Wayang
Oleh: Setyono (Dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Djuanda)
Pengertian Wayang
Menurut definisi KBBI, wayang adalah boneka tiruan orang yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu dan sebagainya yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh dalam pertunjukan drama tradisional (Bali, Jawa, Sunda, dan sebagainya), biasanya dimainkan oleh seorang yang disebut dalang. Di samping itu ada yang mengartikan wayang sebagai jenis pertunjukan drama tradisional yang menampilkan bayangan yang diproyeksikan pada layar yang disebut dengan kelir. Tentunya untuk arti kedua tidak berlaku bagi wayang wong (wayang orang).
Berdasarkan arti bahasa, kata wayang berasal dari bahasa Jawa Kuno yakni wod dan yang, artinya gerakan yang berulang-ulang dan tidak tetap. Dengan arti kata itu maka dapat dikatakan bahwa wayang berarti wujud bayangan yang samar-samar selalu bergerak-gerak dengan tempat yang tidak tetap. Di sisi lain, wayang juga memiliki makna ayang-ayang (bayangan), karena yang dilihat adalah bayangan dalam kelir. Bayangan diartikan sebagai angan-angan yang memiliki bentuk sesuai dengan apa yang dibayangkan. Misalnya tokoh atau orang baik digambarkan dengan badannya kurus, mata tajam dan sebagainya, sedangkan tokoh jahat digambarkan dengan memiliki mulut lebar, muka lebar, dan seterusnya.
Wayang termasuk salah satu pertunjukan drama tradisional yang sangat populer di Indonesia, yang melengkapi keanekaragaman budaya. Hingga saat ini pertunjukan wayang masih menjadi pertunjukan favorit bagi masyarakat Jawa, khususnya wayang kulit untuk Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta wayang golek untuk Jawa Barat. Wayang kulit menggunakan boneka wayang yang dibuat dari kulit, sedangkan wayang golek menggunakan boneka wayang yang dibuat dari kayu. Yang menggunakan boneka wayang dari kayu, selain wayang golek juga wayang klitik.
Lakon (cerita) wayang kulit biasanya berdasarkan cerita yang diambil dari epik Ramayana dan Mahabharata. Kedua epik ini berasal dari India, tetapi ceritanya sudah diubah orang Jawa dulu, sehingga lebih bermakna dan sesuai budaya Jawa. Wayang golek menggunakan cerita yang sama dengan wayang kulit, namun keragaman cerita yang dimainkan lebih sempit dan yang lebih dominan adalah pertunjukan lawak yang dilakukan oleh punakawan. Untuk jenis wayang thengul ada lakon yang berdasarkan sejarah Indonesia lama, misalnya cerita Panji Asamarabangun dari Kerajaan Jenggala.
Dalam satu set wayang kulit ada beberapa ratus watak; ada yang baik, ada yang jahat. Yang baik selalu dimainkan di sebelah kanan dalang, dan yang jahat dimainkan di sebelah kiri dalang. Boneka wayang yang tidak dipakai dipasang di sebuah batang pohon pisang yang ada di depan dalang. Di antara watak wayang yang terkenal adalah lima saudara Pandawa, mereka itu adalah Yudisthira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Mereka adalah tokoh cerita Mahabharata yang menceritakan perang saudara.
Pada wayang kulit, dalang selalu duduk di belakang kelir untuk memainkan wayang. Keberadaan dalang penting sekali karena dia yang memainkan semua boneka wayang dan menyuarakan teks mereka. Dia juga yang bernyanyi dan yang memimpin gamelan wayang. Dalang tidak hanya ada pada wayang kulit, melainkan juga pada wayang wong (orang), meskipun orangnya dapat bergerak sendiri.
Alat musik yang paling penting dalam gamelan wayang adalah alat pukul yang namanya gender. Musik yang dimainkan berubah mengikuti cerita. Ki Dalang memakai pemukul kayu (cempala) dan kotak kayu besar, yang biasanya dipakai untuk menyimpan semua wayang, untuk memberitahu kepada pemain gamelan, musik macam apa yang harus dimainkan, apakah romantic, marah, atau kondisi lain.
