[email protected] 0251-8240773
Berita

UNIDA Gelar Seminar Karir, Siapkan Alumni Menjadi Generasi Berkarakter Tangguh dan Berdaya Saing

Universitas Djuanda (UNIDA) melalui Career Development Center (CDC) menyelenggarakan Seminar Karir dan Pembekalan Alumni yang diisi oleh Dosen Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNIDA Dr. Anas Alhifni, SE.I., M.Si., Al-Hafizh, Praktisi Pertanian Muda yang sekaligus juga merupakan alumni dari Fakultas Pertanian (FAPERTA) UNIDA Iqbal Habibi, S.P, serta Direktur Tawheed Center UNIDA Dr. M Rendi Ramdani, S.Pd, M.Pd pada Kamis (4/06/2026) secara daring melalui Zoom Cloud Meetings.

Wakil Rektor I UNIDA, Dr. Aal Lukmanul Hakim, S.H., M.H dalam sambutannya menekankan bahwa era persaingan global dewasa ini tidak cukup dijawab dengan kompetensi teknis semata. Dunia kerja dan dunia usaha kini semakin membutuhkan individu yang memiliki integritas, daya tahan mental, dan orientasi nilai yang kokoh. Di sinilah, menurutnya, keunggulan lulusan UNIDA harus dibuktikan, yakni melalui internalisasi 21 Nilai Karakter Tauhid.

“Seminar Karir ini bukan sekadar kegiatan seremonial menjelang wisuda. Ini adalah ruang refleksi sekaligus pembekalan agar para lulusan UNIDA benar-benar siap menghadapi dunia nyata, tidak hanya dengan ijazah di tangan, tetapi dengan karakter yang kuat dan akhlak yang mulia. UNIDA ingin melahirkan generasi yang menggenggam dunia tanpa melupakan akhirat,” ujarnya.

“Melalui seminar ini, kami ingin para lulusan menyadari satu hal yang mendasar, gelar sarjana adalah amanah, bukan sekadar prestasi pribadi. Amanah untuk terus belajar, amanah untuk memberikan manfaat, dan amanah untuk menjaga nama baik almamater di mana pun mereka berkarya. Itulah makna sejati menjadi lulusan UNIDA yang berkarakter Tauhid,” tambahnya.

Masuk ke pemateri pertama, Dr. H. Anas Alhifni, S.E.I., M.Si menyampaikan bekal penting bagi mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja.

“Perhatikan apa yang sering kamu pikirkan karena itu akan menjadi ucapan. Perhatikan apa yang sering kamu ucapkan karena itu akan menjadi tindakan. Perhatikan tindakan yang sering kamu lakukan karena itu akan menjadi kebiasaan. Kalau ingin berkarakter baik, harus dimulai dari pikiran,” tuturnya.

Di penghujung sesi, Dr. H. Anas Alhifni, S.E.I., M.Si berpesan agar para mahasiswa UNIDA menjadi generasi yang tidak hanya baik bagi diri sendiri, tetapi juga mampu memberikan kebaikan kepada orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Sementara itu Direktur Tawheed Center UNIDA, Dr. Rendi Ramdhani, M.Pd dalam paparannya menyoroti kondisi krisis akhlak yang tengah dihadapi Indonesia. Merujuk pada berbagai data survei, Indonesia tercatat sebagai negara ketiga tertinggi dalam kasus pembajakan perangkat lunak, menempati peringkat keenam negara terkorup dari sekitar 140 negara, sekaligus memiliki indeks kebebasan pers yang masih rendah. Akar persoalan tersebut dinilai bersumber dari lemahnya karakter sumber daya manusianya.

“Nilai-nilai Karakter Tauhid ini menjadi kompas para alumni dalam menjalani kehidupan, bukan hanya ketika masih menjadi mahasiswa, justru setelah lulus nilai-nilai ini perlu semakin dikuatkan di tempat bekerja maupun dalam membangun usaha. Alumni yang berkarakter dan berkompetensi adalah alumni yang insya Allah mampu berdaya saing,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Iqbal Habibi, S.P petani muda asal Sukaraja, Kabupaten Sukabumi, mendorong para lulusan untuk berani terjun membangun potensi lokal alih-alih sekadar mengejar posisi nyaman di perkotaan.

“Sebagai seorang anak desa yang terlahir dari keluarga petani, kemudian tumbuh dan besar di lingkungan pertanian, serta berkesempatan melanjutkan pendidikan dengan mengambil jurusan pertanian, maka sudah seharusnya saya kembali ke desa membangun Indonesia melalui pertanian,” ujarnya.

Iqbal Habibi, S.P membedah realita dunia kerja yang kerap berbeda dari ekspektasi para lulusan baru. Ia menegaskan bahwa dunia kerja bukanlah arena teoritis, melainkan arena implementasi dan praktik nyata yang lebih menuntut kekuatan mental daripada sekadar keahlian teknis.

“Wisuda bukan akhir perjuangan, melainkan awal pembuktian. Tentang bagaimana ilmu dijaga dengan adab, digunakan dengan amanah, dan dibawa tetap tunduk kepada Allah. Gelar hanyalah tulisan, sedangkan kemuliaan ada pada hati yang tetap rendah dan bermanfaat bagi sesama. Memulai karier membutuhkan pergeseran pola pikir dari rasa takut gagal menjadi komitmen untuk terus bertumbuh,” pungkasnya.