Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor selenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang bertemakan "Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Tauhid dengan Pendekatan Perencanaan Strategis" diselenggarakan di Gedung A Universitas Djuanda Bogor (5/9). Acara ini diisi oleh 4 narasumber, yang pertema yaitu Dr. Amir Mahrudin, M.Pd.I. selaku Direktur LP2T Universitas Djuanda Bogor, kedua yaitu Zahra Khusnul Latifah, M.Pd. selaku pengasuh Ponpes Bina Tauhid dan Dekan FKIP Universitas Djuanda Bogor, ketiga yaitu M. Rendi Ramdhani, M.Pd. selaku pengelola MI Al-Khoeriyah dan yang keempat yaitu Erlina, M.Pd. selaku Waka. Kurikulum SDIT Amaliah.

Acara ini merupakan rangkaian dari penelitian dengan judul  “Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Tauhid dengan Pendekatan Strategis"  yang diketuai oleh Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, S.Pd.I., M.Pd.I. dan anggota peneliti Novi Maryani M.Pd.I. dan menyelenggarakan penelitian merupakan kewajiban bagi setiap dosen di UNIDA Bogor dibawah bimbingan dan arahan Direktorat Riset dan Pengabdian pada Masyarakat (DPRM) Universitas Djuanda Bogor.

FGD ini diharapkan mampu memberikan masukan dan rumusan untuk model pendidikan karakter tauhid dan Penelitian ini juga bertujuan memberikan kontribusi pada  pendidikan karakter di era industri 4.0. Seperti yang disampaikan Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, S.Pd.I., M.Pd.I. dalam sambutannya.

“Melalui FGD ini diharapakan dapat memberikan masukan dan rumusan untuk model pendidikan karakter berbasis Tauhid dengan melibatkan para kepala sekolah dan guru-guru SD sebagai praktisi pendidikan sebagai peserta FGD diharapkan dapat memperkaya ilmu dan pengetahuan serta pengalaman yang menjadi bahan rumusan pengembangan model pendidiman karakter berbasis tauhid. Melalui penelitian ini juga diharapkan diusulkan model pendidikan karakter berbasis Tauhid untuk kemudian di ujicobakan pada penelitian senjautnya dan Penelitian ini juga bertujuan memberikan kontribusi pada  pendidikan karakter di era industri 4.0.,” ungkap Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, S.Pd.I., M.Pd.I.

Acara ini membahas perihal pentingnya pendidikan karakter berbasis tauhid dan akhlak harus lebih diutamakan. Tauhid adalah suatu paradigma yang berdasarkan pada Allah SWT dan pendidikan karakter tauhid merupakan pendidikan yang sangat penting bagi siswa. Seperti yang disampaikan oleh Dr. Amir Mahrudin, M.Pd.I. selaku Direktur LP2T dalam penyampaian materinya.

“Tauhid adalah paradigma, yaitu cara pandang terhadap segala sesuatu yang berbasis pada Allah SWT sebagai sumber dari segala sumber keilmuan dan pendidikan karakter tauhid yaitu tauhid dijadikan aksiologis atau nilai-nilai dalam menjalankan karakter , sehingga lahir dari dirinya suatu tindakan secara otomatis yang berkesadaran tinggi dan tidak memerlukan pertimbangan dan pemikiran lagi.” Tutur Dr. Amir Mahrudin, M.Pd.I.

Zahra Khusnul Latifah, M.Pd.I. dalam penyampaian materinya menyampaikan bahwa Pendidikan karakter berbasis tauhid sangat dibutuhkan untuk mencetak siswa dan pendidikan karakter ini memiliki model.

“Pendidikan karakter sangat dibutuhkan dalam proses pendidikan terutama karakter tauhid dimana diharapkan tidak ada lagi tercipta orang-orang yang pintar tapi tidak didukung dengan akhlak karena pada dasarnya akhlak sangat penting untuk manusia dan model pendidikan ini dibentuk oleh pengondisian dan pembiasaan sehingga terbentuklah kebiasaan,”

Sedangkan Erlina, M.Pd. menyampaikan materi bahwa dengan pendidikan karakter berbasis tauhid ini akan banyak memberikan manfaat pada siswa. “Pendidikan karakter berbasis tauhid ini tentunya memberikan banyak manfaat tentunya dalam karakter tauhid ada siddiq yang menjadikan siswa untuk jujur, ikhlas dan religious. Amanah menjadikan siswa gigih, disiplin, bersih dan bertanggung jawab. Tabligh menjadikan siswa peduli, demokratis, gotong royong dan suka membantu serta fathonah yang menjadikan siswa bervisi, cerdas, kreatif dan terbuka,” tuturnya.

Sebagai pemateri penutup, M. Rendi Ramdhani, M.Pd. menyampaikan peran guru atau pendidik dalam proses pembelajaran. “Pendidik itu berperan dalam meperhatikan keunikan siswa, menciptakan lingkungan belajar, menerapkan metode pembelajaran, menjelaskan nilai yang baik dan yang buruk, melakukan refleksi, meberikan pemahaman, menjadi model bagi siswa dan harus terlibat dalam proses pembelajaran itu sendiri,” pungkasnya.