Angkat Isu Krisis Karakter Generasi Muda, Mahasiswa UNIDA Raih Bronze Medal pada Lomba Esai Nasional LETIN 7
Muhammad Rafi Al-Hakim, mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) Universitas Djuanda (UNIDA) berhasil meraih Bronze Medal dalam ajang Lomba Esai Tingkat Nasional (LETIN) 7 Bidang Pendidikan yang diselenggarakan di Yogyakarta pada 14–15 Februari 2026. Kompetisi tersebut merupakan ajang esai nasional yang diselenggarakan oleh Lembaga Setara Prisma Nusantara (Nusantara Muda) bekerja sama dengan Universitas Janabadra Yogyakarta.
Diwawancarai tim Humas UNIDA pada (21/02/2026) Muhammad Rafi Al-Hakim menuturkan ajang ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia untuk menuangkan gagasan kritis, solutif, dan inovatif di bidang pendidikan.
“Lomba LETIN 7 bidang pendidikan yang saya ikuti ini merupakan ajang kompetitif esai tingkat nasional. Kompetisi ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk menuangkan gagasan kritis, solutif, dan inovatif. Kemudian di Kota Yogyakarta saya mempresentasikan esai yang saya buat dalam bentuk poster,” ujar Rafi.
Dalam kompetisi tersebut, Rafi mengangkat esai berjudul “Pendidikan di Tengah Krisis Karakter Generasi Muda: Mencari Kembali Makna dan Kesadaran”. Ia menjelaskan bahwa proses penyusunan esai tidak dilakukan secara instan, melainkan melalui pematangan ide yang didukung data dan kajian yang relevan.
“Persiapan saya tidak instan, lebih kepada proses pematangan ide yang disertai data. Setelah menemukan idenya, saya membuat kerangka tulisan. Beberapa kali saya baca kembali dan revisi sendiri untuk memastikan argumennya kuat dan bahasanya jelas,” tuturnya.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam kompetisi ini adalah bagaimana menghadirkan gagasan yang tidak normatif dan memiliki pembeda. Di sisi lain, ia harus membagi waktu di tengah kesibukan akademik dan organisasi.
“Tantangan terbesarnya adalah bagaimana membuat tulisan saya berbeda. Saya harus memastikan gagasannya tidak hanya normatif. Di tengah kesibukan akademik dan organisasi, saya harus menyelesaikan esai dengan kualitas maksimal. Ada juga momen overthinking karena terdistraksi oleh peserta lain yang mempunyai tim, sedangkan saya individu. Tapi justru di situ saya belajar mengelola tekanan dan percaya pada setiap proses yang sudah saya jalani,” ungkapnya.
Lebih lanjut Rafi mengatakan bahwa motivasinya mengikuti kompetisi ini bukan semata untuk meraih kemenangan, tetapi untuk menguji kapasitas diri.
“Saya ingin tahu sejauh mana gagasan dan pola pikir saya bisa bersaing di tingkat nasional. Bagi saya, kompetisi seperti ini adalah ruang untuk naik level, baik secara intelektual maupun mental,” ujarnya.
Raihan Bronze Medal ini, lanjut Rafi, menjadi titik refleksi sekaligus loncatan untuk meningkatkan standar pribadi. Ia memilih bidang pendidikan karena melihatnya sebagai fondasi perubahan di berbagai aspek kehidupan.
“Pencapaian ini juga memotivasi saya untuk lebih aktif menulis dan mengikuti forum ilmiah lainnya. Saya melihatnya sebagai awal untuk jejak akademik yang lebih konsisten dan kuat ke depannya,” jelasnya.
Sebagai penutup Rafi menyampaikan pesan kepada mahasiswa lainnya agar berani untuk berkompetisi untuk meningkatkan kualitas diri sebagai mahasiswa.
“Jangan pernah takut untuk memulai. Yang membedakan orang biasa dan orang berprestasi bukan semata soal bakat, tetapi keberanian mengambil langkah pertama. Kalah itu biasa, ditolak itu wajar, tapi tidak mencoba adalah penyesalan yang paling lama. Jadi mulai saja dulu, uji diri, dan biarkan proses yang membentuk kualitas kita,” pesannya.
Ke depan, Rafi menegaskan tidak ingin berhenti pada capaian ini. Ia berkomitmen untuk terus mengembangkan kemampuan menulis, berpikir kritis dan inovatif, memperluas jejaring, serta mengikuti berbagai kompetisi maupun forum ilmiah lainnya.