Hari Kopi Internasional: Kopi dan Kaitannya Terhadap Kesehatan
Oleh:
Muhammad Fakih Kurniawan,
S.Si., M.Si
(Dosen Program Studi
Teknologi Pangan Fakultas Ilmu Pangan Halal Universitas Djuanda)
Setiap tanggal 1
Oktober diperingati sebagai Hari Kopi Internasional. Kopi merupakan minuman
terpopuler kedua di dunia setelah teh. Setiap hari, 30-40% penduduk dunia
mengonsumsi kopi. Konsumen tertinggi kopi adalah warga Finlandia dengan
rata-rata 4 cangkir setiap hari, sedangkan untuk produsen terbesar kopi adalah
negara Brazil. Indonesia sendiri menempati ranking empat besar produsen kopi
terbanyak di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Kolombia. Tahun 2020
produksinya mencapai 720 ribu ton yang menguasai sekitar 7,1% pasar dunia. Di
Indonesia, 83% produksi kopi berjenis robusta dan sisanya 17% jenis kopi arabika.
Saat ini, kedai
kopi mulai bermunculan di kota-kota besar bahkan sudah masuk ke daerah
pedesaan. Hal ini berarti animo masyarakat untuk minum kopi juga meningkat
terutama dikalangan anak muda. Coffee shop yang kekinian serta variasi
minuman kopi juga menjadi daya tarik tersendiri. Beberapa dari mereka juga
sudah dapat membedakan citarasa kopi robusta dan arabika. Yang paling mudah,
citarasa seduhan kopi robusta lebih pahit daripada arabika. Hal ini karena
kandungan kafein robusta yang lebih banyak daripada arabika. Kafein menjadi
salah satu penyumbang karakter pahit kopi. Jenis arabika memiliki citarasa yang
lebih manis dan bervariasi serta memiliki aroma buah-buahan. Hal ini dikarena
kopi arabika lebih bervariasi dan daerah asal tumbuh kopi ini sangat
mempengaruhi citarasa seduhannya. Misal kopi arabika Toraja yang memiliki
keasaman rendah dan citarasa floral dan fruity, kopi arabika Kintamani
dengan aroma khas citrus, atau kopi arabika Wamena dengan aroma harus coklat
dan herbal.
Hal yang
terpenting selain citarasa adalah manfaat dari kopi bagi kesehatan. Kandungan
asam klorogenat dan kafein serta komponen lain seperti cafestol dan kahweol
ternyata membuat kopi berpotensi dalam menurunkan risiko beberapa penyakit. Asam
klorogenat merupakan penyumbang antioksidan utama pada kopi. Jika dibandingkan
dengan minuman lain (teh, wine, dan bir), kopi memiliki antioksidan paling
tinggi. Penelitian menunjukkan satu cangkir kopi kandungan antioksidannya
setara dengan tiga buah jeruk. Komponen lain pada kopi juga telah diteliti
memiliki aktivitas antioksidan seperti asam kafeat, asam ferulat, dan asam
hidroksi sinamat. Penelitian kami menunjukkan bahwa kopi robusta memiliki
antioksidan lebih tinggi daripada arabika. Proses pengolahan fullywash
memiliki antioksidan yang lebih tinggi daripada proses natural dan proses honey.
Jenis sangrai juga berpengaruh terhadap kadar antioksidan kopi tetapi tidak
terlalu menyebabkan penurunan drastis. Beberapa riset mengungkapkan bahwa
melanoidin (zat warna gelap) yang merupakan komponen hasil reaksi proses
sangrai juga masih memiliki aktivitas antioksidan. Selain antioksidan, kopi
juga telah diteliti memiliki manfaat lain terhadap kesehatan.
Hasil studi epidemiologi
menunjukkan bahwa konsumsi kopi dapat membantu mencegah beberapa penyakit
kronis, termasuk diabetes mellitus tipe 2, penyakit Parkinson dan penyakit
karsinoma hepatoseluler. Minum kopi secara konsisten juga berpengaruh terhadap
penurunan risiko kematian akibat penyakit karidiovaskuler, jantung koroner, dan
stroke dengan konsumsi kopi tiga cup sehari secara rutin. Studi metaanalisis
juga menunjukkan konsumsi rutin kopi mampu menurunkan risiko penyakit sirosis,
liver, gastrointestinal, dan kanker usus besar. Bahkan sebuah studi dengan 128
ribu partisipan di California selama 10 tahun menunjukkan meminum kopi mampu
menurunkan 13% risiko bunuh diri pada orang yang minum kopi rutin setiap hari.
Saat ini, ada
sedikit bukti bahwa minum kopi dapat meningkatkan tekanan darah. Oleh karena
itu konsumsi kopi agar didapatkan manfaatnya juga harus dibatasi. Untuk orang
dewasa, maksimal meminum kopi dibatasi yaitu 3-4 cangkir/hari (300-400 mg/hari
kafein). Pembatasan ini juga berkaitan dengan efek negatif konsumsi kafein dalam
kopi yang jika berlebihan dapat berpengaruh terhadap kesehatan seperti
terhambatnya penyerapan kalsium di tulang. Beberapa kelompok, termasuk
penderita hipertensi, anak-anak, remaja, orang tua, dan ibu hamil mungkin lebih
rentan terhadap efek buruk kafein tentunya konsumsi kopi harus lebih sedikit.
Sumber :
Poole, R., Kennedy, O., J., Roderick,
P.,Fallowfield, J., A., Hayes, P., C., & Parkes, J. 2017.Coffee consumption
and health: umbrella review of meta-analyses of multiple health outcomes. BMJ,
359 :1-18. http://dx.doi.org/10.1136/bmj.j5024
Higdon, J., V. & Frei, B. 2006. Coffee
and Health: A Review of Recent Human Research. Critical Reviews in Food Science
and Nutrition, 46:2, 101-123. DOI: 10.1080/10408390500400009.
Kurniawan, M.F.,
Andarwulan, N., Wulandari, N., & Rafi, M. 2017. Metabolomic approach for
understanding phenolic compounds and melanoidins roles on antioxidant activity
of Indonesia robusta and arabica coffee extracts. Food Sci Biotechnol. 13:26(6).
1475-1480.