Hari Pekerja Indonesia
Oleh: Dr. Ismartaya, MM (Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Djuanda)
Hari Pekerja Indonesia diperingati setiap tahun pada tanggal 20 Februari. Hari Pekerja Indonesia ditetapkan oleh Presiden Soeharto pada tahun 1991 melalui Keputusan Presiden No. 9 tahun 1991 tentang Hari Pekerja Indonesia. Motivasi di balik hari ini adalah peringatan serikat pekerja Indonesia pada tanggal 20 Februari 1973, yang menjadi tonggak sejarah persatuan pekerja di Indonesia. Keberadaan Hari Pekerja Indonesia bertujuan untuk memperkuat identitas pekerja Indonesia dan memberikan motivasi kepada pekerja untuk melayani pembangunan nasional. Hari Pekerja Indonesia berbeda dengan Hari Buruh yang diperingati pada tanggal 1 Mei. Hari pekerja Indonesia juga bertepatan dengan hari jadi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI). Hari Pekerja Indonesia diperingati setiap tahun pada tanggal 20 Februari. ".
Tujuan Hari Pekerja Indonesia adalah untuk mendorong dialog dengan berbagai pihak, terutama pemangku kepentingan, tindakan untuk mengatasi masalah ketidaksetaraan yang semakin meningkat. Kemiskinan dan ketidaksetaraan di dalam dan di luar negeri sedang meningkat. Beberapa masalah terkait dengan krisis keuangan, pengangguran yang tinggi, kemiskinan, pengucilan manusia, diskriminasi dan kurangnya partisipasi penuh negara-negara berkembang dalam ekonomi dunia. Krisis ekonomi dan sosial beberapa tahun terakhir telah diperburuk oleh kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, bencana alam yang disebabkan oleh percepatan perubahan iklim, ketegangan ekonomi, ketegangan geopolitik, dan konflik bersenjata. Karena kondisi ini, banyak orang di dunia kehilangan rumah, pekerjaan, kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendidikan, dan makanan bergizi. Adanya Hari Pekerja Indonesia diharapkan dapat menginspirasi semua pihak untuk mencari solusi, mengatasi permasalahan, serta menciptakan masyarakat yang stabil, aman, dan berkeadilan.
Beberapa hal yang dibutuhkan pekerja Indonesia untuk berpartisipasi dalam MEA, pastinya harus dipersiapkan dengan baik, dan ada beberapa cara yang dapat diterapkan untuk mempertahankan dan meningkatkan produktivitas karyawan khususnya di Universitas Djuanda.
a. Melakukan tugas berdasarkan minat dan kemampuan SDM.
b. Membangun komunikasi dua arah yang efektif.
c. Ciptakan lingkungan kerja yang nyaman.
d. Pelaksanaan program Training/Program Pelatihan Kerja
Guna menjawab tantangan Zaman tersebut, dunia pendidikan yang menghasilkan sumber daya manusia berkualitas tinggi juga harus mengalami perubahan. Era disrupsi merupakan era terjadinya perubahan dari cara manual menjadi serba digital. Dalam era disrupsi terjadi perubahan drastis, mengubah tatanan kehidupan manusia dalam berbagai bidang termasuk dalam bidang jasa dan menjadi dilema bagi produsen yang bergelut pada bidang jasa Pendidikan. Dimana disatu sisi, lingkungan pendidikan diharapkan mampu mendidik mahasiswanya menjadi insan yang berkarakter, beretika, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang berlaku di masyarakat. Namun disisi lain universitas harus menyesuaikan dengan perubahan era disruptif dituntut untuk mengikuti perubahan menuju era digitalisasi. Di zaman sekarang ini, dosen perlu memperbaiki diri agar dapat menerapkan teknologi digital, tetapi mereka juga perlu memperkuat karakter mahasiswanya. Selain itu, saat kita memasuki era digitalisasi, dosen perlu berevolusi menjadi pola kolaborasi digital yang melibatkan kolaborasi dan koordinasi lintas disiplin ilmu, serta mengadakan pertemuan tatap muka dan menggunakan perangkat teknologi.
Di era digital, kolaborasi menjadi tantangan di mana, pola komunikasi dan sosialisasi telah berubah. Kawasan Asia Tenggara kini telah memasuki tahap Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Secara garis besar, tujuan didirikannya MEA adalah untuk menghadapi persaingan global, arus bebas barang, jasa, dan tenaga kerja terampil serta arus investasi yang lebih bebas. Dengan demikian persaingan perguruan tinggi sebagai lembaga penghasil tenaga kependidikan akan semakin terbuka. Upaya peningkatan mutu pendidikan tinggi juga membutuhkan dosen yang berkualitas. Dalam hal ini, pendekatan karakter 4C (communication, collaboration, critical thinking and problem solving, creativity, innovation) diharapkan dapat menjadi solusi dari fenomena tersebut.