Mengenang Sejarah Kelam G 30-S/PKI
Salah satu peristiwa
kelam setelah kemerdekaan Indonesia adalah pemberontakan Partai Komunis Indonesia
atau biasa dikenal dengan G 30-S/PKI. Peristiwa tersebut terjadi pada tahun
1965 dan telah memberikan dampak besar bagi bangsa, bahkan beberapa dampak itu
masih dapat dirasakan hingga saat ini. Partai Komunis Indonesia (PKI) sendiri adalah
partai berlambang palu arit yang berlandaskan ideologi komunisme. Komunisme dikembangkan
oleh Karl Mark dimana faham ini lahir sebagai reaksi terhadap faham kapitalisme
di abad ke 19. Ajaran kapitalisme
mementingkan kepentingan pemilik modal dan mengesampingkan kaum buruh,
sedangkan ajaran komunisme menekankan kepada penguasaan negara dengan tujuan
kesamarataan warga dan mengesampingkan kepentingan individu.
Meski sekilas tampak
baik karena mementingkan kesamarataan, namun sesungguhnya ideologi komunisme
sangat berbahaya karena adanya konsep penolakan agama. Pemahaman yang tidak mengenal adanya Rabb sehingga mereka
tidak peduli dari agama manapun, akan mereka singkirkan jika berlawanan dengan
mereka. Kaum komunis menyatakan bahwa agama adalah hal yang harus
dihindari. Mereka menolak konsep Ketuhanan Yang Maha Esa sehingga ideologi ini
bertentangan dengan ideologi Pancasila.
Sebelum peristiwa G
30-S/PKI terjadi, PKI merupakan partai berhaluan komunis terbesar nomor tiga di
dunia setelah Partai Komunis Uni Soviet dan Partai Komunis Cina. PKI memiliki
pengaruh besar di Indonesia yang dapat dilihat dari kemenangan partai tersebut
pada pemilu 1955. Saat itu PKI menduduki posisi keempat dengan pemilih sebanyak
enam belas persen atau setara dengan dua juta orang penduduk Indonesia.
G 30-S/PKI merupakan
gerakan yang bertujuan untuk mengkudeta pemerintahan Presiden Sukarno dan
mengubah Indonesia menjadi negara komunis. Gerakan ini dipimpin oleh DN Aidit
yang saat itu merupakan ketua dari PKI. Peristiwa G 30-S/PKI telah memberikan
dampak negatif dalam kehidupan sosial dan politik masyarakat Indonesia. Bahkan
setelah peristiwa tersebut berakhir, kondisi politik Indonesia masih belum
stabil. Situasi nasional sangat menyedihkan karena kehidupan ideologi nasional belum
mapan. Sementara itu, kondisi politik juga belum stabil karena sering terjadi
konflik antar partai politik.
Di masa kini, peristiwa
G30-S/PKI dapat dijadikan sebagai pembelajaran berharga bagi generasi muda
Indonesia. Dengan banyaknya penderitaan yang dialami oleh bangsa Indonesia,
sudah selayaknya pemerintah Indonesia terus menggaungkan kewaspadaan terhadap
bahaya kebangkitan kaum komunis secara konsisten. Selain itu, pemerintah juga harus
terus memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa ideologi komunis adalah
ideologi yang terlarang di Indonesia. Sehingga tidak ada kemungkinan bagi
ideologi tersebut untuk kembali bangkit dan menguasai negeri kita tercinta. Sebagaimana
sabda Rasulullah SAW “Orang mukmin tidak
akan terperosok dua kali pada satu lobang.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Sumber:
Permata, H. 2015.
Gerakan 30 September 1965 dalam Perspektif Filsaft Sejarah Marxisme. Jurnal Filsafat, 25(2): 220-251.
Syukur, A. 2008.
Kehancuran Golongan Komunis di Indonesia. Jurnal
Sejarah Lontar, 5(2): 1-8.
Yanti, Fitri. 2017. Peristiwa G 30-S/PKI di
Balik Penetapan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 1965. Historia: Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah, 2(2): 33-40.