[email protected] 0251-8240773
Berita

Insan UNIDA Bogor Laksanakan Shalat Idul Adha 1443 H, Maknai Nilai Berqurban untuk Tingkatkan Ketaqwaan dan Keikhlasan

Insan Universitas Djuanda (UNIDA) Bogor bersama keluarga besar Yayasan Pusat Studi Pengembangan Islam Amaliyah Indonesia (YPSPIAI) dan Perguruan Amaliah melaksanakan Shalat Idul Adha 1443 Hijriyah di Masjid Baitul Hamdi, Kampus UNIDA Bogor, pada Sabtu (9/7/2022). Pelaksanaan shalat Idul Adha ini dipimpin oleh Ustadz Saddam Husein, SH., MH Al-Hafidz selaku imam dan Dr. KH. Syamsudin Ali Nasution, MA selaku khatib.

Hadir dalam shalat Idul Adha ini diantaranya, Chancellor UNIDA Bogor Dr. H. Martin Roestamy, SH., MH, Pro Chancellor UNIDA Bogor Dr. Abraham Yazdi Martin, SH., M.Kn, Direktur Eksekutif YPSPIAI Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I, Rektor UNIDA Bogor Prof. Dr. Suhaidi, SH., MH beserta jajaran pimpinan lainnya.

Dalam khutbah, Dr. KH. Syamsudin Ali Nasution, MA memaparkan mengenai sejarah berqurban yang menjadi salah satu perintah dari Allah SWT sejak pada zaman Nabi Adam AS.

“Ibadah qurban memiliki sejarah fenomenal, yang mana jika diteliti masalah qurban itu maka asal mula awal qurban itu adalah bermula pada periode Nabi Adam AS,” ujar Dr. KH. Syamsudin Ali Nasution, MA.

Dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 27 disebutkan yang artinya, ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam, yakni Habil dan Qabil menurut yang sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua yaitu Habil dan tidak diterima dari Qabil.

“Ayat diatas menjelaskan, bahwa Allah SWT menerima qurban Habil yang mengurbankan domba gemuk dan berkualitas karena ketaqwaan dan keikhlasannya. Sementara Allah tidak menerima qurban Qabil, yang mengurbankan sedikit tanaman dari bulir gandum karena kurang ketaqwaan dan keikhlasan,” lanjutnya.

Hal ini menegaskan bahwasanya Allah SWT hanya akan menerima qurban dari orang-orang yang bertaqwa. Dengan demikian, uang yang dipergunakan untuk membeli atau mengadakan qurban haruslah dengan cara-cara yang halal, bukan melalui cara yang bertolak belakang dari apa yang Allah perintahkan.

“Dari kisah di atas, kita bisa mencatat beberapa poin, yaitu pertama, bagaimana sejarah qurban. Kedua, qurban hanya diterima dari orang-orang muttaqin. Ketiga, qurban yang berasal dari yang haram akan ditolak Allah. Keempat, sifat iri dengki sudah ada dari zaman Nabi Adam AS. Kelima, anak seorang Nabi Allah pun memiliki sifat tidak baik seperti itu, apalagi manusia biasa seperti kita, maka kita harus melakukan usaha ekstra untuk pendidikan anak kita. Keenam, orang yang selalu berqurban lebih dekat dengan Allah swt dan manusia sebagai bentuk hablumminallah dan hablumminannas. Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang bisa belajar dari ibadah qurban maupun ibadah haji,” pungkas Dr. KH. Syamsudin Ali Nasution, MA.