Pemerintah Kota Bogor sangat serius mengkondisikan agar social distancing dapat terwujud termasuk dalam proses belajar mengajar. Kelas daring saat ini menjadi solusi proses belajar mengajar jarak jauh antara guru dan siswa seiring dengan kebijakan belajar di rumah untuk menghadapi pandemic covid-19.

Kota Bogor sedang dalam kondisi luar biasa. Saat ini jumlah Orang dalam Pemantauan (ODP) di Kota Bogor ada 567 orang, Pasien dalam Pengawasan (PDP) 33 orang dan pasien terkonfirmasi positif 7 orang (sumber www.covid19.kotabogor.go.id). Setelah test masal covid-19 yang sedang direncanakan akan akan dilakukan, jumlah ini diduga akan meningkat.

Walikota Bogor telah mengeluarkan Surat Edaran No. 443.1/1057-Umum berisikan perpanjangan masa berlakunya sampai tanggal 11 April 2020 melalui Surat Edaran No. 061/1169-umum. Surat Edaran tersebut berisi tentang keharusan untuk belajar di rumah bagi seluruh siswa sekolah PAUD/TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, penutupan semua tempat hiburan di Kota Bogor dan penutupan semua tempat umum yang dikelola Pemkot seperti GOR dan Taman Kota.

Tidak lama menyusul setelah Walikota Bogor ditetapkan positif covid-19, Kota Bogor menetapkan status Kejadian Luar Biasa pada tanggal 20 Maret 2020. Tentu tidak mudah menetapkan suatu kejadian sebagai kejadian luar biasa karena hal ini berdampak pada segala bentuk pembiayaan dalam rangka upaya penanggulangan wabah covid-19 dibebankan pada anggaran pemerintah kota. Pemerintah Kota Bogor tidak akan mengambil langkah ini jika penyebaran covid-19 masih dianggap hal yang biasa-biasa saja.

Langkah ini disusul oleh pengeluaran Himbauan Walikota Bogor No. 500/70-Hukham tentang Penghentian Sementara Kegiatan Perkantoran dalam Rangka Mencegah Penyebaran Wabah Covid-19 dan Instruksi Walikota Bogor No. 500/74-Hukham tentang Pembatasan Jam Operasional Pertokoan, Pusat Perbelanjaan dan Toko Swalayan di Kota Bogor dalam Upaya Kewaspadaan Pencegahan Penyebaran Infeksi Covid-19 di Kota Bogor Tahun 2020 pada tanggal 23 Maret 2020. Ini menunjukkan keseriusan Pemerintah Kota Bogor dalam membatasi aktivitas luar rumah bagi masyarakat Kota Bogor termasuk aktivitas belajar mengajar.

Kelas daring mendorong pada situasi belajar mengajar baru. Guru dituntut memiliki pengetahuan, kesadaran dan kreativitas agar proses belajar mengajar tetap berjalan, dapat diikuti siswa dan dapat optimal seperti kelas tatap muka. Terutama untuk jenjang pendidikan PAUD dan SD, kelas daring juga “memaksa” orang tua menjadi “guru” di rumah. Orang tua diharapkan dapat bekerja sama dengan guru sebagai pendidik dalam arti kata memberikan materi pembelajaran sekolah yang sebenarnya di rumah.

Guru juga perlu memahami bahwa, ketika anak belajar di rumah, maka hubungan antara guru dan orang tua semakin penting. Karena orang tua lah yang mewakili guru dalam melakukan fungsi-fungsi pendidikan. Kita dapat menyebutnya sebagai “trianggle communication” atau komunikasi segitiga (guru – orang tua – siswa). Terkait hal tersebut, diajukan beberapa pemikiran mengenai pelaksanaan kelas daring di masa pandemik covid-19 di Kota Bogor.

Pertama, pemahaman atas situasi luar biasa di ranah kota seharusnya dapat diterjemahkan di dalam proses belajar kelas daring. Surat Edaran Mendikbud No. 4 Tahun 2020 menegaskan proses pembelajaran agar berfokus pada kecakapan hidup dalam menghadapi pandemik covid-19. Seorang guru diharapkan dapat mengkondisikan penugasan atau hal-hal lain yang terkait dengan pembelajaran untuk mendukung program social distancing.

Guru tidak meminta orang tua murid atau siswa untuk keluar rumah untuk membeli bahan baku tugas atau tidak meminta anak melakukan kerja kelompok. Seluruh kebijakan dan aturan yang dikeluarkan Walikota Bogor pada hakikatnya berujung pada satu anjuran, tetap di rumah anda dan pastikan keluarga anda terhindar dari resiko terinfeksi covid-19.

Kedua, diperlukannya pemahaman mendalam mengenai media sosial sebagai media pembelajaran di saat pandemic covid-19. Media sosial mengambil alih peran komunikasi langsung atau tatap muka di kelas. Tidak jarang guru mengambil langkah penugasan untuk memastikan siswa tetap mendapatkan haknya untuk belajar. Guru dan orang tua harus memandang media komunikasi berbasis media sosial bukan lagi hanya media komunikasi namun sebagai pengganti kelas.

Pada kasus siswa PAUD dan SD penekanan atas hubungan baik antara guru dan orang tua di media sosial tersebut lebih diperlukan. Sebagian besar siswa PAUD dan SD masih belum menggunakan handphone pribadi. Kondisi ini memerlukan kesadaran dari guru dan orang tua bahwa akses terhadap media sosial yang telah disepakati sebagai pengganti media belajar kelas merupakan akses belajar anak.

Ketiga, diperlukannya peran orang tua, sekolah dan dewan pendidikan dalam melakukan fungsi kontrol dalam memastikan proses kelas daring telah memenuhi standar dalam menghadapi situasi luar biasa covid-19. Proses belajar daring seringkali berhadapan dengan kasus-kasus keluhan orang tua mengenai tugas yang banyak atau penugasan yang memerlukan orang tua atau siswa keluar rumah. Pada kondisi sosial budaya masyarakat Kota Bogor yang selalu menjaga kebersamaan dan menghindari konflik keluhan tersebut tidak sampai ke tataran guru.

Hambatan komunikasi ini tentunya harus disikapi oleh komite sekolah dan sekolah. Namun, pada kenyataannya kasus-kasus ini tidak selalu terangkat dan mengendap di tingkat keluhan orang tua. Peran Dewan Pendidikan untuk mengkaji lebih lanjut kasus-kasus kelas daring untuk dapat mendapatkan gambaran proses belajar mengajar daring di Kota Bogor sangat diperlukan. Apakah hanya sebatas kasus atau memang cerminan proses belajar-mengajar di Kota Bogor.

Agustina Multi Purnomo, S.P., M.Si.

(Anggota Dewan Pendidikan Kota Bogor, Puspaga Kota Bogor, Kahmi Bogor, dan Dosen Sains Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor)

Sumber : https://headlinebogor.com/opini/agustina-m-purnomo-kelas-daring-dan-kesadaran-pandemic-covid-19/2