[email protected] 0251-8240773
Informasi

Inovasi Teknologi Bidang Akuakultur untuk Menjawab Masalah Ledakan Penduduk Dunia

Masyarakat di seluruh dunia memperingati Hari Populasi Sedunia pada 11 Juli 2022, untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai populasi dunia, khususnya mencegah terjadinya ledakan jumlah penduduk agar tidak terjadi berbagai krisis: kemiskinan, kesehatan, angka kematian ibu dan bayi dan lainnya. Menurut PBB, Hari Populasi Sedunia dibuat untuk mengingat sebanyak apa populasi di seluruh dunia dan apa yang bisa dilakukan untuk mensejahterakan mereka. "Mencapai populasi global delapan miliar adalah numerik, tetapi fokus kami harus selalu pada orang. Di dunia yang kami upayakan untuk dibangun, 8 miliar orang berarti 8 miliar peluang untuk menjalani kehidupan yang bermartabat dan terpenuhi," ujar Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.

 

Pada tahun 2011, dunia mencapai populasi 7 miliar. Tahun ini, jumlahnya akan mencapai 8 miliar. Selama pertambahan ini, sudah terjadi kemajuan di bidang kesehatan yang telah memperpanjang rentang hidup, mengurangi kematian ibu dan kematian anak, serta mendorong pengembangan vaksin dalam waktu singkat. Hal yang sama terjadi dengan penduduk Indonesia, saat ini jumlah penduduk Indonesia, berdasarkan hasil Sensus Penduduk (SP2020) pada September 2020 sebesar 270,20 juta jiwa. Selama sepuluh tahun, jumlah penduduk bertambah 32,56 juta jiwa.

 

Pertumbuhan dramatis ini sebagian besar didorong oleh peningkatan jumlah orang yang bertahan hidup hingga usia reproduksi, dan telah disertai dengan perubahan besar dalam tingkat kesuburan, peningkatan urbanisasi, dan percepatan migrasi. Tren ini akan memiliki implikasi yang luas bagi generasi mendatang. Ada perubahan besar dalam tingkat kesuburan dan harapan hidup. Pada awal 1970-an, perempuan rata-rata memiliki 4,5 anak; pada tahun 2015, total fertilitas dunia turun menjadi di bawah 2,5 anak per wanita. Sementara itu, rata-rata rentang hidup global telah meningkat, dari 64,6 tahun pada awal 1990-an menjadi 72,6 tahun pada 2019. Selain itu, dunia melihat tingkat urbanisasi yang tinggi dan percepatan migrasi. 2007 adalah tahun pertama di mana lebih banyak orang tinggal di daerah perkotaan daripada di daerah pedesaan, dan pada tahun 2050 sekitar 66 persen dari populasi dunia akan tinggal di kota. Megatren ini memiliki implikasi yang luas. Hal ini mempengaruhi pembangunan ekonomi, lapangan kerja, distribusi pendapatan, kemiskinan dan perlindungan sosial. Tren ini juga mempengaruhi upaya untuk memastikan akses ke perawatan kesehatan, pendidikan, perumahan, sanitasi, air, makanan, dan energi.

Jurang ketidaksetaraan tidak dipungkiri akan semakin lebar. Perubahan iklim, kekerasan, diskriminasi masih menjadi ancaman. Pada bulan Mei 2022, lebih dari 100 juta orang mengungsi secara paksa di seluruh dunia. Perubahan tataguna lahan dan jalur hijau yang semakin menurun akibat perubahan lahan hijau menjadi perumahan dan industri, memaksa manusia menerima dampak negatif dari pembangunan kawasan pemukiman dan industri tanpa memperhatikan analisa dampak dan lingkungan. Polusi semakin parah yang berakibat pada menurunnya kesehatan manusia saat ini.

Menghadapi pertambahan populasi dunia menjadi  8 miliar orang,  berarti harus menciptakan 8 miliar peluang untuk masyarakat yang lebih sehat yang diberdayakan oleh hak dan pilihan. Tapi di dunia saat ini, hal itu masih jauh dari kata sempurna. Masih banyak orang yang terkena diskriminasi, pelecehan dan kekerasan. Tren Populasi Dunia Butuh ratusan ribu tahun bagi populasi dunia untuk tumbuh menjadi 1 miliar ? kemudian hanya dalam 200 tahun atau lebih, populasi tumbuh tujuh kali lipat. Pada tahun 2011, populasi global mencapai angka 7 miliar, mencapai hampir 7,9 miliar pada tahun 2021, dan diperkirakan akan tumbuh menjadi sekitar 8,5 miliar pada tahun 2030, 9,7 miliar pada tahun 2050, dan 10,9 miliar pada tahun 2100.

Diperlukan inovasi teknologi berkelanjutan yang dapat memudahkan hidup penduduk dunia dalam memenuhi kebutuhan esensi penduduk dunia. Inovasi teknologi bidang perikanan budidaya atau akuakultur bisa menjadi salah satu upaya dalam menyediakan pakan hewani dunia, penggunaan lahan terbatas untuk kegiatan perikanan budidaya mampu memproduksi ikan sehat dan profitable di mana ketahanan pangan terpenuhi dan kesejahteraan masyarakat meningkat. Inovasi teknologi lainnnya saat ini sudah dikembangkan guna memenuhi kebutuhan masyarakat di segala bidang. Indonesia, melalui Badan Riset Inovasi Nasional diharapkan mampu menjawab tantangan dalam menghadapai peningkatan populasi manusia.

Untuk mengatasi kebutuhan individu secara lebih berkelanjutan, pembuat kebijakan harus memahami berapa banyak orang yang hidup di planet ini, di mana mereka berada, berapa usia mereka, dan berapa banyak orang yang akan datang setelah mereka. Sumberdaya alam dan bumi  kita harus dijaga dan dilestarikan dengan baik, kolaborasi dan koordinasi antar stakeholder diperlukan guna mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan dan kemudahan akses masyarakat dunia akan kesehatan, pendidikan, dan ketahanan pangan.