Rabu, 30 Maret 2021 Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor menyelenggarakan kegiatan Peluncuran Pusat Studi Kajian Baitul Maqdis. Kegiatan ini mengundang Prof. Abd Al-Fattah El-Awaisi yang berasal dari IslamicJerusalem Research Academy. Kegiatan yang diselenggarakan di aula gedung C Universitas Djuanda Bogor dihadiri oleh pejabat struktural, dosen dan mahasiswa UNIDA Bogor.

Prof. Abd Al-Fattah El-Awaisi menyampaikan mengenai bahaya penjajahan pemikiran yang jauh lebih berbahaya dibandingkan penjajahan kawasan. Ia membagikan kisah yang berangkat dari pengalaman pribadi sehingga membuat ia tertarik mendalami kajian Baitul Maqdis

Saya ingin membagikan marifat hubungan dengan Baitul Maqdis yang dimulai dengan konteks cerita. Pada saat mendaftar ke British University dan mengatakan  berasal dari Jerusalem sontak mereka menganggap saya sebagai orang Yahudi. Ini sangat menantang bagi saya. Kota Jerusalem  identik menjadi kota Yahudi, sehinga saya melakukan penelitian tingkat bahaya antara penjajahan kawasan dan penjajahan pemikiran dan kesimpulannya adalah bahwa terjajahnya pemikiran lebih berbahaya.”

Namun hal ini membuka jalan dan diakui diakuinya IslamicJerusalem oleh Inggris dengan dibukanya Program Studi  Pascasarjana IslamicJerusalem di universitas di Inggris.

Dari penelitian tersebut, beliau tersadar bahwa perang intelektual dilakukan dengan oleh satu kaum tertentu. Beliau melakukan riset terhadap dokumentasi dan literatur dari Inggris serta dokumentasi dan arsip yang bisa kita akses ke British Foreign Office.

Salah satu contoh dari temuan saya adalah, Ottoman atau Kerajaan Turki Ustmani. Alih-alih dikaitkan dengan umat muslim, sebuah peta menunjukkan bahwa pendudukan Ottoman dilakukan oleh kekuasaan barat, dan membagi empat negara dengan target pendudukan oleh negara-negara barat, seperti Suriah dan Libanon yang ditargetkan akan diduduki oleh Kolonial Inggris dan Pranscis bukan kepada umat muslim. Kemudian mereka menciptakan negara baru, Yordania. Mereka menentukan batasan-batasan negara yg akan diberikan ke Yahudi yg akan mendirikan negara Israel.

Contoh kedua lebih buruk lagi. Kolonial inggris mendesain bendera Palestina hanya dalam waktu 15 menit. Sedangkan di sisi lain orang-orang Islam dengan sangat bangga menyebarkan bendera Palestina. Bukanlah itu menjadi sebuat bentuk pemikiran terjajahnya pemikiran muslim?”

Prof. Abd Al-Fattah El-Awaisi  mengajak seluruh umat muslim untuk memerangi balik pemikiran yang selama ini ditanamkan di benak-benak kaum muslimi dengan mengikuti pemikiran dan perilaku Rasulullah SAW. Sebagaimana penggunaan terminologi Baitul Maqdis adalah penyebutan yang digunakan oleh Rasulullah SAW.

Beliau menekankan bahwa peperangan yang terjadi di Palestina, bukan hanya urusan Palestina, sebagai sebuah teritorial, bukan urusan dari negara-negara lain. Namun merupakan permasalahan kaum muslimin, karena para penjajah sejak awal bukan menargetkan pendudukan sebuah negara, melainkan mengalahkan agama Islam melalui penjajahan pemikiran.Kuncinya adalah, dengan membebaskan pemikiran kaum muslimin, bahwa ini bukanlah soal Palestina, ini adalah tentang permasalahan kaum muslimin.

Prof. Abd Al-Fattah El-Awaisi  berpesan jangan sampai kecintaan kaum muslimin terhadap Baitul Maqdis, hanya berhenti pada tahap ceremonial dan emosional, tanpa menggali lebih jauh. Tanyakan diri anda sendiri, jawab oleh diri anda sendiri, berapa banyak buku tentang Baitul Maqdis yang pernah anda baca selama hidup anda? Bagaimana kita bisa mencintai Masjidil Aqsa, jika kita bahkan tidak pernah membaca satu pun buku tentang Masjidil Aqsa. Saya tidak mengajak anda untuk berperang, saya mengajak anda untuk membaca buku. Bagaimana kita mau membebaskan Masjidil Aqsa, sedangkan kita tidak memiliki pengetahuan apapun tentang Masjidil Aqsa.

Acara berlangsung dengan interaktif, terlihat dari antusiasme peserta yang bertanya. Acara berakhir dengan dua sesi dan ditutup pada pukul 15.30 WIB. Penyerahan kenang-kenangan dilakukan oleh Chancellor Universitas Djuanda Dr. H. Martin Roestamy, SH, MH.

Prof. Abd Al-Fattah El-Awaisi mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam. “Terimakasih atas undangan  dan respon yang baik dari Universitas Djuanda. Masya Allah, ini sesuatu yang menyenangkan dengan keramah tamahan semua muslim yang ada di Indonesia”, ungkapnya.

Ke depan diharapkan kajian  ini bisa menjadi salah satu mata kuliah untuk mendalami kajian Baitul Maqdis.