WEBINAR HKI “Pelindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Sebagai Jaminan Hukum Bagi Peneliti, Pelaku usaha dan Karya Inovasi, Kreasi Pelajar dan Mahasiswa ”,

WEBINAR HKI “Pelindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Sebagai Jaminan Hukum Bagi Peneliti, Pelaku usaha dan Karya Inovasi, Kreasi Pelajar dan Mahasiswa ”,

Blog Single

Eksistensi teknologi yang berkembang begitu pesat menandakan adanya pergerakan menuju era digital. Dibuktikan dengan pemanfaatan teknologi informasi yang menjangkau berbagai aspek kehidupan. Dalam teknologi informasi dihasilkan berbagai macam produk yang menunjang kegiatan manusia. Adapun dalam pemanfaatan teknologi informasi diperlukan proteksi secara yuridis, salah satunya hak kekayaan intelektual yang harus terjamin. Terkait dengan Kekayaan Intelektual, Indonesia sebenarnya sudah sangat mengakui keberadaannya supaya dijaga dan dilindungi. Namun, dalam kondisi pandemi saat ini, jelas diperlukan penyesuaian dan pemahaman khusus terkait perlindungan hukum atas kekayaan intelektual sebagai bentuk dukungan terhadap pemanfaatan teknologi informasi. Indonesia telah meratifikasi perjanjian WTO berdasarkan Undang-Undang No.  7 Tahun       1994       tentang       Pengesahan Agreement Establishing the World Trade Organization dan    telah    menyesuaikan peraturan di bidang HKI sebagai bentuk perlindungan     hukum     sesuai     dengan kesepakatan    perjanjian    WTO.    Sebagai konsekuensinya,  peraturan  di  bidang  HKI khususnya  dalam  penyelesaian  sengketa, harus        pula        disesuaikan        dengan kesepakatan  tersebut.  Namun  masalahnya kita   tidak   punya   pengadilan   yang   bisa menyelesaikan   sengketa   dengan   cepat, sederhana     dan     murah,     sebagaimana disyaratkan  dalam  perjanjian  tersebut  di atas.   Sudah   tidak   rahasia   lagi   bahwa berperkara   di   pengadilan   sangat   rumit dengan   penyelesaian   waktu   yang   lama disertai biaya yang mahal. Pengaturan  penyelesaian  sengketa  HKI melalui     peradilan     SCC     berdasarkan perintah  Pasal    41  dan  Pasal  42  TRIPs, telah      diimplementasikan      pemerintah Indonesia  dalam  Perundang-undangan  di bidang    Hak    Cipta,    Rahasia    Dagang, Desain Industri, Paten, Merek. Kecuali UU Perlindungan Varietas Tanaman (UUPVT) dan     UU     Rahasia     Dagang,     dimana penyelesaian          sengketanya          lewat Pengadilan    Negeri.    Dalam    ketentuan tersebut telah diatur limit waktu pengajuan gugatan   hingga   putusan   hakim   dengan waktu    paling    lama    6  (enam)    bulan. Namun, karena pengadilan niaga lokasinya hanya  ada  di  Jakarta,  Surabaya,  Medan dan     Makassar.     Maka     kemungkinan penyelesaian  sengketa  dengan  SCC  tidak tercapai malah menjadi mahal dan lama.Karakteristik     perlindungan     hukum penyelesaian perkara HKI berbeda dengan tata  cara  penyelesaian  sengketa  sederhana yang  diatur  dalam  Perma  No.  2  Tahun 2015 yang  objek  sengketanya  terdiri  dari perkara      wanprestasi      dan      perbuatan melawan  hukum.  Sengketa HKI ada  yang sifatnya     perbuatan     melawan     hukum dengan tuntutan ganti rugi. Tetapi ada juga berupa   sengketa   administratif   meliputi sengketa    pembatalan    atas    HKI    yang terdaftar, keberatan atas keputusan Komisi Banding,      sengketa      keberatan      akan penghapusan    pendaftaran    Merek    atas prakarsa      Dirjen      KI,      penghapusan pendaftaran   merek   atas   prakarsa   oleh pihak ketiga, dan penetapan sementara.Peradilan      yang      ditunjuk      untuk menyelesaikan sengketa HKI dengan SCC adalah  Pengadilan  Niaga  sesuai  Pasal  300 Undang-Undang    No.    37    Tahun    2004 tentang      Kepailitan      dan      Penundaan Kewajiban   Pembayaran   Utang.   Namun dengan terbitnya Perma No. 2 Tahun 2015 sebagaimana   ditentukan   dalam   Pasal   3 ayat (2) a seolah-olah sengketa HKI bukan sebagai     objek     perara     yang     dapat menggunakan     tata     cara     penyelesaian sederhana.

Related Posts: