Universitas Djuanda Bogor Gelar Penyuluhan Percampuran Budaya Wisatawan Timur Tengah dengan Kearifan Lokal

Universitas Djuanda Bogor Gelar Penyuluhan Percampuran Budaya Wisatawan Timur Tengah dengan Kearifan Lokal

Blog Single

Universitas Djuanda Bogor selenggarakan Penyuluhan yang berjudul “Advokasi Terhadap Masyarakat BOPUNCUR Akibat Akselerasi Percampuran Budaya Wisatawan Timur Tengah dengan Kearifan Lokal” sebagai bentuk pengamalan Tri Darma perguruan tinggi yaitu darma pengabdian kepada masyarakat (9/7)

Universitas tidak dapat lagi diam dan tinggal dikampus, namun universitas harus hadir dan ikut serta mendampingi masyarakat melalui pengabdian kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat langsung merasakan manfaat dari hadirnya universitas di tengah-tengah masyarakat, salah satunya melakukan advokasi yang artinya sebagai upaya dalam pembelaan masyarakat agar tidak di zalimi oleh oknum atau pihak-pihak tertentu yang hanya ingin mendapatkan keuntungan dari masyarakat sekitar namun tidak memikirkan dampak negatif yang dihasilkan. Universitas Djuanda bertanggungjawab menjaga, membantu mencegah kemaslahatan, dan ikut serta hadir sebagai garda terdepan khususnya alam membangun kabupaten Bogor yang cerdas, sehat, maju, membangun dan berkeadaban. Demikian disampaikan oleh Dr. H. Martin Roestamy, SH., MH. selaku ketua dari kegiatan pengabdian pada masyarakat tersebut.

Dalam kegiatan tersebut terungkap bahwa fenomena turis Timur Tengah ini mendatangkan dampak positif dan negatif bagi masyarakat lokal, keberadaannya menimbulkan pro-kontra dari tokoh-tokoh masyarakat setempat. Dampak positif antara lain membantu perekonomian warga, menggairahkan alam investasi, berdirinya restoran, toko, villa, hotel, dan agen rental mobil. Sebagian masyarakat mendapatkan manfaat dari keberadaan turis Timur Tengah, baik dalam hal peningkatan pendapatan maupun peningkatan kemampuan berbahasa Arab. Namun dampak negatifnya juga tidak bisa dihindari, stigma kawin kontrak, gangguan lingkungan, kriminalitas sampai prostitusi. Sebagaimana yang disampaikan Dr. H. Martin Roestamy, SH., MH. bahwa fenomena turis Timur Tengah ini harus menjadi perhatian kita semua karena mendatangkan pro-kontra di lingkungan BOPUNCUR.

“Dalam hal positif seperti kegiatan sosial, bisnis, keagamaan dan peningkatan ekonomi serta negatifnya yaitu lahirnya istilah kawin kontrak, penyebaran paham hingga maraknya prostitusi. Penanganannya tidak cukup dengan otoritas pemerintah saja, tetapi perlu kerjasama semua pihak termasuk para Kiyai dan akademisi,” tuturnya.

Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I dalam penyuluhannya menyampaikan tentang keluarga sebagai tameng utama dalam menghadapi pengaruh akselerasi percampuran budaya akibat pariwisata di puncak dan sekitarnya. Universitas membuktikan suatu fenomena yang terjadi dalam masyarakat, sebagai contoh adanya turis Timur Tengah yang tinggal dan menetap di daerah tersebut. Upaya terdekat yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini adalah melalui keluarga, khususnya orang tua sebagai pembentuk karakter dan pengendali terdepan bagi anak-anak dapat menjadi garda terdepan sebagai pencegah utama bagi anak-anak kita agar dapat terbentuk menjadi generasi yang maju, sehat, cerdas, soleh dan sholeha.

Dari aspek sosial, puncak bukan hanya sebagai tujuan dari wisatawan Timur Tengah, tetapi juga menjadi pusat transit dari para imigran Afganistan, keberadaan kaum migran ini membuat masalah Puncak semakin kompleks. Fenomena turus asing Timur Tengah Ini merupakan dampak dari gencarnya pemerintah mengiklankan sektor pariwisata terutama puncak. Pada tahun 2018 jumlah wisatawan yang datang ke Kabupaten Bogor sebanyak 7,6 juta melebihi target 7,5 juta wisatawan. Sebagian dari wisatawan tersebut adalah wisatawan asing yang didominasi oleh wisatawan Timur Tengah. Destinasi utama wisatawan asing di Kabupaten Bogor ini adalah Puncak. Pesona Puncak pun yang sangat terkenal adalah Warung Kaleng yang memanjakan turis asing terutama turis Timur Tengah, hamir semua plang toko dan restoran menggunakan bahasa Arab sehingga Turis Timur Tengah tertarik untuk datang.

 “Dalam hal mengatasi dampak negatif perlu adanya langkah-langkah yang tepat untuk menjadi solusi dari permasalah wisata Puncak ini, seperti penyadaran masyarakat tentang hukum islam dan hukum agama, merubah puncak menjadi wisata halal, Peningkatan pemahaman masyarakat tentang konsep wisata halal, Peningkatan keterampilan masyarakat sehingga bisa menjual produk dan jasa secara halal," tutur Dr. Hj. Rita Rahmawati,M.Si. dalam penyampaian materinya.

Hal ini dipertegas dengan pernyataan dari Gugun Gunadi, S.Pd., M.Pd. bahwa pendidikan dapat menjadi tameng pelestari kearifan lokal. “Pendidikan sangat penting untuk anak agar menjadi manusia yang baik. Karena dalam kenyataannya di Bogor dan sekitarnya, rata-rata putus sekolah di kisaran kelas 3 SMP, maka dari itu peran kita terutama kiyai dan akademisi sangat penting dalam rangka meningkatkan pendidikan di Bogor, khususnya di kawasan Puncak, agar masyarakat dapat memanfaatkan dengan baik sektor pariwisata Puncak ini,” tuturnya.

Dalam diskusi dengan para Kiyai dari puluhan Pondok Pesantren yang hadir pada kegiatan pengabdian ini disepakati bahwa pendidikan merupakan faktor yang sangat penting untuk menjadi tameng bagi masyarakat lokal dalam menegakkan nilai-nilai agama dan budaya dari gencarnya arus wisatawan mancanegara dan memperbaiki citra Puncak yang terlanjur memiliki stigma negatif (kawin kontrak).

Kesimpulan akhir dari diskusi dengan para Kiyai pondok pesantren ini menyepakati bahwa pondok pesantren dan masyarakat lokal harus menjadi pemain dan penerima manfaat yang utama dari keberadaan pariwisata Puncak. Pondok pesantren bersama-sama aparatur negara, akdemisi dan seluruh masyarakat harus saling bahu-membahu untuk mewujudkan citra pariwisata Puncak sebagai pariwisata halal nomor satu di Indonesia dan dunia. (Rifa’i)

Related Posts: