Akhlak Istri Terhadap Suami
Oleh:
Tiana Fitrilia, S.Pd., M.Si (Kepala Program Studi Teknologi Pangan Fakultas
Ilmu Pangan Halal Universitas Djuanda Bogor)
Kajian
Muslimah
Jumat,
24 Juni 2022 / 24 Dzulqa?dah 1443 H
Bismillahirahmanirrahim.
Segala puji hanya milik Allah. Kita memuji
Allah, meminta pertolongan dan memohon ampunan kepada Allah. Kita berlindung
kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal kita. Siapa yang Allah beri
petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya dan siapa yang disesatkan oleh
Allah, maka tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Kita bersaksi
bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi kecuali Allah dan tidak ada sekutu
bagi-Nya. Kita bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.
Sebuah kisah teladan di masa lampau.
Seorang perempuan yang semasa hidupnya selalu menjaga kehormatan diri.
Perempuan yang sangat disegani banyak orang, memiliki paras wajah yang cantik,
harta yang berlimpah dan juga dermawan. Perempuan tersebut adalah Ibunda
Khadijah binti Khuwailid. Istri pertama Rasulullah shallallahu ?alaihi wa sallam yang sangat dicintai, bahkan
kecintaan Rasullah kepada ibunda Khadijah mendatangkan rasa cemburu dari istri
Rasulullah yang lain selepas Khadijah meninggal. Suatu hari, Aisyah radhiyallahu ?anha pernah berkata:
?Aku tidak tidak pernah cemburu kepada
seorang pun dari istri Nabi shallallahu
?alaihi wa sallam seperti cemburuku kepada Khadijah, padahal aku tidak
pernah melihatnya, akan tetapi Nabi shallallahu
?alaihi wa sallam selalu menyebutnya? (H.R. Bukhari).
Amalan
apa yang menjadikan Ibunda Khadijah menjadi cinta sepanjang masa bagi
Rasulullah ?
Sejarah mencatat bahwa ibunda Khadijah
adalah sosok perempuan istimewa di sisi Rasulullah. Khadijah mendampingi
Rasulullah dengan segala pengorbanannya baik harta, jiwa maupun raga. Tidak
pernah ada rasa lelah saat membersamai Rasulullah dalam menegakkan kalimat
Allah di muka bumi. Ibunda Khadijah selalu memberi semangat bagi Rasulullah
untuk mencari kebenaran. Hingga suatu saat Rasulullah berdiam diri di Gua Hira
untuk mendapatkan wahyu. Ibunda Khadija lah dengan sukarela menyiapkan
perbekalan untuk Rasulullah. Bahkan ketika Rasulullah mendapat wahyu untuk
pertama kali, ibunda Khadijah dengan kecerdasan yang Allah berikan mampu menenangkan
Rasulullah ditengah guncangan yang melanda. Kalimat ketenangan yang keluar dari
lisan seorang istri Sholihah yakni:
?Demi Allah, Allah tidak akan
menghinakanmu selama-lamanya. Karena sungguh engkau suka menyambung
silaturahmi, menanggung kebutuhan orang yang lemah, menutup kebutuhan orang
yang tidak punya, menjamu dan memuliakan tamu dan engkau menolong setiap upaya
menegakkan kebenaran? (HR. Muttafaqun ?alaih).
Dari sini kita belajar. Belajar memahami
bahwa begitu besar peran istri untuk mewujudkan sakinah/ketenangan dalam bingkai rumah tangga. Sebagaimana
firman Allah:
?Dialah yang menciptakan kamu dari diri
yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang
(Sakinah) kepadanya? (QS Al-A?raf : 189).
Sebagai manusia, kita memiliki naluri
untuk mengikuti orang-orang yang lebih baik dari kita. Zaman sekarang tidak
sedikit dari kita yang mengidolakan public figure dengan beragam alasan baik
karena ilmunya, kecerdasannya ataupun kecantikannya. Kisah ibunda Khadijah
selayaknya menjadi teladan terutama bagi kita seorang muslimah yang sudah
menyandang gelar sebagai istri. Ada banyak kewajiban yang harus kita penuhi bersama
suami untuk mewujudkan keluarga yang sakinah
(ketentraman jiwa), mawaddah
(rasa cinta) dan rahmah (kasih sayang).
Semua itu akan terwujud atas izin Allah, maka berdoa dan meminta pertolongan
kepada Allah menjadi kunci utama untuk meraihnya.
Islam mengajarkan kita untuk memiliki
akhlak yang baik kepada semua orang, termasuk kepada suami. Dalam sebuah hadist
yang diriwayatkan oleh Tirmidzi disampaikan bahwa ?Orang mukmin yang paling
sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya?. Akhlak merupakan suatu
perbuatan yang didorong atas keinginan untuk melakukan perbuatan yang baik.
Akhlak yang baik muncul sebagai buah dari ibadah kita kepada Allah yang
dengannya mendorong kita untuk menunaikan apa yang menjadi kewajiban kita
sebagai istri. Allah telah memerintahkan kepada para istri untuk menunaikan apa
yang menjadi hak suami karena hak suami atas istri sangat agung dan mulia. Adapun
kewajiban istri dalam memenuhi hak suami yakni 1). Menaati suami, 2).
Berpenampilan baik dihadapan suami, 3). Selalu mencari ridho suami, 4). Meminta
izin suami, 5). Berpuasa sunnah dengan seizing suami, 6). Melayani suami dengan
baik, 7). Menjaga harta dan kehormatan suami, 8). Menjaga perasaan dan
mensyukuri kebaikan suami.
Semoga hidayah Allah selalu menyertai kita
dan Allah mudahkan bagi kita dalam menjemput Sakinah, mawaddah warahmah dalam
berumah tangga. Aamiin.