Oleh: Aal Lukmanul Hakim, S.H., M.H.
(Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Djuanda Bogor)


Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! (QS. Al-Alaq: 1) 

“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku Aku bebas” (Muhammad Hatta) 

“The reading of all good books is like a conversation with the finest minds of past centuries” (Rene Descartes)


Selamat Hari Ulang Tahun Perpustakaan Nasional dan Hari Buku Nasional….

Mungkin Kita tidak semua tahu bahwa tanggal 17 Mei diperingati sebagai HUT Perpusnas dan sekaligus diperingati sebagai Hari Buku Nasional (Harbuknas). Secara kelembagaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia didirikan pada tahun 1989 berdasarkan Keputusan Presiden nomor 11 tahun 1989. Dalam Pasal 19 Kepres 11/1989 tersebut dijelaskan bahwa “Sampai dengan terbentuknya organisasi Perpustakaan Nasional secara rinci berdasarkan Keputusan Presiden ini, Pusat Pembinaan PerpustakaanPerpustakaan Nasional dan Perpustakaan Wilayah di Ibukota Propinsi yang selama ini merupakan satuan organisasi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, terhitung sejak pelantikan Kepala Perpustakaan Nasional melaksanakan tugas dan fungsi Perpustakaan Nasional”. Dengan demikian, Pasal 19 dapat ditafsirkan bahwa Perpustakaan Nasional RI merupakan gabungan ketiga lembaga tersebut. Sedangkan Perpustakaan Nasional Departemen Pendidikan dan Kebudayaan itu sendiri, diresmikan pada tanggal 17 Mei 1980 berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0164/0/1980. Tanggal 17 Mei inilah yang kemudian dijadikan tanggal berdirinya Perpustakaan Nasional (HUT Perpustakaan Nasional).

Sedangkan penetapan Hari Buku Nasional (Harbuknas), mengutip dari donasibuku.kemdikbud.go.id, tanggal 17 Mei diperingati sebagai Harbuknas sudah dilaksanakan sejak 2002 yang merupakan buah pemikiran Menteri Pendidikan, Abdul Malik Fadjar (periode 2001-2004). Pada saat itu, penetapan Harbuknas menjadi salah satu upaya pemerintah untuk memacu minat baca masyarakat Indonesia, sekaligus menaikkan penjualan buku. Hal itu tak lepas dari kondisi memprihatinkan di Indonesia, dimana rata-rata hanya 18 ribu judul buku yang dicetak setiap tahunnya. Jumlah tersebut jauh di bawah Jepang dengan 40 ribu judul buku per tahun atau China dengan 140 ribu judul per tahun. Gagasan ini juga diperlukan diperlukan untuk meningkatkan minat baca dan angka melek huruf yang di Indonesia yang masih rendah kala itu. Tingkat melek huruf di Indonesia pada orang dewasa atau penduduk berusia di atas 15 tahun, menurut laporan UNESCO, pada 2002 hanya 87,9 persen. Angka tersebut kalah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia (88,7 persen), Vietnam (90,3 persen), dan Thailand (92,6 persen) di tahun yang sama. Selanjutnya, tanggal 17 Mei dipilih karena bertepatan dengan momen berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yaitu pada 17 Mei 1980 sebagaimana dijelaskan pada paragraf awal.

Dari lintasan sejarah kedua perayaan tersebut, pertanyaannya adalah kenapa Kita memperingati HUT Perpusnas dan Harbuknas (sekalipun perayaan ini sepi dari perayaan), apa urgensi pentingnya memperingati kedua “Hari Besar” tersebut?, apa pentingnya perpustakaan dan buku dalam kehidupan Kita?, jawaban dari pertanyaan ini akan membawa kepada kesadaran kita betapa pentingnya Perpustakaan dan Buku dalam membangun peradaban kehidupan manusia, terlebih untuk Kita yang berkecimung di dunia pendidikan, seperti Pendidikan Tinggi dengan tridarma perguruan tinggi-nya, dimana pada akhirnrya peran tridarma tersebut tidak bisa dilepaskan dari peran Perpustakaan dan Buku.

Dalam Penjelasan Umum Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan disebutkan bahwa keberadaan perpustakaan tidak dapat dipisahkan dari peradaban dan budaya umat manusia. Tinggi rendahnya peradaban dan budaya suatu bangsa dapat dilihat dari kondisi perpustakaan yang dimiliki. Tesis yang menyandingkan eksistensi perpustakaan dengan tinggi rendahnya peradaban sebuah bangsa dalam penjelasan umum UU Perpustakaan tersebut dapat dijadikan premis bahwa perpustakaan menjadi sangat penting, vital dan strategis dalam membangun sebuah masyarakat. Sebuah masyarakat dengan peradaban tinggi, akan tercermin dari budaya menghargai dan memfungsikan perpustakaan sebagai sarana pendidikan, pusat kebudayaan, dan bahkan rekreasi sekalipun. Begitulah peran sejati sebuah perpustakaan. Menyadari peran penting eksistensi perpustakaan sebagai kristalisasi sebuah peradaban dan resultan dari sebuah kebudayaan. Dengan demikian, peran perpustakaan diharapkan dapat berjalan secara optimal guna mewujudkan sebuah masyarakat yang cerdas dan sejahtera.

Di sisi lain, perpustakaan berfungsi untuk mendukung Sistem Pendidikan Nasional (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional) dan juga fungsi Pendidikan Tinggi (Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi). Perpustakaan merupakan sumber belajar, pusat sumber informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, dan kebudayaanDemikian besar fungsi dan peran sebuah perpustakaan, terutama dalam membangun pendidikan, dalam hal ini terutama dalam fungsinya yang tradisional dalam menyediakan buku, bahwa “...libraries make available all the relevant books and other materials almost free of cost, and the children of the poor and the rich alike can derive equal amount of advantages out of this free service that helps in pursuing constructive education...”.(1) Terkait dengan fungsinya dalam mendukung pendidikan, menurut Lan Yang, (2) dalam konteks pendidikan tinggi, perpustakaan memiliki fungsi sangat vital dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi. Perpustakaan menjadi “ruang kelas kedua” bagi para peserta didik. Menurutnya, fungsi penting perpustakaan tersebut terletak pada empat hal, yakni: a. libraries are the best place for cultivating students’ morals; b. libraries are the important front for improving students’ scientific and cultural quality; c.libraries are the effective helper for developing professional technology education; d.libraries create favorable conditions for improving students’ comprehensive quality.

Selanjutnya, dalam kerangka berfikir bahwa perkembangan masyarakat akan menghadapi masyarakat yang berbasis informasi (societies informarmation based) dan masyarakat berbasis pengetahuan (societies knowledge based), perpustakaan menjadi salah satu sarana efektif dalam mewujudkan ketersediaan informasi kepada masyarakat. perpustakaan telah menjadi bagian dari program pembangunan masyarakat dan negara. Peran dan fungsi perpustakaan dalam mendukung pembangunan masyarakat modern dapat dikelompokkan dalam lima kategori utama, yaitu: (i) peran dalam pendidikan tinggi), (ii) peran bagi pengguna, (iii) peran rekreasi, (iv) sebagai sebuah tempat (as a place), dan (v) peran sosial dan budaya. Khusus dalam perannya dalam pendidikan tinggi tersebut perpustakaan berperan sebagai: (a) Supporting education, teaching research, and training in the society by providing access to knowledge resources, materials and by providing referrals (traditional role); (b)Dissemination and distribution of information/ knowledge stored in such documents to stakeholders in education; (c)Serving as gateways to the collections of global libraries;(d)Supporting informal self-education and learning.

Dengen fungsinya tersebut, peran sangat strategis dimiliki perpustakaan dalam mengemban misi guna membangun peradaban manusia berbasis ilmu penegetahuan dan budaya. Peran dan fungsi perpustakaan pada setiap aspek peradaban yang tidak hanya terbatas pada aspek sosial-budaya, menjadikan perpustakaan telah bertransformasi menjadi sebuah intitusi yang tidak bisa lagi diabaikan dan “dibiarkan”. Perpustakaan harus tampil terdepan dalam ikut memimpin pembangunan masyarakat, terutama dalam misi mencerdasakan kehidupan bangsa sebagai tujuan konsitusional negara.