Asal-Usul Wayang
Terdapat beberapa pendapat mengenai asal usul wayang. Ada yang berpendapat bahwa wayang merupakan kesenian yang berasal dari China, ada yang mengatakan wayang berasal dari wiracarita Mahabharata dan Ramayana. Namun lebih banyak yang berpendapat bahwa wayang merupakan produk asli Indonesia khususnya Jawa. Hal ini dikaitkan dengan inisiasi dan penghormatan terhadap nenek moyang, serta diperkuat dengan istilah-istilah teknis dalam pertunjukan yang merupakan ciri khas Jawa. Kesenian wayang pun telah ditetapkan sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan di bidang cerita narasi yang indah dan berharga oleh UNESCO. Gelar Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity untuk wayang diberikan oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003.
Sejalan dengan perjalanan waktu, terdapat perbedaan bentuk wayang antara bentuk pada mulanya dengan bentuk wayang sekarang. Bagaimana bentuk pertunjukan dan wayang pada awal mulanya tidak dapat diketahui secara pasti. Informasi tertua mengenai pertunjukan wayang termuat di dalam sebuah prasasti dari Kerajaan Mataram Kuno dari abad ke-9. Selanjutnya berkembang di era kerajaan Kediri dan Kerajaan Majapahit pada abad ke-15.
Jenis Wayang
Wayang merupakan warisan yang telah diakui dunia dan ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 2003. Ada sekitar 60 jenis wayang yang tercatat dalam data Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. Dari sekian banyak jenis wayang, terdapat beberapa wayang yang cukup populer di masyarakat Indonesia. Wayang kulit adalah salah satu yang cukup dikenal luas dengan seni pertunjukannya.
Wilayah Indonesia yang luas dan beraneka ragam turut membuat wayang bervariasi dan berbeda-beda. Berikut ini disajikan lima jenis wayang di Indonesia yang paling popular.
1. Wayang Golek
Wayang golek dipentaskan di wilayah Parahyangan, Jawa Barat dengan menggunakan Bahasa Sunda. Fungsi wayang golek pun berkembang seiring zaman dari seni pertunjukan menjadi seni kriya. Wayang golek merupakan seni pertunjukan tradisional yang telah menjadi bagian dari jati diri orang Sunda.
2. Wayang Kulit
Kesenian wayang kulit ditemukan dalam budaya Jawa dan Bali. Narasi wayang kulit seringkali berkaitan dengan tema utama kebaikan melawan kejahatan. Wayang kulit terbuat dari bahan kulit kambing, sapi, atau kerbau yang sudah diproses menjadi kulit lembaran, per buah wayang membutuhkan sekitar ukuran 50 x 30 cm.
3. Wayang Wong
Wayang wong dalam bahasa Indonesia artinya wayang orang. Wayang ini menjadi bentuk teater tradisional Jawa yang berasal dari wayang kulit yang dipertunjukkan dalam bentuk berbeda. Wayang orang dilengkapi dengan tarian dan nyanyian, dan terdapat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
4. Wayang Beber
Wayang beber merupakan pertunjukan wayang yang disajikan dengan cara dibentangkan. Pada awalnya wayang beber merupakan salah satu media yang digunakan untuk menyebarkan ajaran agama.
5. Wayang Sasak
Wayang sasak adalah pemberian nama terhadap wayang kulit yang berkembang di Lombok. Kedatangan wayang di Lombok dipengaruhi oleh kedatangan agama Islam di sana. Cerita wayang di Lombok pada dasarnya mengambil cerita Menak yang bersumber dari Cerita Amir Hamzah yaitu paman Nabi Muhammad SAW.
Fungsi Wayang
Pertunjukan seni wayang adalah perpaduan antara seni peran, seni visual, seni musik, dan cerita. Perpaduan inilah yang membuat wayang terasa unik dan menarik untuk disaksikan. Pertunjukan seni ini selalu memberi kesan tak terlupakan untuk penonton. Selain sebagai media hiburan, wayang juga memiliki fungsi dan peruntukan sesuai jenis wayang masing-masing. Secara umum fungsi wayang sebagai berikut:
· Sebagai media pendidikan atau edukasi terhadap penonton
· Sebagai refleksi nilai-nilai etis dan estetis
· Sebagai alat komunikasi atau media penerangan.
· Sebagai media hiburan yang bersifat hedonistik.
· Sebagai bentuk keberlanjutan kebudayaan.
· Sebagai refleksi dari pola-pola ekonomi
· Sebagai sarana mencari nafkah.
Nilai Wayang
Wayang terdiri atas beberapa jenis, dengan cerita yang berbeda sesuai dengan jenisnya. Wayang kulit, wayang orang, dan wayang golek menggunakan cerita berbasis Mahabharata dan Ramayana. Wayang thengul menggunakan cerita sejarah Indonesia di masa lampau. Wayang sasak menggunakan cerita Amit Hamzah. Di antara semua jenis wayang, wayang kulit paling banyak memiliki makna, pelajaran, dan nilai-nilai, yang tidak hanya pada ceritanya, melainkan juga pada karakter pakaian dan bentuk wayangnya. Kandungan nilai yang ada pada wayang kulit diuraikan berikut ini.
1. Nilai Filosofis
Pagelaran wayang biasanya memiliki bagian yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Setiap bagian menggambarkan tahapan tertentu dari kehidupan manusia. Jadi, pertunjukan wayang memang sangat merepresentasikan nilai filosofis budaya Indonesia.
2. Nilai Religius
Wayang juga memiliki dimensi spiritual yang kuat. Nilai religius ini muncul sejak zaman Kerajaan Demak. Waktu itu, pertunjukan wayang digunakan untuk menyebarkan agama Islam, serta nilai-nilai atau ajaran di dalamnya.
3. Nilai Pendidikan
Ada banyak nilai pendidikan dalam pertunjukan wayang, seperti etika, moral, budi pekerti, politik, hingga sosial dan kewarganegaraan. Manfaat di bidang pendidikan ini terkandung di dalam setiap bagian dari cerita pertunjukan wayang.
4. Nilai Kepahlawanan
Salah satu nilai khas dari wayang adalah nilai kepahlawanan dari tokoh-tokohnya. Kepahlawanan dalam kisah Ramayana dan Mahabarata bermanfaat untuk memberikan berbagai pesan patriotisme sebagai pendidikan budaya bagi generasi muda.
5. Nilai Estetika
Wayang adalah seni yang menggabungkan kreativitas berbagai bidang. Nilai estetikanya juga banyak terkandung di dalam cerita. Itulah sebabnya, pertunjukan wayang menjadi warisan orisinal dari negara Indonesia.
Pembelajaran Masa Depan dari Wayang
Sebuah karya seni diciptakan berdasarkan pengetahuan pencipta karya tersebut pada zamannya. Bisa jadi pada suatu saat karya itu sangat bernilai, pada saat berikutnya menjadi tidak bernilai atau dianggap salah. Ini terjadi karena pengetahuan dan teknologi sudah berkembang. Meskipun wayang diciptakan sudah sejak lama, ada beberapa prediksi masa depan yang sudah dicerminkan dalam cerita. Meskipun kalau dinilai pada saat ini dianggap salah, tetapi idenya patut diacungi jempol. Berikut ini disajikan tiga prediksi yang tersirat pada lakon wayang kulit.
1. Belajar Daring
Durna adalah guru bela diri (olah kanuragan) pada zaman Pandawa-Kurawa. Orang yang dapat berguru ke Durna hanyalah kaum bangsawan. Palgunadi bukan kaum bangsawan, tetapi ingin belajar (berguru) ke Durna. Oleh sebab itu ia membuat patung Durna lalu berlatih memanah mandiri, dengan sesekali memberi hormat kepada patung Durna, seolah-olah meminta wejangan. Akhirnya ia pandai memanah, bahkan melebihi kemampuan Arjuna yang menjadi murid asli Durna. Cerita ini memprediksi adanya pembelajaran secara daring yang ada sekarang, tentunya dengan keterbatasan pengetahuan saat itu, belum menggunakan internet melainkan patung.
