia adalah pengetahuan Tuhan yang  berhasil dikuasai. Pengetahuan yang dikuasai manusia bisa  berasal  dari pemberian  Tuhan dalam bentuk yang sudah jadi, bisa pula berasal dari usaha pencariannya sen­diri  melalui membaca fenomena alam. Dengan demikian manusia memperoleh kebenaran bisa berasal dari wahyu (agama), filsafat, maupun ilmiah. Pengetahuan  yang  diperoleh karena pemberian Tuhan (wahyu) secara eksplisit (jelas) maka kebenarannya bersifat  mutlak. Sebagai contoh pengetahuan bahwa semua makhluk hidup bakal mati. Namun untuk pengetahuan yang oleh Tuhan diberi­kan secara implisit (kurang jelas), maka kebenarannya  tergantung pada kemampuan manusia menafsirkannya, sehingga bersifat relatif. Sebagai  contoh  pemberitahuan bahwa manusia berasal  dari  tanah liat.  Pernyataan tersebut tidak bisa langsung diterima  mentah-mentah,  namun manusia perlu mempelajarinya dulu agar memperoleh pengetahuan yang ada pada pernyataan tersebut.
Pengetahuan  manusia yang diperoleh melalui mencari  sendiri jelas bersifat relatif. Hal ini bisa dijelaskan dengan memperhati­kan proses perolehan pengetahuan tersebut. Cara manusia  memperoleh pengetahuan bisa melalui cara kegigihan, kewibawaan, intuisi, maupun metode ilmiah. Tiga cara pertama dengan mudah dapat  dimengerti bahwa bersifat relatif, sedangkan cara keempat bisa bersi­fat relatif karena masih berpeluang salah. Kemungkinan  kesalahan bisa terletak pada pengamatannya, bisa pula terletak pada pengam­bilan kesimpulan. Penarikan kesimpulan bisa melalui cara  induksi bisa pula deduksi.
Deduksi  adalah proses pengambilan kesimpulan  dari  pernya­taan-pernyataan yang bersifat umum ke pernyataan-pernyataan  yang bersifat khusus. Sebagai contoh, dari pengetahuan  bahwa  “Semua makhluk hidup bakal mati” dan pengetahuan bahwa “Kucing  termasuk makhluk  hidup”, dapat diperoleh pengetahuan baru  bahwa “Kucing termasuk yang bakal mati”. Kesimpulan yang diambil melalui deduk­si  selalu  benar selama premis (pengetahuan  sebelumnya)  benar. Disiplin  ilmu  yang berkembangnya hanya melalui  deduksi  adalah Matematika.  Oleh sebab itu selama perjanjian awal dinilai  benar maka matematika selalu benar.
Induksi  adalah proses pengambilan kesimpulan  dari  pernya­taan-pernyataan yang bersifat khusus ke  pernyataan-pernyataan yang  bersifat umum. Sebagai teladan dari pengetahuan  bahwa  “Di Pasar  Ciawi, Bogor, dan Tanah Abang salak pondoh rasanya manis” akhirnya disimpulkan bahwa “Salak pondoh rasanya manis”. Kesimpul­an  yang diperoleh secara induktif belum  tentu  benar  meskipun pernyataan sebelumnya benar. Ini terjadi karena hanya tahu  sedi­kit (sampel) berbicara banyak (populasi). Berhubung pengetahuan yang diperoleh melalui metode ilmiah selalu melalui mekanisme induksi maka kebenaran  pengetahuan ilmiah bersifat relatif. Pengetahuan yang diperoleh secara  tidak ilmiah lebih relatif lagi, apalagi bila tidak dapat diuji kebenarannya.
Suatu  hipotesis yang disusun harus koheren dengan  pengeta­huan sebelumnya. Hipotesis ini bila teruji secara  empirik  bisa menjadi pengetahuan yang dianggap benar. Sesuatu yang benar  akan sejalan dengan kebenaran sebelumnya. Bila suatu proposisi (per­nyataan) itu salah tentu akan ada ketidakserasiannya  (ketimpang­an)  bila dihubungkan dengan proposisi yang sudah dinilai  benar. Hal yang sangat jelas terjadi pada musik. Bila ada salah  seorang penabuh  yang  salah  tabuh akan terasa kesumbangan  musik  yang dihasilkan.  Jadi ada korelasi antara kebenaran dengan keindahan (keserasian).

Prinsip Dasar Pengetahuan

Sebuah konsep dapat diturunkan menjadi beberapa peubah  atau variabel. Sebagai contoh  pada konsep  meja  terdapat  beberapa variabel antara lain bahan, ukuran, warna, dan bentuk. Pernyataan yang  menghubungkan dua variabel disebut hipotesis. Dalam  bidang sosial  sebuah variabel kadang-kadang  perlu dijabarkan  dalam variabel  operasional  yang bisa terukur atau ternilai. Sebagai contoh  variabel  kesejahteraan perlu dijabarkan dalam  variabel operasional misalnya pendapatan, kesehatan,  maupun tanggungan. Pernyataan  yang  menghubungkan dua variabel operasional sering disebut hipotesis statistik.
Dalam  perkembangannya (metode ilmiah) hipotesis lebih diarahkan pada pernyataan  mengenai prinsip  dasar  keilmuan  yang sifatnya masih merupakan dugaan terhadap parameter populasi  yang kebenarannya masih memerlukan pengujian. Berdasarkan  keterujian dan  penerimaan oleh rasio, pernyataan dibedakan  atas  postulat, hipotesis,  teori, hukum, dan aksioma. Sebagai perbandingan sebagai  beri­kut:

Proposisi Rasio Empirik
Postulat ? belum diuji
Hipotesis diterima belum diuji
Teori diterima sudah diuji
Hukum diterima sudah dibuktikan
Aksioma diterima tidak perlu diuji

