Fakultas Hukum Universitas Djuanda Bogor (UNIDA) selenggarakan Forum Group Discussion (FGD) dengan Tema Model Pelayanan Kesehatan Bagi Tahanan di Wilayah Hukum Bogor dan Cianjur Dalam Upaya Pencegahan Perluasan dan Penyalahgunaan Narkoba, dengan menghadirkan narasumber Dr. H. Martin Roestamy, SH., MH selaku Dosen Sekolah Pascasarjana UNIDA, AKP. Andri Alam, S.IK selaku Kasat Narkoba Polres Bogor, IPTU Tri Harso selaku Kasat Tahti Polresta Bogor, dan Damari, Bc. IP., S.IP., M.Si selaku Kabid. Keamanan, Kesehatan, Perawatan Narapidana/Tahanan, dan Pengelolaan Barang Rampasan dan Barang Sitaan. Kegiatan FGD yang dilakukan merupakan bagian dari penelitian yang beranggotakan Dr (Cand). Hj. Endeh Sehartini, SH., MH., Dr. H. Martin Roestamy, SH., MH dan Ani Yumarni, SHI., MH dan berlangsung atas dukungan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DP2M) UNIDA dan Ristekdikti, dengan telah menghasilkan luaran dalam kegiatannya yaitu 2 jurnal terakreditasi Internasional terindex Scopus, 1 jurnal terakreditasi Nasional, 1 buku ajar, 1 Seminar Nasional dan 4 Seminar Internasional yang berlangsung di Thailand. Acara FGD tersebut dibuka langsung oleh Rektor UNIDA Dr. Ir. Dede Kardaya., M.Si yang dalam sambutannya menyampaikan apresasi yang luar biasa atas terlaksananya hasil penelitian dan diharapkan dapat memberikan manfaat yang besar bagi dunia pendidikan khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. “Selamat saya ucapkan untuk Hj. Dr. (cand) Endeh suhartini, SH. MH beserta tim peneliti atas capaian penelitian yang saat ini sedang berlangsung, Alhamdulillah UNIDA sebagai Perguruan Tinggi riset yang menyatu dalam tauhid dan diakui dunia, menjadikan seluruh penelitian yang dilakukan oleh dosen sebagai bentuk pengabdian serta ilmu yang bermanfaat dan dapat dirasakan hasilnya oleh masyarakat luas, sehingga luaran atau hilirisasi dari hasil penelitian dapat berupa buku ajar, publikasi ilmiah baik nasional maupun internasional, dan publikasi online mengingat sekarang kita hidup di zaman revolusi industri 4.0 yang segalanya serba realtime dan menggunakan serta memanfaatkan teknologi sebagai kebutuhan dalam segala hal, sehingga dapat diakses oleh masyarakat luas”. Tutur Dede Kardaya dalam sambutannya . Kegiatan yang berlangsung di ruang Pertemuan Sekolah Pascasarjana UNIDA dihadiri oleh Dosen, Mahasiswa dan Tamu Undangan yang berasal dari Instansi pemerintahan Wilayah Bogor dan Cianjur. Kegiatan FGD berjalan dengan hangat, terlihat dari proses interaksi dan penyampaian dari beberapa narasumber serta sesi tanya jawab dari para peserta FGD sangat antusias. Pemapar materi pertama Damari, Bc. IP., S.IP., M.Si menyampaikan bahwa peningkatan kualitas pelayanan bagi tahanan menjadi prioritas utama dalam pengelolaan rumah tahanan. “Kebijakan tentang kesehatan bagi pelayanan tahanan sangat luar biasa karena dengan tersedianya 32 dokter 55 perawat dan 10 dokter gigi untuk mengurus dan memberikan pelayanan kesehatan kepada tahanan, Kementerian Hukum dan HAM berusaha menaikan segala kualitas pelayanan kesehatan mulai dari pengelolaan gizi tahanan seperti aspek pemberian makan dan minum sebagai upaya menjaga kesehatan dan pengurangan penyakit sampai dengan penurunan angka kematian akibat terjangkit penyakit umum ataupun penyakit khusus yang berasal dari penggunaan narkotika”. Tutur Damari Bc. IP., S.IP., M.Si. Terdapat pemaparan tambahan dalam FGD yang disampaikan oleh Kasat Narkoba Polres Bogor yang membahas tentang Model Kesehatan Pelayanan Bagi Tahanan Di Polres Bogor Dalam Mencegah Perluasan dan Penyalahgunaan Narkoba. Dalam pelaksanaannya setiap minggu tepatnya pada hari Jumat secara rutin koordinasi dengan pihak dari klinik pratama Polres Bogor, dimana petugas datang langsung ke rumah tahanan polres dan memberikan pelayanan kesehatan kepada tahanan. Dr. Martin Roestamy, SH., MH menjelaskan dalam pemaparannya berkaitan dengan Keadilan dalam lembaga pemasyarakatan, beliau menjelaskan beberapa contoh kesenjangan dalam lapas, dimana orang yg memiliki jabatan serta uang mendapatkan fasilitas lebih didalam lapas, namun napi biasa hidup berdesakan didalam lapas dengan keadaan yang sangat tidak manusiawi, beliau mengutip pernyataan dari pengacara senior berasal dari Medan, Mahyu Daniel, antara fasilitas dan negosiasi adalah perdagangan hantu tak dapat dilihat tetapi dapat dirasakan. "Keadilan serta kesenjangan terjadi khususnya dalam rumah tahanan, sehingga beberapa kasus kematian seseorang didalam rumah tahanan dianggap biasa, mungkin hal ini disebabkan karena sifat religiusitas masyarakat yang melihat kematian adalah milik Allah. Pengelolaan Lembaga pemasyarakatan termasuk Rumah tahanan khususnya kepolisian harus melihat masyarakat secara utuh tidak hanya sebagian berdasarkan negosiasi dan strata sosial sehingga fasilitas merupakan barang dagangan para sipir atau pejabat lebih tinggi". Tutur Dr. Martin Roestamy, SH., MH dalam pemaparannya.