 Mulai saat ini dan seterusnya, tidak saja hanya sekedar perayaan tanggal 17 Mei yang harus selalu Kita ulang tiap tahunnya, akna tetapi lebih dari itu urgensi perayaan tersebut yang harus tetap hidup, tumbuh, berkembang, yang kemudian menyadarkan Kita semua tentang pentingnya Perpustakaan dan Buku. Bahkan, membaca (iqra) dalam perspektif ketauhidan menjadi aspek paling utama dan pertama diperintahkan oleh Allah dalam rangka memami segala hal, baik ayat yang tersurat (qauliyah), yaitu Alquran, dan ayat yang tersirat, maksudnya alam semesta (kauniyah). Dengan demikian, perpustakaan dengan perannya, dan buku dengan segala kandungan, tema, dan isinya, menjadi prasarana guna mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknokogi. Terlebih dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, perpustakaan dan buku sudah dapat dikembangkan dengan e-library dan e-book yang meretas keterbatasan waktu dan tempat.

Sudah saatnya, Kita sebagai Insan Akademis menjadikan perpustakaan dan buku sebagai bagian dari budaya keseharian dalam berbagai aktivitas, tidak saja aktivitas akademik tetapi seluruh aktivitas dilandasi oleh sebuah dasar literasi dalam berbagai hal – literasi bahasa, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan – dengan mengandalkan peran perpustakaan dan buku sebagai salah satu sumber literasi yang dapat dipercaya. Sudah saatnya “budaya tutur” diikuti dan dilandasi oleh “budaya literasi” (keaksaraan, yaitu rangkaian kemampuan menggunakan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung) yang kuat untuk meningkatan kualitas hidup, daya saing, pengembangan karakter bangsa, serta melihat perkembangan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan di abad ke-21. Untuk mampu bersaing, warga dunia harus memiliki kompetensi yang meliputi berpikir kritis/memecahkan masalah, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Sementara itu, untuk memenangkan persaingan, masyarakat harus memiliki karakter yang kuat yang meliputi iman dan takwa, rasa ingin tahu, inisiatif, kegigihan, kemampuan beradaptasi, kepemimpinan, serta kesadaran sosial dan budaya.

Lantas, siapa yang bertanggung jawab terhadap semua ini? Tentu jawabannya adalah Kita semua, mulai dari Keluarga, Sekolah/Perguruan Tinggi, dan PemerintahPertama, keluarga. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat, dalam konteks pendidikan, menjadi lingkungan pembelajaran pertama dan utama bagi semua orang. Kedua, Sekolah/PT, kegiatan literasi dengan optimalisasi peran perpustakaan diintegrasikan dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah/PT sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari semua rangkaian kegiatan siswa/mahasiswa dan Guru/Dosen, baik di dalam maupun di luar kelas. Pendidik dan tenaga kependidikan tentu memiliki kewajiban moral sebagai teladan dalam hal berliterasi ini, juga peningkatan sarana dan prasarana menjadi sangat penting. Ketiga, tentu yang memegang peran paling menentukan adalah pemerintah, sebagai regulator dan fasilitator dalam meningkatkan kemampuan literasi masyarakat khususnya dengan optimaslisasi eksistensi perpustakaan, melalui (i) peningkatan jumlah dan ragam sumber belajar bermutu, (ii) perluasan akses sumber belajar bermutu dan cakupan, (iii) peningkatan pelibatan publik, dan (iv) penguatan tata kelola.

Sudah saatnya Kita “kembali ke Perpustakaan”, dan mejadikan Buku sebagai bagian dari kebudayaan dalam keseharian. Mulai dari Kita, saat ini, dan seterusnya. Istiqomah menjadi kuncinya. InsyaAllah, dengan demikian Kita, Indonesia, khususnya Insan Akademik Universtias Djuanda Bogor dapat menjawab tantangan zaman dengan daya literasi tinggi melalui #Perpusatakaan dan #Buku sebagai kewajiban Iqra/membaca.

Terima Kasih.
Semoga bermanfaat..

 

#Iqro
#kembali ke perpustakaan
#ayo membaca

-----------------

Referensi

1. Shukla SS, Singh KAP, Mishra AK. “The Role of Libraries in Literacy and Education” Pre-Requisite For Education & Sustainable Development at All Levels of Education. IOSR J Humanit Soc Sci [Internet]. 2013 [cited 2018 Aug 9];14(5):35–40. Available from: http://www.iosrjournals.org/iosr-jhss/papers/Vol14-issue5/D01453540.pdf?id=6700

2.   Yang L. Orientation and Functions of Library in Quality Education of College. Int Educ Stud. 2011;Vol. 4(No. 2).