Inovasi Teknologi Bidang Akuakultur untuk Menjawab Masalah Ledakan Penduduk Dunia
Masyarakat di seluruh dunia memperingati Hari Populasi
Sedunia pada 11 Juli 2022, untuk meningkatkan kesadaran dan
pengetahuan masyarakat mengenai populasi dunia, khususnya mencegah terjadinya
ledakan jumlah penduduk agar tidak terjadi berbagai krisis: kemiskinan,
kesehatan, angka kematian ibu dan bayi dan lainnya. Menurut PBB, Hari Populasi Sedunia dibuat untuk mengingat sebanyak apa
populasi di seluruh dunia dan apa yang bisa dilakukan untuk mensejahterakan
mereka. "Mencapai populasi global delapan miliar adalah numerik, tetapi
fokus kami harus selalu pada orang. Di dunia yang kami upayakan untuk dibangun,
8 miliar orang berarti 8 miliar peluang untuk menjalani kehidupan yang
bermartabat dan terpenuhi," ujar Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres.
Pada tahun 2011, dunia mencapai populasi 7 miliar. Tahun ini,
jumlahnya akan mencapai 8 miliar. Selama pertambahan ini, sudah terjadi
kemajuan di bidang kesehatan yang telah memperpanjang rentang hidup, mengurangi
kematian ibu dan kematian anak, serta mendorong pengembangan vaksin dalam waktu
singkat. Hal yang sama terjadi dengan penduduk Indonesia, saat
ini jumlah penduduk Indonesia, berdasarkan hasil Sensus Penduduk (SP2020)
pada September 2020 sebesar 270,20 juta jiwa. Selama sepuluh tahun, jumlah
penduduk bertambah 32,56 juta jiwa.
Pertumbuhan dramatis ini
sebagian besar didorong oleh peningkatan jumlah orang yang bertahan hidup
hingga usia reproduksi, dan telah disertai dengan perubahan besar dalam tingkat
kesuburan, peningkatan urbanisasi, dan percepatan migrasi. Tren ini akan
memiliki implikasi yang luas bagi generasi mendatang. Ada perubahan besar dalam
tingkat kesuburan dan harapan hidup. Pada awal 1970-an, perempuan rata-rata
memiliki 4,5 anak; pada tahun 2015, total fertilitas dunia turun menjadi di
bawah 2,5 anak per wanita. Sementara itu, rata-rata rentang hidup global telah
meningkat, dari 64,6 tahun pada awal 1990-an menjadi 72,6 tahun pada 2019. Selain
itu, dunia melihat tingkat urbanisasi yang tinggi dan percepatan migrasi. 2007
adalah tahun pertama di mana lebih banyak orang tinggal di daerah perkotaan
daripada di daerah pedesaan, dan pada tahun 2050 sekitar 66 persen dari
populasi dunia akan tinggal di kota. Megatren ini memiliki implikasi yang luas.
Hal ini mempengaruhi pembangunan ekonomi, lapangan kerja, distribusi
pendapatan, kemiskinan dan perlindungan sosial. Tren ini juga mempengaruhi
upaya untuk memastikan akses ke perawatan kesehatan, pendidikan, perumahan,
sanitasi, air, makanan, dan energi.
Jurang ketidaksetaraan tidak dipungkiri akan semakin lebar. Perubahan iklim, kekerasan, diskriminasi masih menjadi
ancaman. Pada bulan Mei 2022, lebih dari 100 juta orang mengungsi secara paksa
di seluruh dunia. Perubahan tataguna lahan dan jalur hijau yang semakin menurun
akibat perubahan lahan hijau menjadi perumahan dan industri, memaksa manusia
menerima dampak negatif dari pembangunan kawasan pemukiman dan industri tanpa
memperhatikan analisa dampak dan lingkungan. Polusi semakin parah yang
berakibat pada menurunnya kesehatan manusia saat ini.
Menghadapi pertambahan
populasi dunia menjadi 8 miliar
orang, berarti harus menciptakan 8
miliar peluang untuk masyarakat yang lebih sehat yang diberdayakan oleh hak dan
pilihan. Tapi di dunia saat ini, hal itu masih jauh dari kata sempurna. Masih
banyak orang yang terkena diskriminasi, pelecehan dan kekerasan. Tren Populasi
Dunia Butuh ratusan ribu tahun bagi populasi dunia untuk tumbuh menjadi 1
miliar ? kemudian hanya dalam 200 tahun atau lebih, populasi tumbuh tujuh kali
lipat. Pada tahun 2011, populasi global mencapai angka 7 miliar, mencapai
hampir 7,9 miliar pada tahun 2021, dan diperkirakan akan tumbuh menjadi sekitar
8,5 miliar pada tahun 2030, 9,7 miliar pada tahun 2050, dan 10,9 miliar pada
tahun 2100.
Diperlukan inovasi
teknologi berkelanjutan yang dapat memudahkan hidup penduduk dunia dalam
memenuhi kebutuhan esensi penduduk dunia. Inovasi teknologi bidang perikanan
budidaya atau akuakultur bisa menjadi salah satu upaya dalam menyediakan pakan
hewani dunia, penggunaan lahan terbatas untuk kegiatan perikanan budidaya mampu
memproduksi ikan sehat dan profitable
di mana ketahanan pangan terpenuhi dan kesejahteraan masyarakat
meningkat. Inovasi teknologi lainnnya saat ini sudah dikembangkan guna
memenuhi kebutuhan masyarakat di
segala bidang. Indonesia, melalui Badan Riset Inovasi
Nasional diharapkan mampu menjawab tantangan dalam menghadapai peningkatan
populasi manusia.
Untuk mengatasi
kebutuhan individu secara lebih berkelanjutan, pembuat kebijakan harus memahami
berapa banyak orang yang hidup di planet ini, di mana mereka berada, berapa
usia mereka, dan berapa banyak orang yang akan datang setelah mereka. Sumberdaya
alam dan bumi kita harus dijaga dan
dilestarikan dengan baik, kolaborasi dan koordinasi antar stakeholder diperlukan guna
mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan dan kemudahan akses masyarakat
dunia akan kesehatan, pendidikan, dan ketahanan pangan.