Webinar yang diselenggarakan tanggal 2 Oktober 2021 ini merupakan bagian dari kegiatan MBKM Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Ristekdikti) Republik Indonesia khususnya kegiatan Modul Nusantara. Enam dosen di Universitas Djuanda telah dipercaya menjadi pengampu program Modul Nusantara ini. Webinar Modul Nusantara ini merupakan kegiatan dari salah satu dosen di Universitas Djuanda, yaitu Dr. Agustina M. Purnomo.

Kegiatan Refleksi ini yang berjudul “Mengenal Keberagaman Sebagai Kekuatan Membangun Kebersamaan” yang dilaksanakan secara daring dengan Zoom Cloud Meetings dan bertujuan untuk merefleksikan nilai-nilai kearifan lokal, keragaman dan inklusifitas dari keberagaman yang ada di Indonesia. Keberagaman tersebut merupakan keberagaman agama, kepercayaan, ras, suku, golongan, bahasa dan kelompok yang ada di Indonesia. Kegiatan ini mengundang Drs. Denny Hernawan, M.A. sebagai narasumber. Beliau mengusung tema materi Keragaman sebagai Landasan Membangun Potensi Wisata, Pendidikan dan Kebersamaan dalam Masyarakat.  Melalui kegiatan ini diharapkan peserta mampu memahami keragaman sebagai landasan membangun potensi wisata, pendidikan dan kebersamaan dalam masyarakat.

Peserta webinar adalah mahasiswa yang berasal dari STKIP Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, Universitas Bandar Lampung,  Universitas Jambi, Universitas Mataram, Universitas Tadulako Palu, Universitas Islam Riau,  Universitas Kristen Indonesia Paulus Makasar,  Universitas Tanjungpura dan  Universitas Bengkulu.

Melalui kegiatan ini, Universitas Djuanda mengajak mahasiswa di seluruh Indonesia untuk dapat merefleksikan keragaman agama, kepercayaan, ras, suku, golongan, bahasa dan kelompok yang ada di tempat mereka berasal sebagai kekuatan untuk membangun potensi yang ada di sekitar mereka dalam konteks pembangunan daerah.

Kegiatan ini merupakan bentuk nyata kemerdekaan mahasiswa untuk belajar dari dan antar kampus yang beragam di nusantara. Mahasiswa dapat memilih tempat belajar di luar kampusnya untuk memperkaya pengetahuan dan pemahaman akan keragaman budaya, kearifan lokal yang pada akhirnya membangun inklusifitas dalam cara pandang terhadap dirinya sendiri, budaya asal mereka dan keragaman budaya di nusantara. Mahasiswa dapat menjadi agen cendekia yang tidak hanya cerdas secara keilmuan namun juga cerdas dalam menyikapi kebragaman.

Dekan FISIP UNIDA Bogor, Drs. Denny Hernawan, MA. dalam sambutannya menyatakan bahwa sesuai dengan judulnya yaitu Mengenal Keberagaman Sebagai Kekuatan Membangun Kebersamaan yang membahas mengenai keberagaman sebagai kekuatan membangun kebersamaan dan ini merupakan pemikiran yang reflektif dan sebelum pada kegiatan kali ini, peserta sudah melaksanakan dua kegiatan yang pertama peserta menggambarkan keberagaman di daerah masing-masing kemudian kegiatan yang kedua yaitu kunjungan ke Kebun Raya Bogor secara virtual dikarenakan masih pada kondisi pandemic COVID-19.

“Digali dari pertemuan kali ini kita mencoba mengetahui sejauh mana pemahaman para peserta mengenai masalah keberagaman ini berdasarkan pada dua kali pertemuan sebelumnya yang sudah dua kali dilakukan.  Agar ada gambaran maka diharapkan ada umpan balik dari peserta terkait masalah keberagaman ini dengan cara para peserta mengutarakan pendapat dan pemikirannya,” tutur Drs. Denny Hernawan, MA.

Peserta dari Universitas Bandar Lampung (UBL), Dita Putri Handayani memaparkan bahwa setelah dua kali pertemuan, para peserta dapat mengetahui bahwa di daerah lain itu kebudayaannya seperti apa dan kita mengetahui secara detail suku-sukunya dan bahasa-bahasanya.

“Di Daerah saya yaitu Lampung, keberagamannya itu ada tempat pariwisata Kebun Binatang yang terkenal dengan penangkaran Gajah Lampung dan di Lampung itu terkenal dengan baju daerahnya yaitu siger yang ada di kepala yang sangat identik dengan lampung. Jika melihat kegiatan kedua yaitu kunjungan ke Kebun Raya Bogor secara virtual, saya jadi tahu bahwa banyak tanaman yang langka di Kebun Raya Bogor sehingga dapat dijadikan penelitian-penelitian oleh mahasiswa Indonesia,” ungkap Dita Putri Handayani.

Peserta dari Universitas Bina Bangsa Getsempena Aceh, Budiaman menyatakan dalam paparannya bahwa jika mendengar nama Aceh maka semua orang akan tahu bagaimana pariwisata, kuliner dan adat-istiadatnya yang dimana tarian adat-istiadatnya sudah diakui oleh dunia seperti tarian Saman yang sudah menjadi juara dunia dan sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan dunia di Meksiko.

“Jika perihal makanan ada Mie Aceh yang sudah menyebarluas di Indonesia dan uniknya sebagian besar orang yang masuk ke Aceh adalah Muslim akan tetapi jika Non-Muslim maka akan diberikan pemahaman dan himbauan untuk tetap mengenakan pakaian yang sesuai dengan ajaran agama Islam yang pada intinya harus sopan,” tutur Budiaman.