Al-Islam sebagai Pendidikan
Oleh : Radif Khotamir Rusli, M.Ed.
(Sekretaris Universitas/Dosen Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru Universitas Djuanda Bogor)
Terdapat empat alasan mengenai Islam sebagai
agama wahyu yang murni. Pertama, Nama Islam secara jelas disebutkan di dalam
kitab suci, yaitu al-Quran, di mana Allah menyebutkan nama agama (al-dîn)
yaitu agama bernama Islam (QS. Ali Imran 3). Sementara agama-agama lain
penamaan agamanya dibuat oleh manusia dan dinisbahkan kepada orang atau tempat;
Indus untuk Hindu, Buddha adalah seorang mahaguru, Katolik atau Kristen
dinisbatkan kepada The Christ yang
merupakan terjemahan dari al-Masih, dan Yahudi yang dinisbahkan kepada Yehuda
salah seorang dari 12 putra Yacoob (Israil), sehingga keturunan selanjutnya
disebut “Bani Israil.”
Kedua, Islam
sebagai agama wahyu yang “final.” Artinya seluruh ajaran yang terkandung di
dalamnya bersifat absolut, tidak berubah-ubah sepanjang zaman. Cara ibadah
sholat, puasa, zakat, haji memiliki prosedur yang sama. Jumlah rakaat sholat
dari mulai Subuh 2 rakaat hingga Isya 4 rakaat tidak ada perbedaan di belahan
bumi manapun, bahkan semua suku bangsa dari segenap penjuru dunia menghadap ke
satu arah qiblat, yaitu Ka’bah. Artinya, jika sudah final, tidak ada lagi
perubahan-perubahan terhadap ketentuan yang sudah digariskan oleh Allah dan
rasul-Nya. Ketetapan tersebut dicatat dengan jelas dengan kesempurnaan syari’at
melalui satu khutbah wada’ saat Rasulullah melaksanakan haji, dan nama Islam
dengan segara ketentuannya telah mendapatkan keridhaan dari Allah SWT. Sebagaimana
disebut di dalam QS. Al-Maidah: 3 (wa radhîtu lakum al-islâma dînan).
Ketiga, Islam memiliki role-model,
teladan, atau uswah hasanah yaitu sosok Kanjeng Rosulullah Muhammad SAW.
(QS. Al-ahzab: 21) yang segala perilaku, perkataan dan keputusannya menjadi
hukum dan ketentuan yang setiap Muslim akan memaksa dirinya untuk sekuat tenaga
mengikutinya. Tata cara dari mulai bangun tidur, mandi, makan, berolahraga,
bersosialisasi, belajar, berdagang, bekerja, dan hingga mau tidur lagi semuanya
mencontoh kepada tata cara yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Keempat, Islam memiliki nama dan konsep Tuhan
berlandaskan kepada Islamic Worldview (pandangan alam Islam), konsep
Tuhan di dalam Islam tersebut dirumuskan berdasarkan kepada wahyu, dengan sifat
yang khas dan berbeda dengan ajaran agama lainnya. Nama Allah adalah nama
absolut di dalam Islam yang penyebutannya secara khusus, memiliki tempat
tertinggi bagi setiap Muslim yang mengalahkan apapun. Nama Allah sebagai Tuhan
yang disembah adalah autentik dan final. Itulah ajaran yang digariskan di dalam
wahyu seperti termaktub di dalam QS. Taha : 14.
Selanjutnya Konsep ilmu dalam Islam menangkis
telak tentang teori asal-usul manusia dari bangsa kera. Menurut buku-buku
sekolah, Pendekatan Agama dan Pendekatan Sains dalam upaya memahami realitas
alam semesta dipandang berbeda. Karena agama menurut versi barat, berada dalam
tingkat eksistensial dan transsendental sementara sains berada pada tingkat faktual
fenomenal (pembuktian empiris), sehingga pendekatan agama dikatakan tidak dapat
dicampuradukkan dengan pendekatan sains. Itulah cara pandang barat yang paradoks
dan sangat sekuler. Cara pandang epistemologis seperti ini tentunya tidak dapat
diterima yang memisahkan antara “pancaindera” (sebagai alat empiris), “akal”
dan “khabar shadiq” (true report) atau wahyu sebagai sumber ilmu.
Ketiga sumber ilmu tersebut di dalam Islam tentu memiliki tempat tertinggi
sebagai pembuktian dan sumber informasi primer, sebagaimana disebutkan di dalam
kitab ‘Aqaid al-Nasâfiyyah, bahwa sebab manusia mendapatkan ilmu itu ada
tiga: pancaindera, akal, dan khabar
shadiq. Dalam epistemologi pembuktian kesahihan satu hadits, Imam Bukhari
dan Imam Muslim telah menelusuri identitas para perawi, jika mereka itu
tergolong orang-orang terpercaya (tsiqah),
maka hadits yang dikabarkannya menjadi sahih. Namun jika hadits yang
dikabarkannya melalui orang-orang cacat secara mental ataupun prilaku, maka
hadits tersebut menjadi turun derajat kesahihannya. Hal tersebut sangat masuk
akal adanya, karena bisa jadi perawi hadits tersebut memiliki sifat lupa dan
kurang kuat hafalannya. Metode ini dikenal dengan ilmu musthalah al-hadits
riwayat, yang kenyataannya tidak pernah berlaku di dunia barat.
Secara ontologis, pemaknaan manusia sebagai obyek
pengetahuan, menurut pandangan sekuler pun salah alamat, karena mereka
mendefinisikan manusia hanya sebatas aspek fisik saja, yang terdiri dari daging
dan tulang belulang, sehingga patut disebut sebagai “sejarah tulang manusia,”
bukan sejarah manusia seutuhnya yang terdiri dari entitas ruh dan entitas
jasad. Karena menurut wahyu, manusia terdiri dari ruh dan jasad.
Teori manusia kera ini telah mendegradasi hakikat
manusia itu sendiri, maka secara aksiologis tidaklah manusia yang dahulu
dianggap sebagai manusia gua itu hanya hidup secara materialistik untuk
mempertahankan diri dengan cara mencari makan belaka. Sedangkan menurut wahyu
diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Adapun makan,
minum dan beraktivitas, kesemuanya itu merupakan faktor pendukung untuk dapat
beribadah dengan benar. Sehingga dengan demikian, pencapaian kebahagiaan
sebagai tujuan hidup manusia tidak berlandaskan kepada kesempurnaan
materialistik sebagaimana yang digagas di dalam teori manusia kera, melainkan
kebahagiaan dalam beribadah, kebahagiaan dalam mengimani kekuasaan Allah SWT.
Akhirnya, dengan mengenal Islam secara benar dan
utuh, pemahaman tentang Pendidikan juga praktis menjadi benar dan utuh, karena
didasari tidak hanya berbekal kemampuan logika akal belaka, tetapi juga
ditopang secara kokoh oleh wahyu sebagai “khabar
shadiq” yang mampu mengantarkan seorang hamba sekaligus khalifah menjadi
manusia muslim yang seutuhnya. In sya-Allah.
Wallahu yaqulul-haqq wahuwa yahdis-sabil.
Bogor, 15 Juli 2022