HIMASEP UNIDA Bogor Bersama DPW II POPMASEPI Gelar Webinar Nasional, Tingkatkan Peran Mahasiswa dalam Pemberdayaan Masyarakat Desa
Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (HIMASEP) Universitas
Djuanda (UNIDA) Bogor bersama dengan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) II
Perhimpunan Organisasi Profesi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (POPMASEPI)
menyelenggarakan Webinar Nasional Pekan Kewirausahaan dan Pekan Keprofesian
Pengabdian Mitra Desa dengan tema "Meningkatkan Peran Mahasiswa dalam Pemberdayaan dan
Penerapan Inovasi Desa Menuju Masyarakat yang Terampil", Rabu (14/7/2021).
Kegiatan yang dilangsungkan secara virtual
melalui aplikasi Zoom Cloud Meeting tersebut menghadirkan narasumber
yang sudah berpengalaman dalam bidangnya, yaitu Andri Kiswantoro, SST (Penyuluh
Pertanian Pertama, BPP Wilayah VII Ciawi), Dr. Ir. Apendi Arsyad, M.Si (Dosen
Prodi Agribisnis UNIDA Bogor), Habib Fadhlurrohman (CEO BSI Farm), serta
moderator acara Iqbal Habibi, S.P (Owner Balun Farm).
Ketua HIMASEP UNIDA Bogor, Doni Ramdani Ali mengatakan bahwa kegiatan
yang terselenggara ini dilatar belakangi oleh kepedulian para mahasiswa yang
tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi untuk bisa memberikan
kontribusi nyata bagi masyarakat di sektor pertanian. Apalagi saat ini, pandemi
Covid-19 menyebabkan banyak permasalahan baru sehingga diperlukan adanya
inovasi untuk memecahkan permasalahan tersebut sesuai peran mahasiswa sebagai agent
of change.
?Hari ini, Rabu 14 Juli 2021, alhamdulillah kami HIMASEP UNIDA Bogor
dapat melaksanakan kegiatan webinar nasional yang dimana kegiatan ini
berkolaborasi dengan DPW II POPMASEPI. Sesuai dengan tema, memang pada saat ini
peran mahasiswa dalam masyarakat sangat dibutuhkan untuk memberikan suatu inovasi-inovasi ataupun ide dan gagasan baru
untuk memajukan serta menyejahterakan masyarakat. Adapun rangkaian kegiatan ini
tidak hanya webinar nasional tetapi nantinya setelah kegiatan ini ada kegiatan
PKWU, yaitu lomba business plan dan juga PKPP Mitra Desa yang insyAllah
akan dilaksanakan secara daring,? tuturnya.
Turut hadir membuka jalannya acara secara resmi, Wakil Rektor III UNIDA
Bogor Ir. H. Himmatul Miftah, M.Si mengatakan, kegiatan seminar nasional ini
rencananya akan diselenggarakan secara luring, tepatnya di Desa Banjarwaru,
Ciawi. Namun karena kebijakan PPKM Darurat saat ini, maka kegiatan dilaksanakan
secara daring untuk mengikuti anjuran pemerintah sebagai bentuk upaya memutus
mata rantai Covid-19.
Lebih jauh, Ir. H. Himmatul Miftah, M.Si menyampaikan bahwa pada masa
pandemi Covid-19, banyak sektor-sektor yang terkena imbas, namun sektor
pertanian masih dapat tumbuh walaupun dalam tekanan.
?Pada masa pandemi ini, kita berharap kita bisa menjadi cermin atau contoh
bahwa dunia pertanian masih dapat bertahan manakala ada tekanan seperti sekarang
ini. Bahkan kalau di sektor lain, itu pertumbuhannya negatif. Inilah yang bisa
kita manfaatkan bagaimana kita bisa menjadikan momen ini suatu kegiatan yang
dapat dikontribusikan kepada bangsa dan negara, terutama rakyat Indonesia,?
ujarnya.
Ir. H. Himmatul Miftah, M.Si mencontohkan, banyak kendala yang terjadi
di desa ataupun di daerah, salah satunya ialah koneksi jaringan internet. Maka
Ir. H. Himmatul Miftah, M.Si berharap dari kegiatan yang diselenggarakan ini
dapat memunculkan solusi bersama sehingga memberikan dampak positif, khususnya
bagi masyarakat dan para petani yang berada di desa.
