Tim penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor yang diketuai oleh Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Dr. Amir Mahrudin, M.Pd.I, beranggotakan Dr. H. Asmil Ilyas, M.Pd.I serta Megan Asri Humaira, M.Hum melaksanakan kegiatan sosialisasi hasil penelitian yang bertajuk “Model Kurikulum Rekonstruksi Sosial Berkarakter Agama dalam Mencegah Penyimpangan Perilaku Seksual Remaja,” pada Senin (16/11) melalui Zoom Cloud Meeting. Kegiatan ini diikuti oleh para Kepala Sekolah serta guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) di wilayah Jabodetabek.

Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UNIDA Bogor, Dr. Ginung Pratidina, M.Si dalam sambutannya mengatakan bahwa tugas utama seorang dosen adalah melaksanakan kegiatan tridarma perguruan tinggi yang salah satu diantaranya adalah program Pengabdian kepada Masyarakat. Dosen tidak hanya melaksanakan pengajaran di dalam kelas, namun lebih dari itu, dosen memiliki kewajiban untuk melakukan penelitian dan pengabdian sebagai bentuk pelaksanaan tridarma perguruan tinggi tersebut.

“Sebagaimana kita ketahui, selain mengajar, tugas seorang dosen yaitu melaksanakan kewajiban tridarma perguruan tinggi. Ketiganya harus seimbang, artinya dosen tidak hanya melakukan pengajaran, tetapi wajib melakukan penelitian yang hasilnya akan ditransfer ke mahasiswa, sehingga adanya kebaruan dalam pengajaran,” ujarnya.

Dalam pemaparan penelitiannya, Dr. Amir Mahrudin, M.Pd.I mengatakan saat ini negara dalam kondisi darurat penyimpangan perilaku seksual. Penyimpangan perilaku seksual remaja akan memberikan dampak buruk bagi pembangunan manusia di Indonesia yang akan melahirkan berbagai penyakit jasmaniah dan rohaniah, sehingga akan mengancam masa depan generasi bangsa. Masa depan bangsa Indonesia bergantung pada kualitas generasi penerusnya, yaitu remaja yang merupakan generasi penerus.

“Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui, memahami, dan mengkaji kecenderungan perilaku seksual remaja, menemukan serta menyusun langkah-langkah strategis dan menerapkan model kurikulum rekonstruksi sosial berkarakter agama dalam mencegah penyimpangan perilaku seksual pada remaja tersebut,” paparnya.

Dr. Amir Mahrudin, M.Pd.I menambahkan, agama memberikan langkah-langkah strategis dalam merancang model rekonstruksi sosial untuk mencegah penyimpangan perilaku seksual remaja. Adapun simpulan umum yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu model kurikulum rekonstruksi sosial berkarakter agama dapat secara efektif mencegah terjadinya penyimpangan perilaku seksual remaja, baik pada aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

“Pada aspek kognitif, remaja mampu mampu berpikir positif, sehat dan lurus. Pada aspek apektif, remaja mampu menilai dan membedakan antara perilaku seksual yang menyimpang dan lurus serta pada aspek psikomotorik, remaja mampu mewujudkan perilaku remaja yang benar dan mencegah  dari perilaku seksual yang menyimpang. Maka fungsi sosial dari Agama Islam dapat memberikan solusi dalam mengoreksi, memperbaiki, menyempurnakan, dan mengarahkan perilaku manusia, sehingga terjadi harmonisasi kehidupan dalam keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara,” tutur Dr. Amir Mahrudin, M.Pd.I yang juga merupakan Kepala Lembaga Pengkajian dan Penerapan Tauhid (LP2T) UNIDA Bogor tersebut.

Sementara itu, Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I sebagai pembahas pertama memaparkan mengenai pendidikan seks bagi ramaja. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I menuturkan, alasan remaja melakukan kesalahan penyimpangan perilaku seksual terdiri dari faktor internal dan eksternal. Salah satu dari faktor internal ialah adanya ketidaktahuan dari remaja tersebut. Maka dalam hal ini perlu adanya edukasi yang diberikan sedari dini mungkin terkait pendidikan seks bagi remaja.

“Pentingnya tahu, agar tidak salah. Jangan sampai mereka melakukan itu karena tidak tahu. Maka dari itu perlu adanya sosialisasi terkait dengan pendidikan seks. Hal ini di kita memang masih sedikit tabu, namun tentu pendidikan seks dengan hubungan seks berbeda. Islam mengatur secara detal tentang berhubungan dan pernikahan. Kita tanamkan malu sejak usia dini, serta perkuat juga peran dari keluarga,” tutur Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I.

Pembahas kedua, Dr. Rusi Rusmiati, M.Pd menyampaikan bahwa konsep kurikulum rekonstruksi sosial ini berbasis pada agama yang mengandung nilai-nilai karakter sehingga dapat mengarahkan perilaku manusia dalam bermasyarakat. Tujuan kurikulum rekonstruktivistik sosial adalah menyiapkan siswa dalam menghadapi masalah. Misalnya kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, metode, kebutuhan, mengevaluasi hubungan antara pendidikan dan hubungan manusia, identifikasi strategi untuk menimbulkan perubahan, termasuk pencegahan terhadap perilaku penyimpangan seksual remaja.

“Seluruh stakeholder memiliki peran dalam mencegah penyimpangan perilaku seksual pada remaja, dari keluarga, guru, institusi pendidikan, dunia usaha naupun industri serta masyarakat. Mari kita sama-sama cegah, kita bisa,” tuturnya.

Setelah pemaparan dan pembahasan hasil penelitian, acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab lalu ditutup dengan foto virtual bersama.