Pada jaman dahulu ada postulat bahwa bumu ini datar. Atas dasar itu seorang pelaut tidak berani berlayar terlalu jauh, karena dikhawatirkan mencapai ujung dunia (bumi). Tidak semua orang mengakui kebenaran postulat tersebut. Salah seorang yang tidak mengakuinya adalah Columbus. Ia berpostulat bahwa bumi ini bulat. Atas dasar itu untuk mencapai Kepulauan Maluku yang biasanya dilakukan dengan berlayar ke timur, menurut Columbus bisa dilakukan dengan berlayar ke barat. Sebelum berhasil membuktikan postulatnya Columbus terdampar (tersesat) di Benua Amerika.
Hipotesis merupakan pernyataan dugaan mengenai parameter, yang disusun berdasarkan pengetahuan (studi kepustakaan) sebelumnya. Bila hipotesis didasarkan pada referensi teori, biasanya melalui proses deduksi. Sebaliknya bila hipotesis disusun berdasarkan hasil penelitian biasanya melalui proses induksi. Kebenaran suatu hipotesis perlu diuji melalui penelitian. Belakangan ini hampir semua penelitian eksplanatori diawali dengan hipotesis, jarang yang diawali dengan postulat, kecuali untuk topik yang benar-benar baru.
Hasil penelitian mungkin memperkuat hipotesis, mungkin pula menolak hipotesis, tergantung pada kebenaran hipotesis yang diuji dan data yang terkumpul. Peluang suatu kesimpulan mendukung suatu hipotesis padahal sebenarnya salah, biasa disebut taraf nyata. Pengujian hipotesis secara statistika dengan menyertakan taraf nyata yang digunakan, merupakan wujud kerendahan hati bahwa kesimpulannya bisa saja salah. Menguji hipotesis tanpa melalui uji statistik bagaikan berjanji tanpa mengucapkan in-sya Allah.
Teori merupakan penjelasan ilmiah dari suatu obyek atau masalah. Kebenaran teori secara rasio sudah diterima, sedangkan secara empirik sudah diuji. Jadi teori merupakan rangkaian keterangan yang didukung oleh fakta. Dalam kenyataan ada saja fakta empirik yang berbeda dari teori. Ini terjadi di samping karena ada keragaman juga karena secara empirik teori itu sifatnya baru diuji belum dibuktikan. Proposisi yang secara empirik sudah dibuktikan (diuji total) disebut hukum. Namun ada sedikit perbedaan antara teori dengan hukum. Teori lahir dari pemikiran atau lebih cenderung pada penjelasan, sedangkan hukum lahir dari induksi empirik atau lebih cenderung pada pembuktian empirik.
Ada lagi pernyataan yang disebut aksioma, yaitu yang tingkat penerimaan oleh rasio setingkat hukum tetapi secara empirik belum diuji sama sekali, karena memang tanpa diuji sudah diakui kebenarannya. Sebagai contoh adalah pernyataan bahwa “dua garis yang sejajar tidak akan berpotongan”.
Koherensi Antara Islam dan Sains
Ilmu pengetahuan alam adalah ayat kauniyah yang berhasil dikuasai manusia. Normalnya tidak ada perbedaan antara ilmu pengetahuan dengan agama. Agama sebagai rambu-rambu dalam pengembangan keilmuan, sedangkan ilmu dapat dijadikan alat untuk menafsirkan dalil dalam agama. Setelah berlanglangbuana dalam perburuan ilmu pengetahuan, Einstein mengatakan bahwa “Ilmu tanpa agama buta dan agama tanpa ilmu lemah”. Oleh sebab itu pola ilmiah pokok yang dianut oleh Universitas Djuanda ketika berdiri adalah kesatuan antara ilmu dan agama, tidak ada dikotomi antara ilmu dan agama. Ketika pada tahun 2000 UNIDA akan menyusun visi dilakukan studi dokumen yang ada. Dokumen yang dapat dijadikan acuan adalah pola ilmiah pokok tersebut, sehingga dirumuskanlah visi Universitas Djuanda “menjadi universitas berkualitas dalam mencerdaskan bangsa yang menyatu dalam tauhid”. Visi ini bertahan 15 tahun sebelum dimodifikasi dalam muker 2016 menjadi “menjadi universitas riset yang menyatu dalam tauhid dan diakui dunia”.
Fenomena alam terjadi mengikuti sunatullah yang merupakan ayat kauniyah yang terbuka untuk dipelajari manusia. Islam adalah agama samawi dengan kitab suci Al Qur’an yang berisi ayat-ayat kauliyah yang memberikan pengetahuan kepada manusia. Di samping itu Al Qur’an juga berisi rambu-rambu ayat kauniyah untuk membimbing manusia dalam berburu pengetahuan alam berdasarkan fenomena alam yang teramati. Sains adalah pengetahuan terstruktur mengenai fenomena alam yang diperoleh manusia berdasarkan pemikiran rasio dan pengamatan empirik. Oleh sebab itu normalnya islam dan sains selalu sejalan. Kalaulah ada perbedaan maka itu terjadi karena belum lengkapnya pengetahuan manusia.
Pada subbab berikut ini akan diberikan sebuah contoh ilmu pengetahuan yang kesimpulan akhirnya sesuai dengan islam dan sebuah contoh yang sampai saat ini belum banyak orang tahu bahwa kesimpulan akhirnya sudah sesuai dengan islam. Contoh pertama adalah asal-usul kehidupan, sedangkan contoh kedua adalah asal-usul manusia.

Asal Usul Kehidupan

Teori Abiogenesis
Tokoh teori Abiogenesis adalah Aristoteles (384-322 SM). Dia adalah seorang filosof dan tokoh ilmu pengetahuan Yunani Kuno. Teori Abiogenesis ini menyatakan bahwa makhluk hidup yang pertama kali menghuni bumi ini berasal dari benda mati. Sebenarnya Aristoteles mengetahui bahwa telur-telur ikan apabila menetas akan menjadi ikan yang sifatnya sama seperti induknya. Telur-telur tersebut merupakan hasil perkawinan dari induk-induk ikan. Walau demikian, Aristoteles berkeyakinan bahwa ada ikan yang berasal dari Lumpur. Bagaimana cara terbentuknya makhluk tersebut? Menurut penganut paham abiogenesis, makhluk hidup tersebut terjadi begitu saja atau secara spontan. Oleh sebab itu, paham atau teori abiogenesis ini disebut juga paham generation spontanea. Jadi, kalau pengertian abiogenesis dan generation spontanea kita gabungkan, maka pendapat paham tersebut adalah makhluk hidup yang pertama kali di bumi tersebut dari benda mati/tak hidup yang terjadinya secara spontan, misalnya :
a. Ikan dan katak berasal dari lumpur.
b. Cacing berasal dari tanah, dan
c. Belatung berasal dari daging yang membusuk.
Paham abiogenesis bertahan cukup lama, yaitu semenjak zaman Yunani Kuno (Ratusan Tahun Sebelum Masehi) hingga pertengahan abad ke-17. Pada pertengahan abad ke-17, Antonie Van Leeuwenhoek menemukan mikroskop sederhana yang dapat digunakan untuk mengamati benda-benda aneh yang amat kecil yang terdapat pada setetes air rendaman jerami. Oleh para pendukung paham abiogenesis, hasil pengamatan Antonie Van Leeuwenhoek ini seolah-olah memperkuat pendapat mereka.

