Pada saat bulan Ramadan, umat Islam di seluruh belahan dunia diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa sebagai bentuk ketaqwaan kepada Allah SWT. Perintah untuk menjalankan kewajiban puasa ini tertuang dalam QS. Al-Baqarah ayat 183. Berpuasa selama bulan Ramadan bukan alasan untuk bermalas-malasan, namun seharusnya dapat menjadi peluang untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah SWT.

Dalam kajian rutin Kuliah Ba’da Dzuhur (Kulbadzu) Ramadan di Masjid Baitul Hamdi (19/4/2021), Rektor Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si menyampaikan terkait dengan metabolisme puasa. Hal ini agar bagaimana menyiapkan asupan makanan yang baik sehingga dapat memberikan energi untuk dapat diolah oleh tubuh dengan baik selama menjalankan ibadah puasa.

 

“Alhamdulillah pada hari ini kita sudah melaksanakan ibadah shaum yang ke-tujuh, mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan dan nikmat pada kita untuk bisa selalu melaksanakan perintah juga larangan-Nya. Sudah sepatutnya kita bersyukur karena tidak semua orang dapat melaksanakan ibadah shaum di bulan Ramadan ini, semoga kita bisa berjumpa kembali dengan ramadan berikut-berikutnya,” ujar Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si.

 

“Dalam melaksanakan ibadah puasa ini tentunya kita tidak boleh untuk beralasan bahwa kita lapar lalu kita bermalas-malasan atau merasa lemas dan lemah. Tapi tetap harus kita tanamkan motto puasa kita itu ialah kekuatan jihad dan kerja. Kenapa motto ini tetap harus kita angkat, karena banyak kejadian-kejadian luar biasa yang terjadi di bulan Ramadan ini, diantaranya adalah beberapa perang yang pada masa Rasulullah SAW itu terjadi di bulan Ramadan,” tuturnya.

 

Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si menuturkan, agar ibadah puasa berjalan lancar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan khususnya terkait dengan pemenuhan jumlah energi dan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh ketika sedang berpuasa. Hal ini bukan berarti harus makan dalam porsi besar pada saat sahur, mengingat tubuh tidak dapat memanfaatkan asupan energi sekaligus.

 

“Dalam melaksanakan ibadah shaum ini supaya kita menjadi kuat dan sehat atau cageur, maka kita harus mengatur pola makan selama bulan Ramadan. Aspek fungsi fisiologis tubuh pada saat berpuasa dan tidak berpuasa itu sangat berbeda. Di bulan puasa, itu kita tidak makan dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Tentunya ada pergeseran fungsi-fungsi fisiologis di dalam tubuh,” paparnya.

 

Lebih jauh Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si menyebutkan, diperlukan asupan makanan yang kaya protein, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air putih. Ke-enam komponen zat makanan tersebut perlu dipenuhi agar dalam hal ini tubuh mendapatkan energi yang cukup dan sesuai dengan kebutuhan selama berpuasa.

 

“Dalam prosesnya dari 6 zat makanan yang kita makan, ada 3 zat makanan yang memasok energi bagi tubuh kita. Pertama ialah karbohidrat, yang kedua lemak dan yang ketiga ialah protein. Namun dari ketiga ini yang pertama-tama memberikan energi bagi kita itu adalah karbohidrat, kemudian lemak, baru protein. Itu urutannya seperti itu,” ungkapnya.


Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si juga mengatakan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya dalam pelaksanaan ibadah puasa untuk dapat mengakhirkan makan sahur dan menyegerakan berbuka. Jika dikaitkan dengan kajian yang disampaikan, maka sangat luar biasa apa yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW tersebut.

 

“Intinya kalau kita ingin tetap kuat, maka kita harus menyantap makanan yang bergizi, tidak juga makanan tapi jiwa kita juga harus diisi dengan santapan rohani, seperti sekarang ini kulbadzu, tadarus, dan lain-lain. Mudah-mudahan sedikit pengetahuan tentang metabolisme puasa ini bisa bermanfaat bagi kita khususnya bagi saya, dan bagi jamaah sekalian,” tutup Dr. Ir. Dede Kardaya, M.Si.