Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor selenggarakan Workshop Pengabdian Kepada Masyarakat dengan tema "Model Strategi Pembelajaran Berbasis Sistem Pembelajaran Alamiah Otak (SiPAO) Bagi Guru Inklusif di Sekolah Dasar" Yang diselenggarakan secara luring di Aula Sekolah Dasar Islam Terpadu Amalia Cibinong dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Workshop ini diisi oleh dosen, peneliti dan mahasiswa dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), FKIP UNIDA Bogor, Dr. Rasmitadila, M.Pd. dan H. Muhammad Ichsan, M.Pd. serta diikuti oleh guru-guru inklusif di daerah Cibinong Kabupaten Bogor. Pengabdian ini merupakan kerjasama antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIDA Bogor dan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor serta didukung oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebagai bagian dari Bantuan Pendanaan Program Penelitian Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka dan Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Hasil Penelitian dan Purwarupa PTS. Kegiatan workshop ini diikuti oleh guru-guru Sekolah Dasar (SD) yang berjumlah 30 orang di Kabupaten Bogor.

Dekan FKIP yang diwakili oleh Dr. Helmia Tasti Adri, M.Pd.Si selaku Ketua Program Studi PGSD, FKIP UNIDA Bogor dalam sambutannya menyatakan bahwa kegiatan workshop ini membahas topi pendidikan Inklusif yang merupakan salah satu hasil penelitian yang telah dilakukan oleh para dosen dan peneliti dari Prodi PGSD, dan sekaligus sebagai topik unggulan dari Prodi PGSD, FKIP UNIDA Bogor.

“Harapan kami kedepannya Bapak atau Ibu yang menjadi peserta pada kegiatan kali ini  mampu menjadi agen-agen penyebar kebaikan dan menyampaikan topik pendidikan inklusif ke guru seluruh Indonesia karena ada sebagian anak yang membutuhkan perhatian secara penuh dan lebih dari guru-guru inklusif karena siswa dalam kelas inklusif adalah istimewa,” tutur Dr. Helmia Tasti Adri, M.Pd.Si.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, yang diwakili oleh Yusef Gunawan, M.Pd. dalam sambutannya menyatakan bahwa anak inklusif sangat istimewa dan memiliki kelebihan-kelebihan, baik siswa berkebutuhan khusus maupun bukan, bahwa semua sama serta tidak ada diskriminasi yang pada dasarnya berhak mendapatkan pendidikan yang layak dan bermutu. Diharapkan dengan kegiatan ini memberikan wawasan dan pengalaman sehingga guru-guru inklusif yang menjadi peserta mampu melaksanakan pelayanan yang lebih untuk anak berkebutuhan khususnya.

“Diharapkan peserta dapat memahami dan melaksanakan pelayanan inklusif yang baik di satuan pendidikan yang Bapak atau Ibu pimpin yang sesuai dengan misi Kemendikbudristek yaitu Merdeka Belajar, dan di setiap kelas pasti ada siswa yang berkebutuhan khusus dan itu harus diberikan pelayanan dan pemahaman secara lebih. Pada dasarnya Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor sangat mendukung program untuk siswa berkebutuhan khusus  ini,” tuturnya.

Selanjutnya Dr. Rasmitadila, M.Pd. dalam pemaparan materinya menyatakan bahwa ada beberapa permasalahan dalam pembelajaran kelas inklusif yang diantaranya guru kurang memahami karakteristik siswa terutama siswa berkebutuhan khusus (ABK), guru masih sulit membuat rencana pembelajaran terintegrasi atau inklusif dan program pembelajaran individual bagi siswa ABK, waktu pembelajaran sulit untuk diatur, sulit mengembangkan metode pembelajaran yang efektif yang dapat melibatkan semua siswa, sulit membuat media pembelajaran yang dapat diakses oleh semua siswa serta tentunya permasalahan dana.

“Jika membahas mengenai SiPAO maka ada 5 sistem pembelajaran alamiah otak yang pertama yaitu sistem pembelajaran emosional yang dimana menempatkan guru sebagai mentor, menciptakan kelas yang kondusif dan membuat hubungan guru-siswa maupun siswa-siswa menjadi hubungan yang hangat sehingga motivasi belajar siswa jadi tinggi dan Hasrat, antusiasme belajar menjadi tinggi. Kedua yaitu system pembelajaran social yaitu system pembelajaran yang menempatkan guru sebagai kolaborator, siswa sebagai bagian dari kelompok dengan fokus pada interaksi, siswa dan guru saling berkolaborasi dalam suatu komunitas belajar sehingga membangun keterampilan social siswa. Ketiga yaitu system pembelajaran kognitif yang dimana menempatkan guru sebagai fasilitator, siswa sebagai pemecah masalah dan pengambil keputusan sehingga siswa dapat pengalaman belajar, pemecah masalah dan pengambil keputusan. Keempat yaitu sistem pembelajaran fisik yang menjadikan guru sebagai pelatih, pendamping dan mengarahkan siswa, semua anggota kelas dalam melakukan aktivitas fisik atau psikomotorik dan taktil terhadap suatu topik yang sedang dipelajari sehingga dapat melatih keterampilan fisik. Kelima yaitu sistem pembelajara reflektif yaitu menjadikan guru untuk memahami gaya belajar, kelebihan dan kelemahan siswa, memberikan gambaran siswa, apa yang masih harus ditingkatkan dari suatu pelajaran, menakar kemampuan dan memupuk kelebihan menjadi bakat,” tutur Dr. Rasmitadila, M.Pd

Muhammad Ichsan, M.Pd. dalam paparan materinya menambahkan bahwa kreativitas adalah proses kontruksi ide orisinil dan bermanfaat dan sebagai guru harus dapat melihat potensi yang ada dalam diri. Ide kreatif itu menghubungkan ide-ide yang ada menjadi sesuatu yang baru dan itulah kreativitas. Kreativitas itu berbeda dengan kecerdasan, jika kecerdasan lebih menyangkut cara berpikir yang konvergen atau memusat, kemampuan untuk menerapkan pengetahuan yang sudah ada untuk memecahkan masalah. Sedangkan untuk kreativitas yaitu berkenaan dengan cara berpikir divergen atau menyebar dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang dapat diterapkan dalam pemecahan masalah atau daya cipta.

“Ada beberapa faktor yang melemahkan daya kreativitas yaitu diantaranya terbelanggu dengan pekerjaan rutin, takut berbuat salah dan ditertawakan serta tidak memiliki rasa humor. Adapun ciri-ciri dan sifat guru kreatif diantaranya memiliki banyak ide, tampil dengan kreasi baru, berpikir positif dan kritis, senang berkolaborasi, terbuka terhadap hal baru, tidak mengeluh atas keterbatasan, menyajikan materi dengan metode bervariasi, selalu optimis, pemecah masalah, selalu bereksperimen, taat beribadah, menjadi panutan, selalu membina hubungan yang harmonis dan tentunya selalu ramah,” ungkapnya.