Teori Biogenesis
Walaupun telah bertahan selama ratusan tahun, tidak semua orang membenarkan paham abiogenesis. Orang –orang yang ragu terhadap kebenaran paham abiogenesis tersebut terus mengadakan penelitian memecahkan masalah tentang asal usul kehidupan. Orang-orang yang tidak puas terhadap pandangan Abiogenesis itu antara lain Francesco Redi (Italia, 1626-1799), dan Lazzaro Spallanzani ( Italia, 1729-1799), dan Louis Pasteur (Prancis, 1822-1895). Berdasarkan hasil penelitian dari tokoh-tokoh ini, akhirnya paham Abiogenesis / generation spontanea menjadi pudar karena paham tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
a) Percobaan Francesco Redi ( 1626-1697)
Untuk menjawab keragu-raguannya terhadap paham abiogenesis, Francesco Redi mengadakan percobaan. Pada percobaannya Redi menggunakan bahan tiga kerat daging dan tiga toples. Percobaan Redi selengkapnya adalah sebagai berikut :
· Stoples I : diisi dengan sekerat daging, ditutup rapat-rapat.
· Stoples II :diisi dengan sekerat daging, dan ditutup kain kasa
· Stoples III : disi dengan sekerat daging, dibiarkan tetap terbuka.
Selanjutnya ketiga stoples tersebut diletakkan pada tempat yang aman. Setelah beberapa hari, keadaan daging dalam ketiga stoples tersebut diamati, dan hasilnya sebagai berikut:
· Stoples I : daging tidak busuk dan pada daging ini tidak ditemukan jentik / larva atau belatung lalat.
· Stoples II : daging tampak membusuk dan di dalamnya ditemukan banyak larva atau belatung lalat.
Berdasarkan hasil percobaan tersebut, Francesco redi menyimpulkan bahwa larva atau belatung yang terdapat dalam daging busuk di stoples II dan III bukan terbentuk dari daging yang membusuk, tetapi berasal dari telur lalat yang ditinggal pada daging ini ketika lalat tersebut hinggap di situ. Hal ini akan lebih jelas lagi, apabila melihat keadaan pada stoples II, yang tertutup kain kasa. Pada kain kasa penutupnya ditemukan lebih banyak belatung, tetapi pada dagingnya yang membusuk belatung relatif sedikit.
B) Percobaan Lazzaro Spallanzani (1729-1799)
Seperti halnya Francesco Redi, Spallanzani juga menyangsikan kebenaran paham abiogenesis. Oleh karena itu, dia mengadakan percobaan yang pada prinsipnya sama dengan percobaan Francesco Redi, tetapi langkah percobaan Spallanzani lebih sempurna. Sebagai bahan percobaannya, Spallanzani menggunakan air kaldu atau air rebusan daging dan dua buah labu. Adapun percoban yang yang dilakukan Spallanzani selengkapnya adalah sebagai berikut:
• Labu I : diisi air 70 cc air kaldu, kemudian dipanaskan 15ºC selama beberapa menit dan dibiarkan tetap terbuka.
• Labu II : diisi 70 cc air kaldu, ditutup rapat-rapat dengan sumbat gabus. Pada daerah pertemuan antara gabus dengan mulut labu diolesi paraffin cair agar rapat benar. Selanjutnya labu dipanaskan.
Kemudian labu I dan II didinginkan. Setelah dingin keduanya diletakkan pada tempat terbuka yang bebas dari gangguan hewan dan orang. Setelah lebih kurang satu minggu, diadakan pengamatan terhadap keadaan air kaldu pada kedua labu tersebut. Hasil percobaannya adalah sebagai berikut:
• Labu I : air kaldu mengalami perubahan, yaitu airnya menjadi bertambah keruh dan baunya menjadi tidak enak. Setelah diteliti ternyata air kaldu pada labu I ini banyak mengandung mikroba.
• Labu II : air kaldu labu ini tidak mengalami perubahan, artinya tetap jernih seperti semula, baunya juga tetap serta tidak mengandung mikroba. Tetapi, apabila labu ini dibiarkan terbuka lebih lama lagi, ternyata juga banyak mengandung mikroba, airnya berubah menjadi lebih keruh serta baunya tidak enak (busuk).
Berdasarkan hasil percobaan tersebut, Lazzaro Spallanzani menyimpulkan bahwa mikroba yang ada di dalam kaldu tersebut bukan berasal dari air kaldu (benda mati), tetapi berasal dari kehidupan di udara. Jadi, adanya pembusukan karena telah terjadi kontaminasi mikroba dari udara ke dalam air kaldu tersebut. Pendukung paham Abiogenesis menyatakan keberatan terhadap hasil eksperimen Lazzaro Spallanzani tersebut. Menurut mereka untuk terbentuknya mikroba (makhluk hidup) dalam air kaldu diperlukan udara. Dengan pengaruh udara tersebut terjadilah generation spontanea.
c) Percobaan Louis Pasteur (1822-1895)
Dalam menjawab keraguannya terhadap paham abiogenesis. Pasteur melaksanakan percobaan untuk menyempurnakan percobaan Lazzaro Spallanzani. Dalam percobaannya, Pasteur menggunakan bahan air kaldu dengan alat labu. Langkah-langkah percobaan Pasteur selengkapnya adalah sebagai berikut:
• Langkah I : labu disi 70 cc air kaldu, kemudian ditutup rapat-rapat dengan gabus. Celah antara gabus dengan mulut labu diolesi dengan paraffin cair. Setelah itu pada gabus tersebut dipasang pipa kaca berbentuk leher angsa. Lalu, labu dipanaskan atau disterilkan.
• Langkah II : selanjutnya labu didinginkan dan diletakkan ditempat yang aman. Setelah beberapa hari, keadaan air kaldu diamati. Ternyata air kaldu tersebut tetep jernih dan tidak mengandung mikroorganisme.
• Langkah III : labu yang air kaldu di dalamnya tetap jernih dimiringkan sampai air kaldu di dalamnya mengalir kepermukaan pipa hingga bersentuhan dengan udara. Setelah itu labu diletakkan kembali pada tempat yang aman selama beberapa hari. Kemudian keadaan air kaldu diamati lagi. Ternyata air kaldu di dalam labu menjadi busuk dan banyak mengandung mikroorganisme.

