[email protected] 0251-8240773
Prestasi

Angkat Isu Pendidikan 3T Melaui Inovasi Platform “Sekolah Nusantara”, Mahasiswa FILKOM UNIDA Raih Juara II Lomba Essay Indonesia National IT Competition 2025

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Djuanda (UNIDA), Muhammad Sahrulloh Nursa’ban, berhasil meraih Juara II Indonesia National IT Competition 2025 pada kategori Essay dengan karya berjudul “Ekosistem Melalui Platform ‘Sekolah Nusantara’: Optimalisasi Infrastruktur Digital untuk Standardisasi Kualitas Pendidikan dan Literasi Siswa di Daerah 3T.” Kompetisi tingkat nasional ini diselenggarakan oleh Universitas Amikom Purwokerto pada 17 Desember 2025 dan diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia.  

Indonesia National IT Competition (IndoNeris) merupakan ajang tahunan yang diperuntukkan bagi generasi muda di bidang teknologi informasi. Kompetisi ini menghadirkan berbagai cabang lomba, seperti data mining, programming, UI/UX, hingga essay, yang bertujuan mendorong inovasi dan pemikiran kritis di bidang IT.

Diwawancarai tim Humas UNIDA pada Kamis (18/12/2025), Muhammad Sahrulloh Nursa’ban menjelaskan alasannya memilih fokus pada isu pendidikan di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) dengan pendekatan pemanfaatan teknologi secara optimal.

“Keunikan karya saya terletak pada sudut pandang permasalahan. Saya tidak hanya melihat kekurangan infrastruktur teknologi di daerah 3T, tetapi bagaimana masyarakat di sana dapat memanfaatkan teknologi yang ada secara maksimal,” ujar Sahrulloh.

Ketertarikannya pada dunia teknologi informasi telah tumbuh sejak bangku SMA. Saat ini, ia menekuni bidang Front-End Developer, namun juga memiliki ketertarikan kuat pada dunia kepenulisan, khususnya essay. Hal inilah yang mendorongnya untuk mengikuti kompetisi tersebut.

“Saya ingin mengasah kemampuan menulis sekaligus memadukannya dengan bidang IT yang sedang saya tekuni. Sejak awal kuliah saya memang menyukai penulisan essay dan sudah beberapa kali mencoba mengikuti lomba. Alhamdulillah, kali ini bisa meraih juara,” katanya.

Proses persiapan lomba diakui tidak mudah. Informasi lomba yang diterima cukup singkat membuat Sahrulloh harus berpacu dengan waktu. Ia menyelesaikan penulisan essay dalam waktu sekitar dua minggu dengan tantangan utama pada pencarian ide dan inovasi.

“Tantangan terberatnya adalah menentukan ide, judul, dan inovasi untuk menjawab akar permasalahan. Saya mengatasinya dengan memperdalam riset, meminta kritik dan saran dari orang terdekat, serta berdiskusi dengan pihak yang lebih profesional di bidang essay,” jelasnya.

Saat diumumkan sebagai peraih Juara II, Sahrulloh mengaku merasa senang sekaligus tidak menyangka. Ia menilai pencapaian ini menjadi penyemangat baru untuk terus menuangkan gagasan dan inovasi.

“Bagi saya, prestasi ini mengingatkan bahwa ide dan inovasi tidak seharusnya hanya disimpan sendiri, tetapi bisa dipublikasikan dan dibagikan melalui berbagai cara,” tuturnya.

Sebelumnya, Sahrulloh juga pernah meraih Juara II lomba essay Golden Islamic Competition, sehingga capaian ini semakin memperkuat rekam jejak prestasinya di bidang kepenulisan. Ke depan, ia berencana untuk terus mengikuti berbagai kompetisi serupa.

“Dampaknya lebih ke ingin mencoba lagi dan meraih hasil yang lebih baik,” katanya.

Menutup wawancara, Sahrulloh berpesan kepada generasi muda agar tidak ragu mengembangkan potensi diri.

“Terus semangat mengasah skill di bidang masing-masing, dan jangan lupa menguji kemampuan tersebut dengan mengikuti lomba-lomba IT,” pesannya.

Ia juga berharap perkembangan teknologi informasi di Indonesia semakin maju dan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh seluruh lapisan masyarakat.