Fakultas Hukum (FH) Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor selenggarakan Webinar Nasional “Legal Policy Minuman Beralkohol di Indonesia” dalam rangka Milad ke-34 UNIDA Bogor yang digelar secara daring menggunakan aplikasi Zoom Cloud Meetings dan live streaming via Youtube (24/4).

Webinar ini diisi oleh Chancellor UNIDA Bogor, Dr. H. Martin Roestamy, SH., MH. sebagai Keynote Speaker, Anggota DPD RI Fahira Idris, SE., MH, Dosen Magister Hukum UNIDA Bogor Dr. Bambang Widjojanto, SH., M.Sc, dan  Dosen Ilmu Penyakit Mulut dan Forensik UNPAD drg. Dewi Zakiawati, serta dimoderatori oleh Dr. Achmad Jaka Santos A, SH., LL.M.

Dekan FH UNIDA Bogor, Dr. Hj. Endeh Suhartini, SH., MH dalam sambutannya menyatakan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terkait dalam Webinar Nasional Legal Policy Minuman Beralkohol di Indonesia ini.

"Terima kasih kepada pimpinan UNIDA Bogor yang telah mendukung webinar nasional ini dan terima kasih kepada seluruh panitia yang telah meluangkan waktunya untuk mengadakan webinar nasional yang sangat bermanfaat ini serta terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung acara webinar nasional ini. Semoga webinar nasional ini dapat memberikan manfaat kepada peserta dan seluruh pihak yang terkait dengan webinar nasional ini," ungkap Dr. Hj. Endeh Suhartini, SH., MH.

Rektor UNIDA Bogor, Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si dalam sambutannya mengatakan bahwa webinar ini sangat menarik dalam bidang usaha penanaman modal minuman keras, walaupun sudah dicabut kembali tetapi secara legal belum ada perubahan mengenai peraturan minuman beralkohol tersebut dan semoga ini menjadi ladang usaha yang dapat memberikan masukan dalam peraturan tersebut karena dalam islam minuman keras merupakan dosa besar walaupun ada manfaatnya tetapi tetap saja lebih besar dosanya.

"Mudah-mudahan hasil webinar ini dapat memberikan alternatif-alternatif dan masukan-masukan terbaik mengenai peraturan minuman keras di Indonesia," tutur Dr. Ir. Dede Kardaya, M.S.

Chancellor UNIDA Bogor, Dr. H. Martin Roestamy, SH., MH dalam pemaparan materinya yang berjudul “Refleksi Negara Hukum Terkait Perlindungan Warga Negara Akibat Dampak Buruk Minol” bahwa pelegalan minuman keras di berbagai daerah di Indonesia mendapat penolakan sehingga peraturan tersebut harus direvisi oleh pemerintah.

Minuman beralkohol adalah induk dari segala macam dosa dengan segala dampak buruknya. Minuman beralkohol telah mengakibatkan 3 juta kematian secara global setiap tahunnya dan sebayak 5,3% kematian di dunia diakibatkan oleh alkohol melebih kematian yang diakibatkan oleh HIV/AIDS.

"Dalam agama Islam minuman keras sangat dilarang karena dalam surat Al-Baqarah ayat 219 menyatakan bahwa minuman alkohol dan judi merupakan dosa besar, tetapi bukan di Islam saja, dalam agama Kristen, Hindu dan Buddha bahwa minuman alkohol dilarang untuk dikonsumsi. Dari seminar ini semoga mahasiswa UNIDA Bogor dapat menyampaikan pendapat dan masukan mengenai peraturan pemerintah mengenai minuman beralkohol yang mendasar dan karena minuman beralkohol dilarang oleh agama sehingga harus sesuai dengan Pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa," ungkap Dr. H. Martin Roestamy, SH., MH.

Anggota DPD RI dan Ketua Gerakan Anti Miras, Fahira Idris, SE., MH. dalam pemaparan materinya menyatakan bahwa diharapkan generasi Indonesia kedepannya terhindar dari paparan minuman keras dan bahwa Indonesia butuh peraturan yang tegas dan jelas mengenai minuman beralkohol karena secara global minuman beralkohol sudah banyak membunuh terutama di Eropa dan Amerika.

Alkohol juga merupakan urutan ketujuh penyebab kematian prematur dan kecacatan serta alkohol juga merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya tindakan kriminalitas seperti pembunuhan. Di Indonesia pajak dari jual beli minuman keras tidak ada, untuk penelitian atau riset mengenai dampak minuman keras berbanding terbalik di Eropa yang dimana riset mengenai minuman beralkohol melimpah karena peraturannya jelas dan tegas.

"Konsumsi alkohol merubah perilaku dari baik menjadi tidak baik karena di dalam kasus pembunuhan atau kejahatan yang dilakukan oleh anak di bawah umur itu merupakan pengaruh dari miras dan banyak sekali kasus pidana yang dilakukan di bawah pengaruh miras. Urgensi Undang-Undang Minuman beralkohol karena dari hari kemerderkaan sampai sekarang Indonesia tidak memiliki undang-undang mengenai minuman beralkohol dan itu sangat dibutuhkan segera undang-undang tersebut untuk melindungi anak-anak bangsa dari pengaruh miras yang destruktif," tutur Fahira Idris, SE., MH.

Dosen Magister Hukum UNIDA Bogor, Dr. Bambang Widjojanto, SH., M.Sc dalam pemaparan materinya menyatakan ada indikasi ambiguitas kebijakan pemerintah. Dampak mudharat dari minuman beralkohol tidak cukup diatur dan penyalahgunaan minuman beralkohol sudah sangat meresahkan.

Pemerintah meyakini peningkatan investasi minuman beralkohol memiliki nilai ekonomis untuk dijadikan produk ekspor dan minuman beralkohol produk lokal dikualifikasikan sebagai kearifan lokal yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Akan tetapi tidak ada satu pun kajian yang komprehensif dan naskah akademik yang secara serius disiapkan untuk melihat sejauh mana dampak mudharat dan nilai ekonomis dari minuman beralkohol sehingga pembuatan undang-undang bisa tepat.

"Faktanya investasi minuman keras membebani ekonomi sebesar 256 triliun karena menghilangkan produktivitas 72%, 11% karena biaya kesehatan, 10% untuk penegakan hukum kejahatan yang disebabkan oleh alkohol dan 5% untuk  kecelakaan kendaraan bermotor yang diakibatkan oleh alkohol. Investasi minuman beralkohol di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 1931. BKPM mencatat sudah ada 109 izin investasi miras yang dikeluarkan, izin tersebut dikeluarkan di 13 provinsi di Indonesia yang dimana sumbangan pajak miras semakin menurun, tahun 2020 penerimaan MMEA hanya Rp. 5,76 triliun atau turun signifikan sebesar 21% dari 7,34 triliun pada tahun 2019," tutur Dr. Bambang Widjojanto, SH., M.Sc.

Dosen Ilmu Penyakit Mulut dan Forensik UNPAD, drg. Dewi Zakiawati, M.Sc, dalam pemaparan materi yang berjudul “Alcohol & Health Issues” menyatakan bahwa banyak mitos mengenai alcohol. Pertama yaitu alkohol membuat kita bahagia, alkohol membuat kita terlihat sexy, narkoba merupakan masalah besar dibanding alkohol dan ada juga mitos yang muncul ditengah pandemic, yaitu alkohol membuat tubuh manusia terhindar dari COVID-19. Alkohol adalah etanol yang beracun dan airnya hanya 5% saja dintara mitos-mitos mengenai minuman keras tersebut justru faktanya berbanding terbalik.

"Kesimpulan yang saya sampaikan yaitu alkohol adalah zat yang memiliki fungsi dua sisi yaitu dapat berguna atau mengerikan. Penyalahgunaan alkohol akan menyebabkan masalah kesehatan yang serius dan merusak kehidupan dalam banyak aspek," ungkap drg. Dewi Zakiawati, M.Sc.