Melaui pemanasan terhadap perangkat percobaanya, seluruh mikroorganisme yang terdapat dalam air kaldu akan mati. Di samping itu, akibat lain dari pemanasan adalah terbentuknya uap air pada pipa kaca berbentuk leher angsa. Apabila perangkat percobaan tersebut didinginkan, maka air pada pipa akan mengembun dan menutup lubang pipa tepat pada bagian yang berbentuk leher. Hal ini akan menyebabkan terhambatnya mikroorganisme yang bergentayangan di udara untuk masuk ke dalam labu. Inilah yang menyebabkan tetap jernihnya air kaldu pada labu tadi. Pada saat sebelum pemanasan, udara bebas tetap dapat berhubungan dengan ruangan dalam labu. Mikroorganisme yang masuk bersama udara akan mati pada saat pemanasan air kaldu.
Setelah labu dimiringkan hingga air kaldu sampai kepermukaan pipa, air kaldu itu akan bersentuhan dengan udara bebas. Di sini terjadilah kontaminasi mikroorganisme. Ketika labu dikembalikan ke posisi semula (tegak), mikroorganisme tadi ikut terbawa masuk. Sehingga, setelah labu dibiarkan beberapa beberapa waktu air kaldu menjadi keruh, karena adanya pembusukan oleh mikrooranisme tersebut. Dengan demikian terbuktilah ketidakbenaran paham Abiogenesis atau generation spontanea, yang menyatakan bahwa makhluk hidup berasal dari benda mati yang terjadi secara spontan.
Berdasarkan hasil percobaan Redi, Spallanzani, dan Pasteur tersebut, maka tumbanglah paham Abiogenesis, dan munculah paham/teori baru tentang asal usul makhluk hidup yang dikenal dengan teori Biogenesis.
Teori itu menyatakan:
a) Omne vivum ex ovo = setiap makkhluk hidup berasal dari telur.
b) Omne ovum ex vivo = setiap telur berasal dari makhluk hidup, dan
c) Omne vivum ex vivo = setiap makhluk hidup berasal dari makhluk hidup sebelumnya.
Walaupun Louis Pasteur dengan percobaannya telah berhasil menumbangkan paham Abiogenesis atau generation spontanea dan sekaligus mengukuhkan paham Biogenesis, belum berarti bahwa masalah bagaimana terbentuknya makhluk hidup yang pertama kali terjawab.
Di samping teori Abiogenesis dan Biogenesis, masih ada lagi beberapa teori tentang asal usul kehidupan yang dikembangkan pleh beberapa Ilmuwan, di antaranya adalah sebagai berikut:
a) Teori kreasi khas, yang menyatakan bahwa kehidupan diciptakan oleh zat supranatural (Ghaib) pada saat yang istimewa.
b) Teori Kosmozoan, yang menyatakan bahwa kehidupan yang ada di planet ini berasal dari mana saja.
c) Teori Evolusi Kimia, yang menyatakan bahwa kehidupan di dunia ini muncul berdasarkan hukum Fisika Kimia.
d) Teori Keadaan Mantap, menyatakan bahwa kehidupan tidak berasal usul.

Teori Evolusi Kimia
Ketidakpuasan para Ilmuwan terhadap apa yang dikemukakan para tokoh teori Abiogenesis maupun Biogenesis mendorong para Ilmuwan lain untuk terus mengadakan penelitian tentang asal usul kehidupan. Pakar-pakar tersebut antara lain : Harold Urey, Stanley Miller, dan A.I.Oparin. Mereka berpendapat bahwa organisme terbentuk pertama kali di bumi ini berupa makhluk bersel satu. Selanjutnya makhluk tersebut mengalami evolusi menjadi berbagai jenis makhluk hidup seperti Protozoa, Porifera, Coelenterata, Mollusca, dan lain-lain.
Para pakar biologi, astronomi, dan geologi sepakat, bahwa planet bumi ini terbentuk kira-kira antara 4,5-5 miliar tahun yang lalu. Keadaan pada saat awal terbentuknya sangat berbeda dengan keadaan pada saat ini. Pada saat itu suhu planet bumi diperkirakan 4.000-8.000ºC. Pada saat mulai mendingin, senyawa karbon beserta beberapa unsur logam mengembun membentuk inti bumi, sedangkan permukaannya tetap gersang, tandus, dan tidak datar. Karena adanya kegiatan vulkanik, permukaan bumi yang masih lunak tersebut bergerak dan berkerut terus menerus. Ketika mendingin, kulit bumi tampak melipat-lipat dan pecah.
Pada saat itu, kondisi atmosfer bumi juga berbeda denagn kondisi saat ini. Gas-gas ringan seperti Hidrogen (H2), Nitrogen (N2), Oksigen (O2), Helium (He), dan Argon (Ar) lepas meninggalkan bumi akrena gaya gravitasi bumi tidak mampu manahannya. Dia atmosfer juga terbentuk senaywa-senyawa sederhana yang mengandung unsure-unsur tersebut, seperti uap air (H2O), Amonia (NH3), Metan (CH4), dan Karbondioksida (CO2). Senyawa sederhana tersebut tetap berbentuk uap dan tertahan di lapisan atas atmosfer. Ketika suhu atmosfer turun sekitar 100ºC terjadilah hujan air mendidih. Peristiwa ini berlangsung selama ribuan tahun. Dalam keadaan semacam ini pasti bumi saat itu belum di huni kehidupan. Namun, kondisi semacam itu memungkinkan berlangsungnya reaksi kimia, karena teredianya zat (materi) dan energi yang berlimpah.
Timbul pertanyaan, bagaimana proses terjadinya kehidupan di bumi ini? Pertanyaan inilah yang mendorong beberapa Ilmuwan untuk mengemukakan pendapat serta melakukan eksperimen. Di antara Ilmuwan tersebut antara lain Harold Urey dan Stanley Miller.

Teori Evolusi Kimia Menurut Harold Urey (1893)
Harold Urey adalah ahli Kimia berkebangsaan Amerika Serikat. Dia menyatakan bahwa pada suatu saat itu atmosfer bumi kaya akan molekul zat seperti Metana (CH4), Uap air (H2O), Amonia (NH3), dan karbondioksida (CO2) yang semuanya berbentuk uap. Karena adanya pengaruh energi radiasi sinar kosmis serta aliran listrik halilintar terjadilah reaksi di antara zat-zat tersebut menghasilkan zat-zat hidup. Teori evolusi Kimia dari Urey tersebut biasa dikenal dengan teori Urey.
Menurut Urey, zat hidup yang pertama kali terbentuk mempunyai susunan menyerupai virus saat ini. Zat hidup tersebut selama berjuta-juta tahun mengalami perkembangan menjadi berbagai jenis makhluk hidup. Menurut Urey, terbentuknya makhluk hidup dari berbagai molekul zat di atmosfer tersebut didukung kondisi sebagai berikut:
a) kondisi 1 : tersedianya molekul-molekul Metana, Amonia, Uap air, dan hydrogen yang sangat banyak di atmosfer bumi
b) kondisi 2 : adanya bantuan energi yang timbul dari aliran listrik halilintar dan radiasi sinar kosmis yang menyebabkan zat-zat tersebut bereaksi membentuk molekul zat yang lebih besar,
c) kondisi 3 : terbentuknya zat hidup yang paling secerhana yang susunan kimianya dapat disamakan dengan susunan kimia virus, dan
d) kondisi 4 : dalam jangka waktu yang lama (berjuta-juta tahun), zat hidup yang terbentuk tadi berkembang menjadi sejenis organisme (makhluk hidup yang lebih kompleks).

Eksperimen Stanley Miller
Miller adalah murid Harold Urey yang juga tertarik terhadap masalah asal usul kehidupan. Didasarkan informasi tentang keadaan planet bumi saat awal terbentuknya, yakni tentang keadaan suhu, gas-gas yang terdapat pada atmosfer waktu itu, dia mendesain model alat laboratorium sederhana yang dapat digunakan untuk membuktikan hipotesis Harold Urey.
Ke dalam alat yang diciptakannya, Miller memasukan gas Hidrogen, Metana, Amonia, dan Air. Alat tersebut juga dipanasi selama seminggu, sehingga gas-gas tersebut dapat bercampur di dalamnya. Sebagai pengganti energi aliran listrik halilintar, Miller mengaliri perangkat alat tersebut dengan loncatan listrik bertegangan tinggi. Adanya aliran listrik bertegangan tinggi tersebut menyebabkan gas-gas dalam alat Miller bereaksi membentuk suatu zat baru. Ke dalam perangkat juga dilakukan pendingin, sehingga gas-gas hasil reaksi dapat mengembun.
Pada akhir minggu, hasil pemeriksaan terhadap air yang tertampung dalam perangkap embun dianalisis secara kosmografi. Ternyata air tersebut mengandung senyawa organik sederhana, seperti asam amino, adenine, dan gula sederhana seperti ribose. Eksperimen Miller ini dicoba beberapa pakar lain, ternyata hasilnya sama. Bila dalam perangkat eksperimen tersebut dimasukkan senyawa fosfat, ternyata zat-zat yang dihasilkan mengandung ATP, yakni suatu senyawa yang berkaitan dengan transfer energi dalam kehidupan. Lembaga penelitian lain, dalam penelitiannya menghasilkan senyawa-senyawa nukleotida.
Nukleotida adalah suatu senyawa penyusun utama ADN (Asam Deoksiribose Nukleat) dan ARN (Asam Ribose Nukleat), yaitu senyawa khas dalam inti sel yang mengendalikan aktivitas sel dan pewarisan sifat.
Eksperimen Miller dapat memberikan petunjuk bahwa satuan-satuan kompleks di dalam sistem kehidupan seperti Lipida, Karbohidrat, Asam Amino, Protein, Mukleotida dan lain-lainnya dapat terbentuk dalam kondisi abiotik. Teori yang terus berulang kali diuji ini diterima para ilmuwan secara luas. Namun, hingga kini masalah utama tentang asal-usul kehidupan tetap merupakan rahasia alam yang belum terjawab. Hasil yang mereka buktikan barulah mengetahui terbentuknya senyawa organik secara bertahap, yakni dimulai dari bereaksinya gas-gas di atmosfer purba dengan energi listrik halilintar. Selanjutnya semua senyawa tersebut bereaksi membentuk senyawa yang lebih kompleks dan terkurung di lautan. Akhirnya membentuk senyawa yang merupakan komponen sel.

Teori Evolusi Biologi
Alexander Oparin adalah Ilmuwan Rusia. Di dalam bukunya yang berjudul The Origin of Life (Asal Usul Kehidupan). Oparin menyatakan bahwa pada suatu ketika atmosfer bumi kaya akan senyawa uap air, CO2, CH4, NH3, dan Hidrogen. Karena adanya energi radiasi benda-benda angkasa yang amat kuat, seperti sinar Ultraviolet, memungkinkan senyawa-senyawa sederhana tersebut membentuk senyawa organik atau senyawa hidrokarbon yang lebih kompleks. Proses reaksi tersebut berlangsung di lautan.
Senyawa kompleks yang mula-mula terbentuk diperkirakan senyawa seperti Alkohol, dan senyawa asam amino yang paling sederhana. Selama berjuta-juta tahun, senyawa sederhana tersebut bereaksi membentuk senyawa yang lebih kompleks, Gliserin, Asam organik, Purin dan Pirimidin.Senyawa kompleks tersebut merupakan bahan pembentuk sel.
Menurut Oparin senyawa kompleks tersebut sangat berlimpah di lautan maupun di permukaan daratan. Adanya energi yang berlimpah, misalnya sinar Ultraviolet, dalam jangka waktu yang amat panjang memungkinkan lautan menjadi timbunan senyawa organik yang merupakan sop purba atau Sop Primordial. Senyawa kompleks yang tertimbun membentuk sop purba di lautan tersebut selanjutnya berkembang sehingga memiliki kemampuan dan sifat sebagai berikut:
a) memiliki sejenis membran yang mampu memisahkan ikatan-ikatan kompleks yang terbentuk dengan molekul-molekul organik yang terdapat di sekelilingnya;
b) memiliki kemampuan untuk menyerap dan mengeluarkan molekul-molekul dari dan ke sekelilingnya;
c) memiliki kemampuan untuk memanfaatkan molekul-molekul yang diserap sesuai dengan pola-pola ikatan di dalamnya;
d) mempunyai kemampuan untuk memisahkan bagian-bagian dari ikatan-ikatannya.
Kemampuan semacam ini oleh para ahli dianggap sebagai kemampuan untuk berkembang biak yang pertama kali.
Senyawa kompleks dengan sifat-sifat tersebut diduga sebagai kehidupan yang pertama kali terbentuk. Jadi senyawa kompleks yang merupakan perkembangan dari sop purba tersebut telah memiliki sifat-sifat hidup seperti nutrisi, ekskresi, mampu mengadakan metabolisme, dan mempunnyai kemampuan memperbanyak diri atau reproduksi.
Walaupun dengan adanya senyawa-senyawa sederhana serta energi yang berlimpah sehingga di lautan berlimpah senyawa organik yang lebih kompleks, namun Oparin mengalami kesulitan untuk menjelaskan mengenai mekanisme transformasi dari molekul-molekul protein sebagai benda tak hidup ke benda hidup. Bagaimana senyawa-senyawa organik sop purba tersebut dapat memiliki kemampuan seperti tersebut di atas? Oparin menjelaskan sebagai berikut :
Protein sebagai senyawa yang bersifat Zwittwer Ion, dapat membentuk kompleks koloid hidrofil (menyerap air), sehingga molekul protein tersebut dibungkus oleh molekul air. Gumpalan senyawa kompleks tersebut dapat lepas dari cairan di mana dia berada dan membentuk emulsi. Penggabunagn struktur emulsi ini akan menghasilkan koloid yang terpisah dari fase cair dan membentuk timbunan gumpalan atau Koaservat.
Timbunan Koaservat yang kaya berbagai kompleks organik tersebut memungkinkan terjadinya pertukaran substansi dengan lingkungannya. Di samping itu secara selektif gumpalan Koaservat tersebut memusatkan senyawa-senyawa lain ke alamnya terutama Kristaloid. Komposisi gumpalan koloid tersebut bergantung kepada komposisi mediumnya Dengan demikian, perbedaan komposisi medium akan menyebabkan timbulnya variasi pada komposisi sop purba. Variasi komposisi sop purba di berbagai areal akan mengarah kepada terbentuknya komposisi kimia Koaservat yang merupakan penyedia bahan mentah untuk proses biokimia.
Tahap selanjutnya substansi di dalam Koaservat membentuk enzim. Di sekeliling perbatasan antara Koaservat dengan lingkungannya terjadi penjajaran molekul-molekul Lipida dan protein sehingga terbentuklah selaput sel primitif. Terbentuknya selaput sel primitif ini memungkinkan memberikan stabilitas pada koaservat. Dengan demikian, kerjasama antara molekul-molekul yang telah ada sebelumnya yang dapat mereplikasi diri ke dalam koaservat dan pengaturan kembali Koaservat yang terbungkus lipida amat mungkin akan mnghasilkan sel primitif.
Kemampuan koaservat untuk menyerap zat-zat dari medium memungkinkan bertambah besarnya ukuran koaservat. Kemungkinan selanjutnya memungkinkan terbentuknya organisme Heterotropik yang mampu mereplikasi diri dan mendapatkan bahan makanan dari sop Primordial yang kaya akan zat-zat organik.
Teori evolusi biologi ini banyak diterima oleh pakar Ilmuwan. Namun, tidak sedikit Ilmuwan yang membantah tentang interaksi molekul secara acak yang dapat menjadi awal terbentuknya organisme hidup. Teori evolusi kimia dan teori evolusi biologi banyak pendukungnya, namun baru teori evolusi kimia yang telah dibuktikan secara eksperimental, sedangkan teori evolusi biologi belum ada yang menguji secara eksperimental.
Seandainya apa yang dikemukakan dua teori tersebut benar, keduanya belum mampu menjelaskan bagaimana dan dari mana kehidupan di planet bumi ini pertama kali muncul. Yang perlu diingat adalah bahwa kehidupan adalah tidak hanya menyangkut masalah replikasi (penggandaan diri) atau masalah kehidupan biologis saja, tetapi juga menyangkut masalah kehidupan rohani. Tentang teori asal usul kehidupan yang menyatakan organisme pertama kali terbentuk di lautan bisa dipahami dari sudut biologi, karena molekul-molekul organik yang merupakan sop purba itu tertumpuk di laut.
Rambu-rambu Al Qur’an
Perkembangan teori asal-usul kehidupan mengarah pada kesimpulan bahwa kehidupan berasal atau dimulai di air. Hal ini sejalan dengan rambu-rambu yang diberikan melalui QS Al Anbiyaa:30.
30. Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?
Berarti terdapat kesesuaian antara islam dan sains.