?Seperti di perkebunan kita, di Citeko Farm, kawasan Puncak, itu
terkendala sinyal dan jaringan. Nah beberapa waktu lalu, UNIDA Bogor sudah
menjalin komunikasi dengan salah satu perusahaan telekomunikasi. Mungkin ini
bisa menjadi catatan atau solusi bagi masyarakat petani yang ada di desa. Saya
yakin kegiatan ini bisa berdampak bagi masyarakat sekitar dan bagaimana para
mahasiswa yang muda-muda ini bisa berkontribusi kepada masyarakat dan lingkungannya,?
tuturnya.
Sesi pemaparan materi pertama disampaikan oleh Andri Kiswantoro, SST selaku Penyuluh
Pertanian Pertama, BPP Wilayah VII Ciawi. Dalam paparannya tersebut, Andri
Kiswantoro, SST mengatakan bahwa saat ini ekonomi kreatif dapat menyediakan lapangan kerja sehingga dapat berperan sebagai penopang
ekonomi secara lokal maupun nasional. Ekonomi kreatif saat ini penting agar
masyarakat dapat lebih secara mandiri mampu meningkatkan taraf ekonominya.
Namun yang menjadi permasalahan adalah bagaimana menanamkan ide ataupun inovasi
tersebut agar dapat berjalan.
?Ekonomi kreatif adalah konsep ekonomi sekarang, dimana sumber daya
utama adalah informasi dan pengetahuan. Ekonomi kreatif meliputi proses
penciptaan, menghasilkan karya, kreativitas dan ide, perorangan atau kelompok,
dan tanpa mengeksploitasi Sumber Daya Alam. Tujuan utama ekonomi kreatif
terwujudnya desa mandiri yang menjunjung tinggi kearifan lokal masyarakat
sebagi pelaku partisipatif dalam upaya meningkatkan ekonomi kreatif
masyarakat,? paparnya.
Pada sesi pemaparan materi kedua, disampaikan oleh Habib Fadhlurrohman yang merupakan CEO BSI
Farm. Habib Fadhlurrohman menyebutkan, banyak bidang dalam ekonomi kreatif yang
dapat dimanfaatkan. Dalam pertanian, ekonomi kreatif dapat diwujudkan salah
satunya ialah dengan metode hidroponik yang saat ini menjadi pilihan dalam
bertani. Hal ini menjadi peluang besar bagi para pelaku industri pertanian.
?Hidroponik adalah metode budidaya menanam
dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan media tanah. Sedikit bercerita, waktu
itu saya memulai bisnis hidroponik diawali dengan eksperimen kecil-kecilan yang
untuk dikonsumsi sendiri. Adapun resiko dalam bisnis hidroponik yaitu serangan
hama ataupun penyakit, ketergantungan terhadap listrik, serta sayur tidak bisa
disimpan dalam jangka waktu yang lama. Sementara itu, pemasaran sayur
hidroponik bisa untuk konsumen rumah tangga, restoran, supermarket, sesama
petani, dan pedagang sayur,? ungkapnya.
Kemudian pada sesi pemaparan terakhir, Dr. Ir.
Apendi Arsyad, M.Si yang menyampaikan terkait dengan Peran Mahasiswa dalam
Pemberdayaan Masyarakat Desa Menuju Masyarakat yang Terampil. Upaya
pengembangan Potensi Sumberdaya Alam yang ada di Kawasan Perdesaan sudah
seharusnya menjadi perhatian banyak pihak, terutama para Mahasiswa sebagai
generasi penerus bangsa, yang telah dididik dengan landasan Imtaq dan Ipteks
secara terpadu.
?Merekalah yang berbekal imtaq dan ipteks itulah sangat
memungkinkan bisa menanggulangi kemiskinan di pedesaan dengan mengelola SDA
secara optimal dan berkelanjutan sesuai kaidah pembangunan berkelanjutan untuk
mencapai SDGs,? tutur Dosen Prodi Agribisnis UNIDA Bogor tersebut.