2. Bayi Tabung
Pada suatu saat Rama dan Sinta masuk ke suatu kolam, sehingga berubah wujud menjadi kera. Dalam wujud kera tersebut mereka melakukan senggama. Ketika mereka sudah kembali menjadi manusia, Rama meminta inang pengasuhnya memijid rahim Sinta untuk mengeluarkan zigot di dalamnya, lalu membungkusnya dengan daun budi. Setelah itu bungkusan zigot tersebut dilemparkan ke sendhang (semacam danau tempat mandi). Di sendhang tersebut ada Dewi Anjani yang sedang bertapa tidak akan makan, kecuali ada makanan yang datang. Berhubung datang sesuatu terbungkus daun, Dewi Anjani memakannya, lalu ia hamil dan melahirkan anak berwujud kera bernama Hanuman.
Cerita ini memprediksi dimungkinkannya pembesaran zigot di dalam rahim seseorang, meskipun zigot tersebut bukan hasil senggama pemilik rahim. Pada bayi tabung, meskipun yang hamil adalah ibu bayi (normalnya), namun proses kehamilannya tidak melalui senggama melainkan sudah menjadi zigot baru dimasukkan. Tentu saja cerita di wayang tersebut dibuat dengan keterbatasan yang dimiliki. Saat itu belum tahu cara memasukkan zigot ke dalam rahim, tahunya lubang masuk hanyalah mulut. Padahal kalau masuknya ke mulut muaranya ke lambung bukan ke rahim.
3. Operasi Caesar
Dewi Kunti pernah mencuri ilmu belajar mendatangkan dewa. Saat akan mempraktekkan ilmu yang dipelajari, ia berpikir mendatangkan Batara Surya (dewa matahari). Ternyata ia sudah berhasil menguasai ilmu tersebut, datanglah matahari memberikan kehangatan dan kenikmatan pada sekujur tubuhnya, kemudian ia hamil. Sebagai putri raja Mandura, hamil di luar nikah tentu merupakan tamparan keras bagi raja, namun hasil pemeriksaan kepolisian saat itu meyakinkan bahwa Dewi Kunti tidak melakukan tindakan asusila. Guna menghindari putri raja belum menikah tetapi sudah tidak perawan, akhirnya sang raja memerintahkan tabib agar melahirkannya melalui telinga, sehingga Dewi Kunti tetap perawan meskipun sudah punya anak bernama Karna.
Cerita ini memprediksi adanya operasi caesar, yaitu mengeluarkan bayi dengan cara membedah perut ibu. Tentu saja pengetahuan saat itu masih terbatas, belum terpikir adanya operasi bedah, belum terpikir bahwa saluran telinga dan saluran rahim itu berbeda. Namun pengarang lakon wayang sudah memprediksi bahwa pada suatu saat mungkin saja ada kelahiran bayi yang tidak melalui liang senggama.
Pertunjukan Wayang
Pada tahun 1970-an pertunjukan wayang diadakan pada acara hajatan pernikahan atau khitanan untuk orang yang tergolong mampu. Bagi yang kemampuannya biasa saja, biasanya hanya menyajikan lakon wayang melalui tape recorder. Dalam perkembangannya penyajian hiburan melalui tape recorder bergeser dari cerita wayang atau ketoprak menjadi alunan musik, dan bagi yang mampu menyajikan live music dengan mendatangkan artis lokal. Hiburan seperti ini yang banyak ditemui pada saat ini. Pagelaran wayang di acara hajatan pernikahan hanya dilakukan oleh orang yang menyelenggarakan pernikahan adat Jawa sepenuhnya. Rangkaian acara yang biasa dilakukan adalah pagi akad nikah, siang respesi dengan alunan live music, dan malamnya pagelaran wayang semalam suntuk.