Insan UNIDA Bogor Laksanakan Shalat Idul Adha 1443 H, Maknai Nilai Berqurban untuk Tingkatkan Ketaqwaan dan Keikhlasan
Insan Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor bersama keluarga besar
Yayasan Pusat Studi Pengembangan Islam Amaliyah Indonesia (YPSPIAI) dan
Perguruan Amaliah melaksanakan Shalat Idul Adha 1443 Hijriyah di Masjid Baitul
Hamdi, Kampus UNIDA Bogor, pada Sabtu (9/7/2022). Pelaksanaan shalat Idul Adha
ini dipimpin oleh Ustadz Saddam Husein, SH., MH Al-Hafidz selaku imam dan Dr.
KH. Syamsudin Ali Nasution, MA selaku khatib.
Hadir dalam shalat Idul Adha ini diantaranya, Chancellor UNIDA
Bogor Dr. H. Martin Roestamy, SH., MH, Pro Chancellor UNIDA Bogor Dr. Abraham
Yazdi Martin, SH., M.Kn, Direktur Eksekutif YPSPIAI Dr. Hj. R. Siti Pupu
Fauziah, M.Pd.I, Rektor UNIDA Bogor Prof. Dr. Suhaidi, SH., MH beserta jajaran
pimpinan lainnya.
Dalam khutbah, Dr. KH. Syamsudin Ali Nasution, MA memaparkan
mengenai sejarah berqurban yang menjadi salah satu perintah dari Allah SWT
sejak pada zaman Nabi Adam AS.
“Ibadah qurban memiliki sejarah fenomenal, yang mana jika
diteliti masalah qurban itu maka asal mula awal qurban itu adalah bermula pada
periode Nabi Adam AS,” ujar Dr. KH. Syamsudin Ali Nasution, MA.
Dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 27 disebutkan yang
artinya, ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam, yakni Habil dan
Qabil menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka
diterima dari salah seorang dari mereka berdua yaitu Habil dan tidak diterima
dari Qabil.
“Ayat diatas menjelaskan, bahwa Allah SWT menerima qurban
Habil yang mengurbankan domba gemuk dan berkualitas karena ketaqwaan dan
keikhlasannya. Sementara Allah tidak menerima qurban Qabil, yang mengurbankan
sedikit tanaman dari bulir gandum karena kurang ketaqwaan dan keikhlasan,”
lanjutnya.
Hal ini menegaskan bahwasanya Allah SWT hanya akan menerima
qurban dari orang-orang yang bertaqwa. Dengan demikian, uang yang dipergunakan
untuk membeli atau mengadakan qurban haruslah dengan cara-cara yang halal,
bukan melalui cara yang bertolak belakang dari apa yang Allah perintahkan.
“Dari kisah di atas, kita bisa mencatat beberapa poin, yaitu
pertama, bagaimana sejarah qurban. Kedua, qurban hanya diterima dari
orang-orang muttaqin. Ketiga, qurban
yang berasal dari yang haram akan ditolak Allah. Keempat, sifat iri dengki
sudah ada dari zaman Nabi Adam AS. Kelima, anak seorang Nabi Allah pun memiliki
sifat tidak baik seperti itu, apalagi manusia biasa seperti kita, maka kita
harus melakukan usaha ekstra untuk pendidikan anak kita. Keenam, orang yang
selalu berqurban lebih dekat dengan Allah swt dan manusia sebagai bentuk hablumminallah dan hablumminannas. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang bisa
belajar dari ibadah qurban maupun ibadah haji,” pungkas Dr. KH. Syamsudin Ali
Nasution, MA.