Dalam rangka kegiatan Kuliah Kerja Nyata berbasis Adaptasi Kebiasaan Baru (KKN AKB), Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Djuanda Bogor mengadakan website seminar melalui media virtual zoom meeting pada Selasa, 18 Agustus 2020.

Sejalan dengan momentum memperingati hari kemerdekaan ke-75 Republik Indonesia, tema yang diangkat bertajuk “Menumbuhkan Karakter Patriotik dan Cinta Tanah Air Sejak Dini Cara Bijak Menyelamatkan Generasi” dengan mengundang Dr. Hj. Rd. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I selaku ketua umum YPSPIAI sebagai keynote speaker serta mengundang R. Djuniarsono, SH selaku Ketua Pendidikan Dasar Menengah YPSPIAI yang merupakan Purna Paskibra Nasional RI  sebagai narasumber.

Ketua pelaksana kegiatan, Firmansyah, mengatakan bahwa tujuan dari diselenggarakannya webinar dengan tema menumbuhkan karakter patriotik dan cinta tanah air tersebut yaitu memberikan pengetahuan kepada khalayak ramai untuk lebih bijak mendidik anak terutama di era modern seperti sekarang ini. Perlu adanya edukasi tidak hanya khusus bagi pendidik atau guru, melainkan bagi semua untuk menanamkan karakter terpuji sejak dini pada anak.

“Anak adalah generasi emas yang harus diberikan pendidikan yang layak, tidak hanya oleh guru saja, lebih dari itu orang tua harus mendidik anak dengan baik di rumah. Maka dalam momentum peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-75 ini, kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama memberikan pendidikan terbaik bagi putra-putri bangsa agar tidak terjerumus pada pergaulan yang salah. Dan kami pula mengajak seluruh pihak untuk menyelamatkan generasi dari ancaman perubahan zaman yang mengarahkan anak pada perilaku yang kurang baik,” tuturnya.

Rangkaian acara dimulai dengan penyampaian materi dari Dr. Hj. R Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I yang menyampaikan mengenai “Karakter Cinta Tanah Air”. Dalam pemaparan materinya tersebut, Dr. Hj. R Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I menjelaskan bahwa cinta tanah air harus menjadi karakter yang diciptakan, ditumbuh kembangkan, disiram, dan dijaga oleh diri kita sendiri. Adapun unsur-unsur cinta yang harus tertanamam dalam iri kita yaitu emosi, kasih sayang, pengorbanan, empati, patuh, dan mau untuk melakukan apapun.

“Karakter cinta tanah air ini harus diterapkan sejak dini dalam diri seorang anak, melalui uswah (contoh) yang baik untuk anak terutama orang tua dan guru yang selalu menjadi figur utama dalam pembentukan karakter anak, ataupun menceritakan tokoh yang memiliki uswah yang baik untuk anak. Setelah anak mendapatkan uswah atau contoh lalu mulai diterapkan pada diri anak dan jadikan sebagai pembiasaan agar melekat pada diri seorang anak. Setelah itu praktekan dalam lingungan sehari-hari lalu sampaikan kepada orang lain, maka akan menjadi sebuah nilai yang tumbuh dalam kehidupan kita,” paparnya.

Lanjut pada materi kedua yang disampaikan oleh R. Djuniarsono, SH yaitu mengenai “Saya Indonesia” dengan tujuan yaitu untuk mengindonesiakan anak Indonesia. Sebagai orang pribumi maka sudah selayaknya kita untuk lebih mencintai tanah air, tempat dimana kita tinggal dan merasakan kasih sayang dari keluarga. Namun, yang terjadi saat ini adalah semakin memudarnya rasa cinta akan tanah air, budaya barat begitu mendominasi setiap ranah dalam kehidupan saat ini, sehingga sedikit demi sedikit terjadi pergeseran budaya.

“Untuk memaknai cinta tanah air bisa melalui, menjunjung tinggi budaya Indonesia yang sangat kaya ini, menghargai budaya yang ada dilingkungan setempat, menceritakan sejarah Indonsia agar anak lebih menghargai jasa para pahlawan yang rela berkorban untuk negara tercinta ini, berbakti kepada ke dua orng tua, menghomati guru, dan memakai produk asli Indonesia,” ujarnya.

Mencintai tanah air memang tidak dapat hanya melalui teori saja, terlebih dari itu harus adanya aksi dimulai dari hal yang terkecil dalam diri kita terlebih dahulu. Ada sebuah pesan mengenai kemerdekaan Indonesia, 3 hal yang tidak boleh dilupakan mengenai angka 17 yaitu 17 rakaat shalat yang harus dilakukan setiap hari sebagai bukti ketaatan kepada Allah, 17 Ramadhan sebagai bukti turunnya kitab suci Al-Qur’an, dan 17 Agustus sebagai bukti kemerdekaan negara kita tercinta yaitu Indonesia.

Adapun dalam webinar ini diikuti oleh peserta dari berbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Djuanda Bogor, Universitas Duta Bangsa Surakarta, Universitas Mercu Buana, Institut Agama Islam Negri (IAIN) Pekalongan dan juga Pondok Pesantren Mahasiswa Bina Tauhid baik dari kalangan dosen ataupun mahasiswa.

Tidak hanya itu, webinar ini juga diikuti oleh beberapa Kepala Sekolah, Guru dan juga siswa dari berbagai sekolah seperti SD Amaliah Ciawi, SDN Klikiran Brebes, MTs Negeri 1 Banyumas, MAS Terpadu DURI serta SMK Amaliah Ciawi dengan keseluruhan jumlah peserta 110 orang.

Dalam kesempatan ini turut hadir Ketua Pembina YPSPIAI sekaligus Chancelor UNIDA Bogor, Dr. H. Martin Roestamy, S.H, M.H., yang memberikan banyak wawasan dan pengetahuan.