Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor bersama Pemkab Bogor gandeng Komunitas Siber Indonesia selenggarakan Webinar Nasional yang bertajuk “Meningkatkan Kewaspadaan Nasional dalam Menghadapi Ancaman Siber” secara daring menggunakan aplikasi Zoom Cloud Meetings. Webinar nasional tersebut akan dilaksanakan selama enam sesi dari tanggal 23 Mei hingga 3 Juni 2022. Pembukaan dan sesi pertama dilaksanakan  pada Senin, 23 Mei 2022 menghadirkan welcome speech Bapak Prof. Dr. Suhaidi, S.H., M.H. (Rektor Universitas Djuanda) dan Bapak Iwan Setiawan, S.E. (Plt. Bupati Kabupaten Bogor) yang diwakili oleh Kabid. Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Bakesbangpol Kabupaten Bogor, Asep Nurdin, S.Sos., MA. Keynote speech acara pembukaan adalah Eko Daryanto, S.E., M.Si, Dosen Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia.

Wbinar mengahdirkan sepuluh narasumber yang diantaranya adalah: 1) Semy Yulianto, SE., M.Kom (PT. Systech Global Informasi (SGI) Asia); 2) Pendiri dan Ketua Indonesia Cyber Security dan Ceo PT. Indonesia; 3) Satriya Wibowo, S.T., MBA., MH. (Sekretaris Indonesia Cyber Security Forum); 4) Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi (CISSReC); 5) Dendi Zuckergates (Founder OSIN); 6) Huyugo Simbolang (OSIN Bandung); 7) Restia Moegiono (Praktisi Siber); 8) Aril Andara (Praktisi Siber Indonesia); 9) T.R.a.k.a Kaselektronton, MCTNA., MCTRE., GCFA., GCFE (Praktisi Siber/OSIN); dan 10) Debbie Sutrisno (Jurnalis IDNTimes).

Kabid. Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik Bakesbangpol Kabupaten Bogor, Asep Nurdin, S.Sos., MA dalam paparan sambutannya menyampaikan bahwa tentu sekarang saat ini penduduk dunia termasuk Indonesia tidak bisa lepas dari penggunaan IT karena itu Webinar nasional ini menjadi sangat perlu untuk dilaksanakan. Perkembangan teknologi memiliki dua sisi, sisi satu sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dalam berbagai aspek, akan tetapi di sisi lain membawa ancaman seperti cyber crime dengan berbagai jenis ancaman lain. Banyak sekali kejahatan siber yang telah terjadi di masyarakat seperti kobocoran data, penipuan, pinjaman online dan kejahatan siber lainnya. Kejahatan siber ini harus dianggap serius dan cyber security dan harus dipahami oleh berbagai kalangan.

“Upaya Pemerintah Kabupaten Bogor mengenai ancaman siber yaitu menerbitkan peraturan persandian untuk keamanan, peraturan keamanan komputer, pengamanan data center dan berbagai upaya lainnya. Maraknya kejahatan siber menuntut masyarakat dan pemerintah untuk terus berupaya meningkatkan keamanan siber agar terhindar dari kejahatan siber yang tentu sangat membahayakan. Kami mengajak masyarakat untuk selalu meningkatkan pengetahuan mengenai cyber security dan memanfaatkan internet dengan baik, kreatif dan positif. Diharapkan kegiatan ini berdampak bagi pengembangan keamanan siber sehingga dapat dilaksanakan secara rutin tiap tahun,” tutur Asep Nurdin, S.Sos., MA.

Selanjutnya Rektor UNIDA Bogor, Prof. Dr. Suhaidi, SH., MH. dalam sambutannya menyampaikan bahwa webinar nasional ini sangat penting dikarenakan cyber crime terus meningkat dari tahun ke tahun dengan jenis yang variasi yang tentunya menggunakan teknologi komputer dan jaringan internet. Apabila diamati banyak bentuk cyber crime seperti kejahatan fisik, serangan virus komputer, penipuan, pencurian data seseorang, peretasan dan sebagainya, kejahatan siber ini tentu memberikan ancaman serius baik kepada perorangan maupun negara oleh karena itu diperlukan cyber security untuk melindungi dari kejahatan siber.

“Bagi UNIDA Bogor kegiatan ini salah satu pengejawantahan Pancadharma UNIDA yang selalu kita giatkan bersama. Kegiatan ini atas kerjasama berbagai pihak oleh karena itu diharapkan ke depannya kerjasama seperti ini dapat dilanjutkan dan dikembangkan. Diharapkan kegiatan ini dapat memberikan kontribusi pemikiran mengenai ancaman kehajatan siber karena diisi oleh para ahli dalam hal kejahatan siber maupun keamanan siber. Kegiatan ini diharapkan memberikan manfaat bagi bangsa, negara dan masyarakat,” tutur Prof. Dr. Suhaidi, SH., MH.

Pada kesempatan yang sama, Dosen Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, Eko Daryanto, S.E., M.Si dalam paparan materinya menyatakan bahwa pada saat ini perkembangan tekonologi termasuk dalam perkembangan teknologi perang. Saat ini sudah masuk kepada masa 4.0 yang sudah dikenal dengan tekonologinya yang serba mudah yang mungkin sudah dirasakan oleh semua dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam hal ini banyak negara yang menggunakan teknologi untuk cyber intelegent untuk menguasai sebuah negara yang tentunya ini sangat berbahaya. Pada saat ini sangat masuk akal jika dalam perang meraih kemenangan dilakukan tanpa pertempuran. Perang sudah masuk kepada perang informasi yang tentunya menggunakan perkembangan teknologi. Selain itu juga perang kebudayaan yang di mana sebuah negara akan lemah hanya karena sebuah persepsi dan negara akan dianggap lemah jika tekonologinya tidak berkembang. Alasan mengapa ruang siber harus dikuasai oleh negara termasuk Indonesia karena penguatan informasi menjadi kunci kemenangan dalam era kompetisi global. Aktor negara maupun aktor non negara berlomba untuk menguasai ruang siber dan ruang siber juga merupakan ancaman baik militer maupun non militer. Setiap entitas ingin menguasai ruang siber untuk menguasai informasi karena jika informasi diolah maka akan menjadi sebuah kekuatan.

“Pada era teknologi IT 4.0 berimplikasi pada empat fenomena pada aspek pertahanan yang perlu kita cermati bersama yaitu evolusi industri 4.0 menuju 6.0 pada tahun 2026, terbentuknya teater perang siber dengan konsep pertahanan siber, ancaman siber berevolusi menjadi ancaman militer atau konvensional (perang generasi ke-5) dan evolusi menuju era transformasi digital berbasis Internet of Things. Kita juga perlu mengidentifikasi, mendefinisikan dan memetakan pola, berdasarkan ancaman siber diantaranya ancaman fisik atau infrastruktur berupa ancaman virus, malware, DDOS, Bruteforce, Phising DSB dan untuk ancaman non fisik diantaranya berupa perang informasi, hoax, framing untuk merubah pola pikir. Oleh karena itu ancaman siber perlu diantisipasi tentunya dengan mengembangkan dan mempelajari mengenai kejahatan siber dan keamanan siber,” ungkap Eko Daryanto, S.E., M.Si.