[email protected] 0251-8240773
Berita

Al-Islam sebagai Pendidikan

Oleh : Radif Khotamir Rusli, M.Ed.

(Sekretaris Universitas/Dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru Universitas Djuanda Bogor)


Terdapat empat alasan mengenai Islam sebagai agama wahyu yang murni. Pertama, Nama Islam secara jelas disebutkan di dalam kitab suci, yaitu al-Quran, di mana Allah menyebutkan nama agama (al-dîn) yaitu agama bernama Islam (QS. Ali Imran 3). Sementara agama-agama lain penamaan agamanya dibuat oleh manusia dan dinisbahkan kepada orang atau tempat; Indus untuk Hindu, Buddha adalah seorang mahaguru, Katolik atau Kristen dinisbatkan kepada The Christ yang merupakan terjemahan dari al-Masih, dan Yahudi yang dinisbahkan kepada Yehuda salah seorang dari 12 putra Yacoob (Israil), sehingga keturunan selanjutnya disebut “Bani Israil.”

Kedua,  Islam sebagai agama wahyu yang “final.” Artinya seluruh ajaran yang terkandung di dalamnya bersifat absolut, tidak berubah-ubah sepanjang zaman. Cara ibadah sholat, puasa, zakat, haji memiliki prosedur yang sama. Jumlah rakaat sholat dari mulai Subuh 2 rakaat hingga Isya 4 rakaat tidak ada perbedaan di belahan bumi manapun, bahkan semua suku bangsa dari segenap penjuru dunia menghadap ke satu arah qiblat, yaitu Ka’bah. Artinya, jika sudah final, tidak ada lagi perubahan-perubahan terhadap ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah dan rasul-Nya. Ketetapan tersebut dicatat dengan jelas dengan kesempurnaan syari’at melalui satu khutbah wada’ saat Rasulullah melaksanakan haji, dan nama Islam dengan segara ketentuannya telah mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Sebagaimana disebut di dalam QS. Al-Maidah: 3 (wa radhîtu lakum al-islâma dînan).

Ketiga, Islam memiliki role-model, teladan, atau uswah hasanah yaitu sosok Kanjeng Rosulullah Muhammad SAW. (QS. Al-ahzab: 21) yang segala perilaku, perkataan dan keputusannya menjadi hukum dan ketentuan yang setiap Muslim akan memaksa dirinya untuk sekuat tenaga mengikutinya. Tata cara dari mulai bangun tidur, mandi, makan, berolahraga, bersosialisasi, belajar, berdagang, bekerja, dan hingga mau tidur lagi semuanya mencontoh kepada tata cara yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Keempat, Islam memiliki nama dan konsep Tuhan berlandaskan kepada Islamic Worldview (pandangan alam Islam), konsep Tuhan di dalam Islam tersebut dirumuskan berdasarkan kepada wahyu, dengan sifat yang khas dan berbeda dengan ajaran agama lainnya. Nama Allah adalah nama absolut di dalam Islam yang penyebutannya secara khusus, memiliki tempat tertinggi bagi setiap Muslim yang mengalahkan apapun. Nama Allah sebagai Tuhan yang disembah adalah autentik dan final. Itulah ajaran yang digariskan di dalam wahyu seperti termaktub di dalam QS. Taha : 14.

Selanjutnya Konsep ilmu dalam Islam menangkis telak tentang teori asal-usul manusia dari bangsa kera. Menurut buku-buku sekolah, Pendekatan Agama dan Pendekatan Sains dalam upaya memahami realitas alam semesta dipandang berbeda. Karena agama menurut versi barat, berada dalam tingkat eksistensial dan transsendental sementara sains berada pada tingkat faktual fenomenal (pembuktian empiris), sehingga pendekatan agama dikatakan tidak dapat dicampuradukkan dengan pendekatan sains. Itulah cara pandang barat yang paradoks dan sangat sekuler. Cara pandang epistemologis seperti ini tentunya tidak dapat diterima yang memisahkan antara “pancaindera” (sebagai alat empiris), “akal” dan “khabar shadiq” (true report) atau wahyu sebagai sumber ilmu. Ketiga sumber ilmu tersebut di dalam Islam tentu memiliki tempat tertinggi sebagai pembuktian dan sumber informasi primer, sebagaimana disebutkan di dalam kitab ‘Aqaid al-Nasâfiyyah, bahwa sebab manusia mendapatkan ilmu itu ada tiga: pancaindera, akal, dan khabar shadiq. Dalam epistemologi pembuktian kesahihan satu hadits, Imam Bukhari dan Imam Muslim telah menelusuri identitas para perawi, jika mereka itu tergolong orang-orang terpercaya (tsiqah), maka hadits yang dikabarkannya menjadi sahih. Namun jika hadits yang dikabarkannya melalui orang-orang cacat secara mental ataupun prilaku, maka hadits tersebut menjadi turun derajat kesahihannya. Hal tersebut sangat masuk akal adanya, karena bisa jadi perawi hadits tersebut memiliki sifat lupa dan kurang kuat hafalannya. Metode ini dikenal dengan ilmu musthalah al-hadits riwayat, yang kenyataannya tidak pernah berlaku di dunia barat.

Secara ontologis, pemaknaan manusia sebagai obyek pengetahuan, menurut pandangan sekuler pun salah alamat, karena mereka mendefinisikan manusia hanya sebatas aspek fisik saja, yang terdiri dari daging dan tulang belulang, sehingga patut disebut sebagai “sejarah tulang manusia,” bukan sejarah manusia seutuhnya yang terdiri dari entitas ruh dan entitas jasad. Karena menurut wahyu, manusia terdiri dari ruh dan jasad.

Teori manusia kera ini telah mendegradasi hakikat manusia itu sendiri, maka secara aksiologis tidaklah manusia yang dahulu dianggap sebagai manusia gua itu hanya hidup secara materialistik untuk mempertahankan diri dengan cara mencari makan belaka. Sedangkan menurut wahyu diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Adapun makan, minum dan beraktivitas, kesemuanya itu merupakan faktor pendukung untuk dapat beribadah dengan benar. Sehingga dengan demikian, pencapaian kebahagiaan sebagai tujuan hidup manusia tidak berlandaskan kepada kesempurnaan materialistik sebagaimana yang digagas di dalam teori manusia kera, melainkan kebahagiaan dalam beribadah, kebahagiaan dalam mengimani kekuasaan Allah SWT.

Akhirnya, dengan mengenal Islam secara benar dan utuh, pemahaman tentang Pendidikan juga praktis menjadi benar dan utuh, karena didasari tidak hanya berbekal kemampuan logika akal belaka, tetapi juga ditopang secara kokoh oleh wahyu sebagai “khabar shadiq” yang mampu mengantarkan seorang hamba sekaligus khalifah menjadi manusia muslim yang seutuhnya. In sya-Allah.

Wallahu yaqulul-haqq wahuwa yahdis-sabil.

Bogor, 15 Juli 2022