43 Tahun Perpustakaan Nasional Indonesia, Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Solusi Cerdas Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi Covid—19
Oleh:
Ruhimat, S.Sos., M.I.Kom
(Kabiro Perpustakaan Universitas Djuanda)
Hari ini Perpustakaan Nasional Republik
Indonesia berulang tahun yang ke 43, jika ditelusuri dan membaca literatur yang
ada , sejarah perpustakaan nasional ini mempunyai sejarah yang Panjang dari
awal pendiriannya sampai dengan sekarang, telah banyak inovasi, program-program
kegiatan dan kebijakan -kebijakan yang telah dibuat serta di implementasikan
dalam perjalanannya.
Dengan tema tema “Transformasi Perpustakaan Berbasis
Inklusi Sosial Solusi Cerdas Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi Covid—19”.
Perpustakaan Nasional melakukan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi
Sosial (TPBIS), Kepala perpustakaan nasional mengatakan program tersebut telah
berjalan selama 4 tahun, dimana menurutnya, dengan Program ini mampu menjadikan
perpustakaan sebagai pusat pengetahuan, wahana belajar, melahirkan inovasi, dan
kreativitas masyarakat. Menurutnya program tersebut menyasar masyarakat yang
termarjinalkan, seperti masyarakat di daerah kumuh, masyarakat di daerah
miskin, petani kecil, petambak kecil, buruh, pelaku usaha mikro, kecil, dan
menengah (UMKM), sampai ibu-ibu rumah tangga. Dan tegasnya mengatakan Jangan
mengajak membaca kepada orang yang sedang lapar. Tapi, harus punya strategi
bagaimana untuk melirik buku yang ada solusi jalan keluar dari masalah ekonomi,
khususnya saat pandemi,".
Oleh karena
itu perpustakaan harus berperan aktif
dalam menjangkau masyarakat , bukan sekedar tempat menyimpan buku, Dalam paradigma baru
perpustakaan, bahwa 10 persen perpustakaan menjalankan fungsi manajemen
koleksi, sementara 20 persen untuk manajemen ilmu pengetahuan, serta 70 persen
untuk mentransfer ilmu pengetahuan.
Jadi perpustakaan sekarang ini tidak hanya kerja-kerja
teknis, akan tetapi Perpustakaan
dapat mengambil peran bukan hanya sebagai pusat informasi, lebih dari itu
perpustakaan dapat bertransformasi menjadi tempat dalam pengembangan diri
masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Inklusi
sosial itu sendiri jika kita simpulkan adalah peningkatan kemampuan,
kesempatan, dan martabat individu dalam masyarakat.
Sebenarnya program transformasi perpustakaan itu
sendiri sebenarnya telah dijalankan sejak 2018. Oleh karena itu Perpustakaan
harus dapat mencerdaskan, perpustakaan harus bertransformasi untuk mengubah
paradigma yang eksklusif menjadi inklusif.
Akhir
kata, selamat hari jadi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Ke 43, semoga
diusianya yang sekarang Perpustakaan Nasional semakin dapat menjalankan fungsi
dan tujuan serta wewenang dan menjadi pusat rujukan nasional maupun
internasional.