[email protected] 0251-8240773
Berita

43 Tahun Perpustakaan Nasional Indonesia, Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Solusi Cerdas Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi Covid—19

Oleh: Ruhimat, S.Sos., M.I.Kom

(Kabiro Perpustakaan Universitas Djuanda)

Hari ini Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berulang tahun yang ke 43, jika ditelusuri dan membaca literatur yang ada , sejarah perpustakaan nasional ini mempunyai sejarah yang Panjang dari awal pendiriannya sampai dengan sekarang, telah banyak inovasi, program-program kegiatan dan kebijakan -kebijakan yang telah dibuat serta di implementasikan dalam perjalanannya.

Dengan tema tema “Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Solusi Cerdas Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi Covid—19”. Perpustakaan Nasional melakukan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), Kepala perpustakaan nasional mengatakan program tersebut telah berjalan selama 4 tahun, dimana menurutnya, dengan Program ini mampu menjadikan perpustakaan sebagai pusat pengetahuan, wahana belajar, melahirkan inovasi, dan kreativitas masyarakat. Menurutnya program tersebut menyasar masyarakat yang termarjinalkan, seperti masyarakat di daerah kumuh, masyarakat di daerah miskin, petani kecil, petambak kecil, buruh, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sampai ibu-ibu rumah tangga. Dan tegasnya mengatakan Jangan mengajak membaca kepada orang yang sedang lapar. Tapi, harus punya strategi bagaimana untuk melirik buku yang ada solusi jalan keluar dari masalah ekonomi, khususnya saat pandemi,".

Oleh karena itu  perpustakaan harus berperan aktif dalam menjangkau masyarakat , bukan sekedar tempat menyimpan buku, Dalam paradigma baru perpustakaan, bahwa 10 persen perpustakaan menjalankan fungsi manajemen koleksi, sementara 20 persen untuk manajemen ilmu pengetahuan, serta 70 persen untuk mentransfer ilmu pengetahuan.

Jadi perpustakaan sekarang ini tidak hanya kerja-kerja teknis, akan tetapi Perpustakaan dapat mengambil peran bukan hanya sebagai pusat informasi, lebih dari itu perpustakaan dapat bertransformasi menjadi tempat dalam pengembangan diri masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Inklusi sosial itu sendiri jika kita simpulkan adalah peningkatan kemampuan, kesempatan, dan martabat individu dalam masyarakat.

 Sebenarnya program transformasi perpustakaan itu sendiri sebenarnya telah dijalankan sejak 2018. Oleh karena itu Perpustakaan harus dapat mencerdaskan, perpustakaan harus bertransformasi untuk mengubah paradigma yang eksklusif menjadi inklusif.

Akhir kata, selamat hari jadi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Ke 43, semoga diusianya yang sekarang Perpustakaan Nasional semakin dapat menjalankan fungsi dan tujuan serta wewenang dan menjadi pusat rujukan nasional maupun internasional.