Asal Usul Manusia
Konsep Darwin
Charles Robert Darwin (lahir di Shrewsbury, Shropshire, Inggris, 12 Desember 1809 – meninggal di Downe, Kent, Inggris, 19 April 1882 pada umur 72 tahun) adalah seorang naturalis Inggris yang teori revolusionernya meletakkan landasan bagi teori evolusi modern dan prinsip garis keturunan yang sama (common descent) dengan mengajukan seleksi alam sebagai mekanismenya.
Bukunya On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or The Preservation of Favoured Races in the Struggle for Life (biasanya disingkat menjadi The Origin of Species) (1859) menjelaskan evolusi melalui garis keturunan yang sama sebagai penjelasan ilmiah yang dominan mengenai keanekaragaman hayati.
Evolusi melalui mutasi dan seleksi alam pada saat ini adalah teori sentral dalam biologi, yang memberikan kerangka penjelasan bagi berbagai fakta dalam catatan fosil, keragaman hayati, pewarisan sifat, adaptasi, penyebaran, dan anatomi makhluk hidup. Teori evolusi yang sekarang diterima para ilmuwan biologi pertama kali dirumuskan oleh Charles Darwin. Pada 1940-an para ilmuwan dari tiga cabang biologi yaitu genetika, paleontologi, dan taksonomi menyempurnakan teori Darwin dengan melakukan sintesis antara konsep-konsep dan fakta-fakta yang ditemukan di ketiga bidang tersebut, menghasilkan Neo-Darwinisme yang kini menjadi dasar penjelasan pada hampir semua bidang dalam biologi.
Teori Darwin yang menyatakan bahwa semua makhluk hidup bersaing di alam ini melalui seleksi alam, membuat semua manusia terutama ras-ras tertentu merasa terancam. Sejak teori ini dihembuskan, sejak itu pula secara signifikan manusia semakin berlomba untuk dapat bertahan dengan berbagai cara, termasuk melalui peperangan.
Pernyataan Darwin mendukung bahwa manusia modern berevolusi dari sejenis makhluk yang mirip kera. Selama proses evolusi yang diduga telah dimulai dari 5 atau 6 juta tahun yang lalu, dinyatakan bahwa terdapat beberapa bentuk peralihan antara manusia modern dan nenek moyangnya yang ditetapkan menjadi empat kelompok dasar sebagai berikut:
1) Australophithecines (berbagai bentuk yang termasuk dalam genus Australophitecus)
2) Homo habilis
3) Homo erectus
4) Homo sapiens
Para evolusionis menggolongkan tahapan selanjutnya dari evolusi manusia sebagai genus Homo, yaitu “manusia.” Menurut pernyataan evolusionis, makhluk hidup dalam kelompok Homo lebih berkembang daripada Australopithecus, dan tidak begitu berbeda dengan manusia modern. Manusia modern saat ini, yaitu spesies Homo sapiens, dikatakan telah terbentuk pada tahapan evolusi paling akhir dari genus Homo ini. Fosil seperti “Manusia Jawa,” “Manusia Peking,” dan “Lucy,” yang muncul dalam media dari waktu ke waktu dan bisa ditemukan dalam media publikasi dan buku acuan evolusionis, digolongkan ke dalam salah satu dari empat kelompok di atas. Setiap pengelompokan ini juga dianggap bercabang menjadi spesies dan sub-spesies, mungkin juga. Beberapa bentuk peralihan yang diusulkan dulunya, seperti Ramapithecus, harus dikeluarkan dari rekaan pohon kekerabatan manusia setelah disadari bahwa mereka hanyalah kera biasa.
Dengan menjabarkan hubungan dalam rantai tersebut, evolusionis secara tidak langsung menyatakan bahwa setiap jenis ini adalah nenek moyang jenis selanjutnya. Akan tetapi, penemuan terbaru ahli paleoanthropologi mengungkap bahwa Australopithecines, Homo habilis dan Homo erectus hidup di berbagai tempat di bumi pada saat yang sama. Lebih jauh lagi, beberapa jenis manusia yang digolongkan sebagai Homo erectus kemungkinan hidup hingga masa yang sangat moderen. Dalam sebuah artikel berjudul “Latest Homo erectus of Java: Potential Contemporaneity with Homo sapiens ini Southeast Asia,” dilaporkan bahwa fosil Homo erectus yang ditemukan di Jawa memiliki “umur rata-rata 27 ± 2 hingga 53.3 ± 4 juta tahun yang lalu” dan ini “memunculkan kemungkinan bahwa H. erectus hidup semasa dengan manusia beranatomi moderen (H. sapiens) di Asia tenggara”
Lebih jauh lagi, Homo sapiens neanderthalensis (manusia Neanderthal) dan Homo sapiens sapiens (manusia moderen) juga dengan jelas hidup bersamaan. Hal ini sepertinya menunjukkan ketidakabsahan pernyataan bahwa yang satu merupakan nenek moyang bagi yang lain.
Pada dasarnya, semua penemuan dan penelitian ilmiah telah mengungkap bahwa rekaman fosil tidak menunjukkan suatu proses evolusi seperti yang diusulkan para evolusionis. Fosil-fosil, yang dinyatakan sebagai nenek moyang manusia oleh evolusionis, sebenarnya bisa milik ras lain manusia atau milik spesies kera.

Pandangan terhadap Darwin
Ilmuwan Charles Darwin, pengemuka teori evolusi mengatakan bahwa manusia berasal dari keturunan kera. Hasil penelitiannya selama bertahun-tahun menunjukkan jika manusia terdahulu menjalani kehidupan sebagai hewan, yang kemudian beradap setelah berevolusi menjadi manusia.
Pandangan ini terangkum dalam bukunya The Descent of Man yang terbit tahun 1971 dan sangat kontroversial serta menjadi perdebatan. Sayang dominasi media barat sukses membuat teori evolusi darwin masuk ke dalam ranah kurikulum pendidikan di seluruh dunia. Para evolusionis telah merekayasa skema khayalan dengan sangat fantastis. Bahkan seringkali dilengkapi dengan ilustrasi yang nampak sangat realistis.
Pada awal kemunculannya Darwin langsung ditentang banyak agama. Karena  jika mengacu pada ajaran agama maka manusia adalah ciptaan Tuhan yang mutlak. Bahkan manusia adalah keturunan kera, merupakan gagasan yang terlampau sulit untuk diterima akal sehat. Terlepas dari kemiripan tampilan, ada jurang besar dan tak berhubungan antara kera dan manusia.

Penelitian yang mereka lakukan mengemukakan bahwa Australopithecus yang merupakan kera yang sudah punah menjadi nenek moyang manusia. Saat para evolusionis tak juga menemukan satu fosilpun yang bisa mendukung teori mereka, terpaksa mereka melakukan kebohongan.
Kebohongan yang paling terkenal adalah tentang fosil manusia Piltdown 500.000 tahun. Mereka terpaksa memasangkan tulang rahang orang utan pada tengkorak manusia.  Hal ini terungkap setelah pada tahun 1949, Kenneth Oakley dari Departemen Paleontologi British Museum mencoba melakukan “uji fluorin”.  Manusia Piltdown merupakan penipuan ilmiah terbesar dalam sejarah selama 40 tahun.

Kejadian Manusia Menurut Al-Qur’an
Jika saja Darwin dan Evolusionis lain mau membaca Al-Qur’an, tentu saja mereka tidak perlu repot-repot melakukan penelitian tentang awal kejadian manusia. Pasalnya sejak perkembangan Islam 1400 silam, umat Islam sudah mempercayai bahwa nenek moyang manusia adalah Nabi Adam dan bukan kera seperti yang diungkapkan Darwin. Bahkan Alllah SWT sudah menceritakan bagaimana awal mula penciptaan Adam dalam Al-Qur’an dalam surah Al Hijr.
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk, Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS 15:28-29)

Perkembangan berikutnya bisa dilihat di Surat An Nisaa’. Dari diri nabi Adam lalu diciptakan isterinya, kemudian mereka berkembang biak sampai banyak. Dan sampai sekarang tidak berubah. Tidak ada evolusi genetika.

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS 4:1)

Selanjutnya dalam QS Al Hujuraat ayat 13 dikatakan:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS 49:13).

Jadi Allah SWT sebenarnya sudah menciptakan manusia sebagai pemimpin di bumi, yang memiliki derajad yang paling tinggi dibanding dengan makhluk bumi lainnya. Terlebih jika dibandingkan dengan kera yang selama ini dipercaya sebagian kalangan sebagai nenek moyang manusia.
Banyak orang memperbincangkan dan memperdebatkan teori mengenai asal-usul manusia. Berbicara mengenai asal-usul manusia pastilah semua orang tahu. Dari sebuah garis sejarah, sebagai bagian dari suatu bangsa, selayaknya manusia mengetahui apa yang membentuk dirinya di masa lalu. Maka dari situlah manusia dapat memahami fitrahnya dalam hidup.

