Sentra Kekayaan Intelektual (SKI) Universitas Djunda (UNIDA) Bogor selenggarakan Webinar Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang bertajuk “Pentingnya Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Terhadap Karya Inovasi, Kreasi Pelajar dan Mahasiswa” melalui aplikasi Zoom Meeting (18/02). Kegiatan ini diisi oleh 3 narasumber, yang pertama Wakil Rektor III UNIDA Bogor, Ir. Himmatul Miftah, M.Si, Kepala Bagian Pelayanan HKI SKI UNIDA Bogor, Ibnu Fadilah, SE, dan Pemenang Kompetemsi Bisnis Mahasiswa Indonesia (KBMI) dan Pemenang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), Nida Fitriasari, SP.

Rektor UNIDA Bogor, Dr. Ir. Dede Kardaya dalam penyampaian sambutannya menyatakan HKI merupakan hal yang sangat penting saat ini dan sangat perlu dikembangkan dan perlu dilakukan untuk melindungi hak hokum dari pencipta, hasil karya cipta dan nilai ekonomisnya. Webinar ini merupakan agenda dari SKI UNIDA Bogor dalam hal ini untuk meningkatkan kesadaran kita perihal pentingnya perlindungan Kekayaan Intelektual hasil inovasi dan kreasi mahasiswa UNIDA Bogor dan masyarakat tentunya.

“Kegiatan ini diharapkan dapat membangun kepercayaan dan pemahaman dan kemampuan pengelolaan HKI terutama dalam tahap perlindungan hukum sehingga mahasiswa dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan universitas, kedepannya diharapkan dapat memperoleh manfaat yang lebih besar mengenai manfaat HKI dan bagaimana cara mendaftar HKI terutama melalui SKI UNIDA Bogor,” tutur Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si.

Kepala Biro SKI UNIDA Bogor, Sudrajat, S.I.Kom. dalam pemaparan sambutannya menyatakan webinar ini untuk meningkatkan pemahaman mengenai perlindungan Hak Kekayaan Intelektual.

“Adapun peserta webinar yang telah mendaftarkan diri menjadi peserta tercatat berjumlah 200 orang, yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, dosen serta perwakilan beberapa perguruan tinggi baik dari dalam maupun dari luar Jawa Barat,” ungkap Sudrajat,S.I.Kom.

Wakil Rektor III UNIDA Bogor, Ir. Himmatul Miftah, M.Si. dalam pemaparan meterinya yang berjudul Mengelola Inovasi, Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Komersialisasi menjelaskan bahwa HKI adalah hasil dari olah piker otak manusia yang dapat menghasilkan suatu proses, produk atau jasa yang berguna bagi manusia dan alasan mengapa sumber daya Kekayaan Intelektual menjadi kunci ketahanan ekonomi suatu negara maju, karena perputaran perekonomian dikuasai oleh intangible assets atau harta benda bergerak tak berwujud seperti Kekayaan Intelektual sampai 70% oleh karena itu HKI sangat penting untuk dikembangkan.

“Banyak kasus pembajakan HKI milik Indonesia oleh negara lain seperti Batik, Tari Pendet, Wayang dan Reog. Banyak juga kasus pembajakan hasil ciptaan seperti pembajakan perangkat lunak komputer, lagu, film, barang merk terkenal, furniture, sepatu serta minuman.  Dengan HKI jadilah yang pertama, jadilah yang berbeda dan jadilah yang terbaik. Contoh dari HKI diantaranya yaitu Hak Cipta, Merek, Indikasi Geografis, Desain Industri, Tata Letak Sirkit Terpadu, Rahasia Dagang, Perlindungan Varietas Tanaman dan Paten. Di UNIDA Bogor selalu melakukan pengembangan inovasi dan HKI, unit pengembangan inovasi di UNIDA Bogor terdiri dari 6 unit diantaranya yang pertama laboratorium. Kedua program studi yang menjadi penggerak dosen untuk berinovasi dalam riset yang dilakukan. Ketiga Direktorat Kemahasiswaan dimana mendorong mahasiswa untuk berinovasi melalui Inovasi Bisnis, Kewirausahaan Mahasiswa dan Komptensi Bisnis Mahasiswa Indonesia. Keempat unit Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubator Bisnis. Kelima Sentra Kekayaan Intelektual (SKI) dan keenam Komunitas Rumah Usaha Mahasiswa,” tutur Ir. Himmatul Miftah, M.Si.

Kepala Bagian Pelayanan HKI UNIDA Bogor, Ibnu Fadilah, SE. dalam pemaparan materinya menyampaikan bahwa Kekayaan Intelektual (KI) atau Intellectual Property (IP) dalam pengertian yang luas dapat diartikan sebagai sekumpulan hak-hak hukum yang dihasilkan dari aktivitas intelektual di bidang industri, karya ilmiah, sastra dan seni dan jenis-jenis HKI.

“Hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif/pengumuman atas karyanya di bidang seni, literatur, dan ilmu pengetahuan. Hak Cipta merupakan salah satu bagian dari kekayaan intelektual yang memiliki ruang lingkup objek dilindungi paling luas, karena mencakup ilmu pengetahuan, seni dan sastra (art and literary) yang di dalamnya mencakup pula program computer, ada pun contoh sukses dari Hak Cipta diataranya Novel Laskar Pelangi, Walt Disney, Bimbo, Microsoft dan Novel Harry Potter. Selanjutnya Paten, Paten adalah Hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya. Paten terdiri dari dua bagian yaitu Paten biasa yang dimana Paten diberikan untuk jangka waktu selama 20 tahun sejak tanggal penerimaan permohonan Paten dan Paten sederhana Paten dimana Paten Sederhana diberikan untuk jangka waktu 10 tahun sejak tanggal penerimaan permohonan Paten sederhana. Dan contoh sukses dari Paten yaitu Hak Paten Kiranti oleh Prof. Dr. Sidik, Apt.” tuturnya.

Selanjutnya jenis HKI yang disebut Merek, dimana Merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf, angka, susunan warna, dalam bentuk 2 (dua) dimensi dan/atau 3 {tiga) dimensi, suara, hologram, atau kombinasi dari 2 atau lebih unsur tersebut untuk membedakan barang atau jasa yang diproduksi oleh orang atau badan hukum dalam kegiatan perdagangan barang atau jasa. Merek terdaftar mendapatkan perlindungan hukum untuk jangka waktu 10 tahun sejak tanggal penerimaan permohonan pendaftaran Merek yang bersangkutan dan jangka waktu perlindungan itu dapat diperpanjang. Dan Contoh dari sukses dibidang Merek diantaranya Kebab Turky Baba Rafi, Restoran Sederhana Bustamam serta Mc Donald’s. ungkap Ibnu Fadilah, SE.

Pemenang KBMI dan PKM, Nida Fitriasari, SP. Dalam paparan materinya yang berjudul Manfaat Hak Kekayaan Intelektual menyatakan bahwa banyak manfaat yang didapatkan dari HKI diantaranya HKI sebagai perlindungan hukum kepada pencipta karya.

“Mencegah adanya kemungkinan pelanggaran HKI milik orang lain, Meningkatkan kompetisi  dan memperluas pangsa pasar, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan strategi penelitian, industri, dan usaha di Indonesia, mendapatkan citra positif di mata konsumen maupun investor dan pemilik HKI dapat memberikan izin atau lisensi kepada pihak,” pungkas Nida Fitriasari, SP.