Dalam rangkaian kegiatan Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM), Fakultas Hukum (FH) Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor bekerja sama dengan Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menyelenggarakan Pelatihan Pemahaman Dasar Arbitrase, pada Kamis (19/8/2021). Kegiatan pelatihan yang diselenggarakan secara luring di Ruang Rapat Pascasarjana UNIDA Bogor ini dikuti oleh para Dosen di lingkungan FH UNIDA Bogor dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Turut hadir memberikan sambutan dan membuka jalannya pelatihan secara resmi, Ketua Umum Yayasan Pusat Studi Pengembangan Islam Amaliyah Indonesia (YPSPIAI), Dr. H. Bambang Widjojanto, S.H., M.Sc menuturkan, upaya untuk terus meningkatkan kompetensi para dosen itu merupakan sebuah kewajiban. Peningkatan kualitas para pengajar itu menjadi kebutuhan yang sangat harus diprioritaskan, terutama para dosen hukum yang perlu memahami pentingnya arbitrase sekarang ini.

“Pelatihan ini penting, dengan kata lain dosen harus meningkatkan potensinya. Lalu mengapa pemahaman pengantar arbitrase ini dasar-dasarnya menjadi penting, karena arbitrase adalah salah satu pilihan penyelesaian hukum, arbitrase menjadi salah satu pintu penyelesaian sengketa-sengketa khususnya di kalangan bisnis. Ada beberapa kelebihan arbitrase, tapi saya sebutkan tiga diantaranya. Pertama, di kalangan bisnis, jika ada sengketa maka sifatnya tersebut terbuka. Kedua, waktunya itu bisa terukur, sementara jika dipengadilan sudah dikasih batas waktunya. Ketiga, kita bisa memilih arbiter yang menurut kita representatif mewakili kepentingan kita,” tuturnya.

Dekan FH UNIDA Bogor, Dr. Hj. Endeh Suhartini, SH., MH mengungkapkan, terselenggaranya kegiatan pelatihan pemahaman dasar arbitrase ini merupakan upaya Program Studi Hukum FH UNIDA Bogor dalam meningkatkan kualifikasi dosen, dalam hal ini yakni melalui pelatihan dan sertifikasi keprofesian hukum.

“Program ini sangat bagus, sangat baik, maka dari itu kepada para dosen untuk silahkan mengikuti kegiatan pelatihan ini dengan sebaik-baiknya, karena banyak manfaat yang bisa kita peroleh. Para fasilitator dari BANI akan memberikan materi-materi yang diharapkan dapat meningkatkan pemahaman para dosen,” ungkapnya.

Pada sesi pemaparan materi pertama, Eko Dwi Prasetiyo SH, MH menyampaikan terkait dengan pengantar arbitrase. Eko Dwi Prasetiyo SH, MH menjelaskan, arbitrase merupakan cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Lebih jauh, Eko Dwi Prasetiyo SH, MH juga menyebutkan persyaratan untuk menjadi seorang arbiter.

“Untuk dapat menjadi arbiter, seseorang harus memenuhi syarat-syarat, diantaranya cakap hukum, berumur minimal 35 tahun, tidak memiliki hubungan keluarga dengan pihak yang bersengketa, tidak memiliki hubungan finansial dengan pihak yang bersengketa, memiliki pengalaman minimal 15 tahun di bidangnya, tidak Sedang menjabat sebagai hakim, jaksa, panitera pengadilan dan pejabat pengadilan lainnya,” paparnya.

Sesi kedua, Eko Dwi Prasetiyo SH, MH memaparkan mengenai Hukum Acara Arbitrase, khususnya Peraturan dan Prosedur Arbitrase di BANI dimulai dari alur proses arbitrase hingga hal-hal penting dalam pembuatan putusan dan pembacaan pasca putusan.

“Semua sengketa yang timbul dari perjanjian ini, akan diselesaikan dan diputus oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menurut peraturan dan prosedur arbitrase BANI, yang putusannya mengikat kedua belah pihak yang bersengketa sebagai putusan dalam tingkat pertama dan terakhir,” jelasnya.

Pada sesi terakhir dilakukan pelatihan melalui praktik langsung yang mana para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian diberikan simulasi permasalahan studi kasus yang wajib diselesaikan.