Konsep Harun Yahya
Adnan Oktar (lahir pada tahun 1956 di Ankara, Turki), juga dikenal sebagai Harun Yahya (diambil dari nama nabi Harun dan Yahya) atau Adnan Hoca, adalah seorang penulis dan kreasionis Islam. Ia merupakan penentang teori evolusi, Darwinisme dianggapnya sebagai sumber terorisme.
Harun Yahya mengajukan usul untuk menggantikan teori evolusi Darwin. Teori Harun Yahya berhak menerima pertimbangan serius dari kalangan ilmuwan biologi. Teori ini menjelaskan berbagai penemuan dalam biologi dengan lebih baik daripada kerangka penjelasan evolusi yang sekarang berlaku.
Meski Harun Yahya belum memberikan deskripsi sistematis atas teori yang mereka ajukan. Harun Yahya menjelaskan kajiannya melalui buku Keruntuhan Teori Evolusi yang berisi:
1) Jenis-jenis makhluk hidup tak bisa berubah. Tidak mungkin terjadi perubahan dari satu bentuk makhluk hidup ke bentuk lainnya, misalnya dari ikan menjadi amfibi dan reptil, reptil ke burung, atau mamalia darat ke paus.
2) Tiap jenis makhluk hidup tidak bekerabat satu sama lain dan diturunkan dari leluhur yang sama. Masing-masing merupakan hasil dari suatu tindakan penciptaan tersendiri.
3) Seleksi alam sebagaimana ditemukan Darwin adalah kaidah yang berlaku di alam, namun tidak pernah menghasilkan spesies baru.
4) Tidak ada mutasi yang memberikan keuntungan berupa peningkatan kelestarian makhluk hidup. Selain itu, mutasi tak menambah kandungan informasi dalam materi genetis makhluk hidup.
5) Catatan fosil tak menunjukkan adanya bentuk transisional, serta menunjukkan penciptaan tiap kelompok makhluk hidup secara terpisah.
6) Abiogenesis (kemunculan makhluk hidup dari materi tak-hidup) tak mungkin terjadi.
7) Kerumitan dan kesempurnaan yang ditemukan pada tubuh dan DNA makhluk hidup tak timbul karena kebetulan, namun merupakan bukti bahwa ada yang merancang kerumitan tersebut.
8) Materi dan persepsi kita adalah ilusi; yang nyata adalah Allah, yang meliputi segalanya.

Teori Harun Yahya dan fakta Teori Harun Yahya menggunakan desain sebagai pengganti evolusi untuk menjelaskan kerumitan struktur dan keragaman kehidupan. Bila teori mereka lebih baik daripada evolusi, maka penjelasan desain seharusnya bisa diterapkan pada tiap peristiwa pada sejarah kehidupan di Bumi. Tentunya tidak logis bila penjelasan desain hanya diterapkan pada beberapa kasus (misalnya kejadian manusia) namun pada kasus lain penjelasannya diserahkan pada evolusi. Asal-usul dari tiap jenis makhluk hidup harus bisa dijelaskan sebagai tindak penciptaan terpisah.

Kuliah Agama di IPB
Ketika tahun 1983 saya kuliah Pendidikan Agama Islam di tingkat persiapan bersama IPB, dosen agama menyampaikan QS Al Baqarah:30
Image

30. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Dalam penafsirannya, dosen saya menjelaskan bahwa pertanyaan malaikat tersebut seolah-olah malaikat sudah tahu bahwa manusia akan membuat kerusakan. Padahal selama ini malaikat tidak pernah beropini atau meramal sesuatu. Malaikat hanya mengatakan apa yang pernah diketahuinya atau diajarkan kepadanya, seperti pada dua ayat berikutnya.
31. Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”
32. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Dari situ ditafsirkan bahwa malaikat bertanya seperti itu karena dulu pernah ada manusia di muka bumi yang berbuat kerusakan. Dengan demikian kalaulah teori evolusi itu benar, maka manusia manusia hasil evolusi itu adalah manusia sebelum Adam. Adam dan sesudahnya sudah diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna.

Kunjungan ke Trinil
Pada bulan Januari 2016 saya berkunjung ke museum Trinil yang terletak 1 km di sebelah utara kampung saya. Ini adalah kunjungan ke sekian kalinya, karena ketika di kampung sudah terbiasa bermain sepeda di halaman museum. Trinil adalah tempat ditemukannya fosil Pithecanthropus erectus yang merupakan kelompok Homo erectus. Fosil ditemukan oleh E. Dubois pada tahun 1890. Penemuan fosil pithecanthropus erectus menjadi penyambung mising link teori evolusi Darwin mengenai asal-usul manusia. Dari pemandu museum diperoleh informasi bahwa teori evolusi Darwin sebelumnya ada yang teputus, dengan ditemukannya fosil Pithecanthropus erectus, sejarah perkembangan manusia purba menjadi jelas (nyambung) sejak Australophithecines hingga Homo sapiens. Pemandu menjelaskan bahwa sejarah perkembangan manusia ini adalah sejarah manusia purba. Darwin tidak berbicara apapun mengenai manusia sejak Adam dan seterusnya. Jadi tidak ada informasi bahwa manusia sekarang adalah hasil evolusi dari kera. Berarti selama ini banyak kiai yang berprasangka buruk kepada Darwin.
Lebih jauh di museum Trinil diberikan sejarah perkembangan bumi sejak Zaman Arkaeikum (2.500 juta tahun yang lalu), kemudian Zaman Palaeozoikum (340 juta tahun yang lalu), Zaman Mesozoikum (150 juta tahun yang lalu), hingga Zaman Neozoikum. Pada setiap zaman ada perkembangan kehidupannya, dari yang tanpa kehidupan, adanya ganggang, adanya reptil, hingga adanya manusia. Dengan demikian yang diuraikan di museum Trinil sejalan dengan teori asal-usul kehidupan dari air menjadi makhluk hidup sederhana dan akhirnya menjadi makhluk hidup kompleks.

Kesimpulan
• Ilmuwan menerima konsep Darwin pada biologi dan sudah memanfatkannya untuk pemuliaan melalui konsep mutasi dan seleksi.
• Penolakan konsep Darwin terjadi karena kalau digunakan untuk menjelaskan asal-usul manusia betentangan dengan Al Qur’an.
• Konsep Harun Yahya memberikan alternatif penjelasan terhadap asal-usul manusia, tetapi untuk menjelaskan aspek lain mempercayakan pada konsep Darwin.
• Konsep Darwin mungkin berlaku pada manusia purba sebelum Nabi Adam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *