Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor selenggarakan Webinar Hari Peduli Sampah Nasional 2021 yang bertajuk “Sampah Bahan Baku Ekonomi Selama Pandemi” (27/02). Webinar ini diisi oleh Waste Management Spesialist, Muh. Fariz, Founder Komunitas Sampahkoe, Khilda Haiti Rahmah, ST, dan Ecosystem Services Valuation dan Dosen FAPERTA UNIDA Bogor, Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi.,M.Si. Acara ini digelar secara daring melalui aplikasi Zoom Cloud Meetings.

Ketua MAPALA Djuanda Bogor, Siti Ismayanti dalam laporan kegiatan pelaksanaannya memaparkan bahwa sampah merupakan hal yang tidak asing untuk kita, sampah merupakan faKtor yang menyebabkan kerusakan lingkungan hidup. Dengan diperingari hari sampah nasional menjadikan kita sadar akan peduli lingkungan hidup dan menjadikan kita dapat mengolah sampah dengan baik sehingga lingkungan dapat terjaga.

Wakil Rektor III UNIDA Bogor, Ir. Himmatul Miftah, M.Si. dalam sambutannya menyatakan bahwa masalah sampah ini tentunya menjadi masalah di Indonesia, apakah sampah harus diminimalisir jumlahnya atau sampah harus dikelola dengan baik. Masalah sampah juga dapat membawa keuntungan dimana sampah dapat dikelola menjadi kegiatan produktid dan menjadi penghasilan masyarakat.

“Banyak warga di daerah Jogjogan, Puncak Kabupaten Bogor yang mengolah botol-botol air kemasan menjadi benda kreatif dan menjadikan penghasilan masyarakat dan jika ditinjau dari segi bisnis justru sampah ini menjadi sangat menguntungkan jika diolah menjadi barang kreatif. Dan  masyarakat membuat komunitas pengelola sampah menjadi bisnis sehingga dampak negatif dari sampah bisa diminimalisir. Pesan saya buatlah kegiatan-kegiatan produktif dari sampah oleh mahasiswa khususnya MAPALA dan nantinya didaftarkan Hak Kekayaan Intelektualnya sehingga nanti membawa banyak manfaat baik bagi mahasiswa maupun lembaga,” ungkap Ir. Himmatul Miftah, M.Si.

Waste Management Spesialist, Muh. Fariz dalam pemaparan materinya yang berjudul Membangun Ekosistem Bijak Kelola Sampah menyatakan bahwa di Indonesia sampah banyak yang tidak dikelola, sampah di Indonesia banyak dibuang ke sungai, sampah dibuang di pekarangan, sampah dibakar dan sambah banyak yang diangkut dan dibiarkan menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

“Banyak masalah sampah yang terjadi di Indonesia seperti taman nasional atau gunung-gunung yang tercemar sungai, lingkungan hidup manusia yang tercemar sampah juga serta laut yang sangat tercemar oleh sampah yang dibuang sembarangan tanpa dikelola. Sampah yang banyak di laut itu sebagian besar merupakan sampah dari daratan, dan Indonesia dinilai menjadi penyumbang sampah ke laut terbanyak kedua setelah China yang yang menduduki peringkat pertama. Dan di Indonesia masih banyak pembakaran sampah yang menjadikan udara berbahaya untuk dihirup manusia bahkan sampai menyebabkan kanker dan bisa menyebabkan kebakaran juga. Dari laporan Badan Pusat Statistik tahun 2018 bahwa tingkat kepedulian masyarakat rendah terhadap sampah yang didaur ulang hanya 0,1;0%, sisanya dibakar 53;53%, dibuang ke saluran air 5;5%, dibuang sembarangan 2,7;3%, ditimbun 2,1;2%, diangkut petugas 23,3;23%, dibuang ke TPS 11,7;12%, dikompos 0,6;1% dan Bank Sampah hanya 0,4;0% saja. dan di Indonesia pun pengelolaan sampah belum dikelola secara baik dan TPA hanya dapat menampung 69% saja sehingga sisanya menjadi tercemar dan daur ulang serta kompos hanya 7,5% saja,” tutur Muh. Fariz.

Founder Komunitas Sampahkoe, Khilda Haiti Rahmah, ST. dalam pemaparan materinya yang berjudul “Sejuta Kisah Dibalik Mimpi” menyampaikan bahwa Teknik Lingkungan sehingga banyak memahami proses pengelolaan sampah yang baik. Banyak program yang dilakukan untuk melindungi lingkungan terutama dari sampah seperti Penghijauan Ciwidey.

“Sudah program di Ciwidey, lalu saya ikut Ashoka Young Change Maker 2009 dan menang. Setelah itu banyak tawaran kerjasama dengan saya perihal lingkungan hidup, lalu membentuk Sampahkoe yang saat ini produknya yaitu Suka Saku yang dimana bahannya dari sampah,” ungkap Khilda Haiti Rahmah, ST.

Ecosystem Services Valuation sekaligus Dosen FAPERTA UNIDA Bogor, Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi.,M.Si. dalam penyampaian materinya memaparkan bahwa sampah itu tergantung bagaimana kita menganggap bahwa sampah itu petaka atau peluang ekonomi yang bagus selain untuk melindungi lingkungan. Dan bagaimana Karakter 21 Karakter Tauhid diimplementasikan dalam pengelolaan sampah.

“Apakah sampah ini menjadi pembawa petaka atau peluang ekonomi, dua narasumber sebelumnya membuktikan bahwa sampah menjadi nilai ekonomi dan menjadi sebuah karir di bidang lingkungan, tergantung political will, tergantung kebijkan, tergantung kebutuhan dan tergantung stake holders. Dan sampah ini menjadi dua mata koin yang dimana kita dapat menganggap sampah itu petaka atau peluang ekonomi. Dan Implementasi pengelolaan sampah berbasis 21 Karakter Tauhid UNIDA Bogor yang diantaranya seperti karakter cageur contohnya yaitu hidup sehat tanpa sampah membahayakan. Nasionalitas yaitu cinta terhadap negeri menguatkan jiwa dan raga berkontribusi lebih untuk mengelola sampah secara terpadu. Creativeness yaitu contohnya sampah adalah input produksi bagi produk yang kupasarkan. Serta Istiqomah contohnya yaitu menjalankan pendekatan 3R untuk mengelola sampah secara terpadu dan berkelanjutan dan masih banyak lagi,” ungkap Dr. Yudi Wahyudin, S.Pi.,M.Si.