Dr. Bambang Widjojanto Beri Tausyiah dalam Halalbihalal UNIDA, Maknai Idulfitri sebagai Momentum Kembali ke Fitrah dan Perbaiki Bangsa
Universitas Djuanda (UNIDA) bersama Insan Yayasan Pusat Studi Pengembangan Islam Amaliyah Indonesia (YPSPIAI) menyelenggarakan Halalbihalal 1446 Hijriah di Gedung C UNIDA, menghadirkan Dr. H. Bambang Widjojanto, S.H., M.Sc., Wakil Ketua KPK RI Periode 2011–2015 sekaligus Dosen Sekolah Pascasarjana UNIDA sebagai penceramah tausyiah.
Dalam tausyiahnya, Dr. Bambang mengangkat tema makna sejati dari Idulfitri yang ia sebut sebagai audah ila al-fithrah, atau kembalinya manusia pada fitrah kesucian. Menurutnya, Idulfitri bukan hanya momen kebahagiaan setelah berpuasa, tetapi menjadi momentum untuk memperbaharui kesadaran spiritual dan komitmen moral terhadap kehidupan pribadi dan sosial.
“Idulfitri adalah puncak dari proses pensucian diri setelah Ramadhan. Ini bukan hanya tentang kemenangan personal, melainkan panggilan untuk kembali kepada nilai-nilai kesucian, ketulusan, dan kejujuran. Kesucian yang kita raih tidak boleh berhenti di bilik ibadah, namun harus mengalir dalam kehidupan sosial, berbangsa, dan bernegara,” ujar Dr. Bambang.
Ia menggambarkan bahwa dalam konteks kebangsaan, fitrah itu bagaikan embun suci yang terperangkap di daun yang koyak dan lapuk. Artinya, upaya untuk menjaga kesucian sangat rentan di tengah tantangan zaman, terutama ketika integritas dan akal sehat kerap kali dikalahkan oleh kepentingan pragmatis.
Lebih lanjut, Dr. Bambang menyoroti fenomena sosial yang mencerminkan krisis moral dan integritas. Ia menyebutkan masih maraknya praktik koruptif, perilaku konsumtif yang berlebihan, eksibisionisme, serta mentalitas permisif yang justru tumbuh subur di tengah kemiskinan struktural. Dalam kondisi ini, menurutnya, nilai-nilai spiritual yang diperoleh selama Ramadhan harus dijadikan kekuatan untuk memperbaiki keadaan.
“Tidak boleh lagi ada pembiaran terhadap kebohongan yang dilapisi dengan legalitas semu. Korupsi tidak bisa ditoleransi. Kita harus menghidupkan kembali nurani kebangsaan yang sehat, dan memosisikan kesucian sebagai fondasi dalam berbangsa dan bernegara,” tegasnya.
Dr. Bambang juga mengajak seluruh insan UNIDA, yang dikenal sebagai Kampus Bertauhid, untuk bermuhasabah dan mewakafkan sebagian waktu dan potensi mereka demi kemaslahatan umat dan bangsa. Ia menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat gotong royong, bukan hanya sebagai budaya, tapi sebagai kekuatan sosial dan kesadaran kolektif.
“Fitrah tidak hanya bersifat individual, namun juga sosial. Maka puasa Ramadhan dan Idulfitri harus mengarah pada pembentukan etika sosial dan kesalehan publik. Mari kita jadikan gotong royong sebagai instrumen transformatif untuk membangun kekuatan umat dan rakyat,” ujarnya.
Mengutip pandangan ulama seperti Ibn ‘Asyur dan Ibn al-Qayyim, Dr. Bambang menyampaikan bahwa fitrah mencakup dua dimensi, yaitu jasadiyah (fisik) dan aqliyah (intelektual). Fitrah intelektual, menurutnya, adalah kemampuan berpikir kritis dan rasional untuk mencari ilmu dan kebenaran—yang sejalan dengan nilai-nilai pendidikan tinggi.
Ia mengibaratkan Ramadhan sebagai "kampus kehidupan", tempat umat Islam ditempa dengan kurikulum spiritual berupa nilai, norma, anjuran, dan larangan. Maka lulusan dari kampus Ramadhan seharusnya menjadi agen perubahan yang membawa kebaikan, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi masyarakat luas.
“Kita sedang menghadapi musim paceklik fitrah sosial. Krisis ini hanya bisa diatasi dengan menyatukan kekuatan personal yang baik ke dalam gerakan sosial yang lebih besar dan terorganisasi,” pungkasnya.