Desa Cikarawang dikenal sebagai desa yang subur, memiliki potensi penghasil sumber pangan beras, ubi jalar dan singkong.  Singkong kurang diminati masyarakat desa karena produktivitasnya, rendah, harga fluktuatif, pada saat panen raya harga realatif murah.  Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (DPPM) Universitas Djuanda, mencoba mengkaji permasalahan singkong di desa Cikarawang guna memperbaiki dan meningkatkan produktivitas hasil pertanian, serta meningkatkan nilai tambah dari produk singkong segar.  Melalui program Hibah DPTM Kemenristek Dikti, LPPM Unida mendapat kepercayaan dari Kemenristek DIKTI untuk menjalankan program tersebut di Desa Cikarawang, di Gabungan Kelompok Tani Mandiri Jaya Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor. Pada waktu dilakukan Forum Grup Diskusi (FGD), banyak sekali masukan dari wakil aparat Desa, anggota kelopok Tani Hurip dan Anggota Kelompok Wanita Melati.  Masukan tentang masalah singkong, antara lain rendahnya produktivitas singkong yang hasilnya kurang dari 20 ton/ha.  Hal ini terjadi karena rendahnya pengetahuan dalam budidaya singkong yang baik dan benar, tidak dilakukan pengolahan tanah yang baik, tidak atau jarang menggunakan pupuk organic atau pupuk kimia sintetik.  Tidak ada perawatan khusus untuk mengatasi gulma.  Disamping itu, masyarakat belum tahu bagimana cara meningkatkan nilai tambah dari hasil panen singkong segar menjadi bahan antara seperti aci atau tepung Mocaf, serta belum tahu cara memanfaatkan produk antara menjadi olahan pangan yang menguntungkan atau mempunyai prospek pasar.  Dari aspek manajemen usaha tani, walaupun tergabung dalam Gapoktan, kebanyakan para petani masih bekerja sendiri-sendiri terutama dalam pemasaran, tergantung kepada para tengkulak, yang berdampak harganya sering dipermainkan, dengan harga relatih murah. Pada akhir bulan September 2018, dilakukan pelaksanaan program DPTM di Desa Cikarawang Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor, yang dihadiri lebih dari 50 orang, dari anggota kelompok tani Hurip, kelompok wanita tani (KWT) Melati yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani Mandiri Jaya.  Juga dihadiri oleh anggota masyarakat, mahasiswa Agroteknologi Unida, beberapa petani di Leuwiliang dan khususnya bapak Arif sebagai staf ahli Bapak Primus Yustisio anggota DPR RI. Menurut Direktur DPPM Ginung Pratidina, Unida mempunyai visi sebagai universitas Riset, selalu berusaha melakukan riset yang berorientasi pada potensi dan kebutuhan masyarakat, sehingga melalui kegiatan Diseminasi Penerapan Teknologi bagi Masyarakat akan mendorong dan membangun potensi unggulan daerah sehingga mampu meningkatkan daya saing dalam bidang ekonomi dan sumber daya manusia. Kegiatan penyuluhan dimulai dengan pemberian motivasi kepada para peserta agar mempunyai karakter yang selalu termotivasi untuk meraih cita-citanya menjadi seorang petani yang sukses, mempunyai jiwa yang tangguh dan tekun dalam bekerja, berfikir cerdas, mkreatif dan inovatif serta berintegritas tinggi dalam menjalankan usaha taninya.  Menurut pak Ahmat Bastari sebagai Ketua Gapoktan Mandiri Jaya, motivasi tersebut sangat bermanfaat sekali, karena selain untuk suskses hidup di dunia, juga didorong agar mampu berbagi kepada sesama manusia khusus bagi para petani dalam bentuk ilmu maupun harta sebagai bekal untuk kehidupan akhirat kelak. Pada praktik pembuatan tepung Mocaf, dimulai dari singkong segar dikupas, lalu dicuci bersih, selanjutnya diiris memakai mesin pengiris dengan motor pengerak bensin, selanjutnya di fermentasi menggunakan jamur Saccharomyces yang banyak dijual dipasar atau took kue.  Setelah kurang lebih tiga hari lalu dicuci bersih, ditiriskan menggunakan mesin peniris, selanjutnya dikering oven suhu 50 oC otomatis.  Setelah kering, digiling menggunakan mesin penepung diskmill, selanjutnya diayak, jadilah tepung mocaf.  Menurut Nur Rochman, sebagai ketua pelaksana program DTPM, tepung mocaf mempunyai kualitas lebih baik daripada aci singkong, karena mengandung protein, mengandung serat kasar lebih tinggi, menghasilkan rendemen yang tinggi dibandingkan pada pembuatan aci dan cocok untuk bahan adonan aneka kue, rempeyek atau kembang goyang lebih tinggi. Diakhir pelatihan, bapak Arif sebagai staf ahli Primus menjelaskan bahwa sinergisitas antara anggota DPR, petani dan perguruan tinggi perlu terus ditumbuhkembangkan agar proses pembangunan ekonomi masyarakat sesuai dengan potensi unggulan daerah dan didorong hasil riset dari perguruan tinggi Universitas Djuanda Bogor, sehingga mempercepat proses pembangunan ekonomi dan sumber daya manusia yang berdasarkan ilmu, amal dan taqwa, sehingga mampu mewujudkan OVOP, one village one product di Kabupaten Bogor.