Bahas Peluang dan Tantangan Lulusan MPI, Dekan FAIPG UNIDA jadi Narasumber dalam Webinar Nasional UIN Banten
Dekan Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) Universitas Djuanda (UNIDA), Dr. Zahra Khusnul Lathifah, M.Pd.I. M.C.E menjadi Narasumber dalam Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Program Studi (Prodi) Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Fakultas Tarbiah dan Keguruan (FTK) Universitas Islam Negeri (UIN) Banten dengan tema “Peluang dan Tantangan Lulusan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam” melalui zoom meeting pada Sabtu (12/08/2023)
Wakil Dekan II FTK UIN Banten, Dr. Apud, M.Pd menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah kegiatan untuk membekali dan memberikan pengarahan di luar materi perkuliahan kepada para mahasiswa. Dalam sambutannya, Dr. Apud, M.Pd. menyampaikam bahwa saat ini penting untuk memiliki kekuatan menangkap peluang dan tantangan, agar bisa berkompetisi dan bersaing.
“Kita harus mengukur tingkat kekuatan dan kelemahan dalam diri kita. Ketika kita melihat peluang dan tantangan, kita harus membesarkan diri kita untuk menangkap peluang dan tantangan tersebut. Harapannya, para mahasiswa mampu mempersiapkan diri dengan baik untuk peluang dan tantangan yang akan datang,” ujarnya.
Selanjutnya Dr. Zahra Khusnul Lathifah, M.Pd.I., M.C.E memaparkan, Indonesia memiliki 86.681 Madrasah, 36.000 ponpes dan 2.420 Sekolah Islam Terpadu. Indonesia juga memiliki 224 Prodi S1 MPI yang tercatat di tahun 2019. Jika asumsi setiap Lembaga meluluskan 50 orang per-tahunnya, maka lulusan Prodi MPI yang lulus adalah 11.200 orang setiap tahunnya. Dengan data ini, Jumlah Lulusan MPI dan ketersediaan Lembaga Pendidikan Islam yang menjadi salah satu prospek kerja lulusan MPI masih sangat terbuka lebar.
“Ini menjadi hal yang harus di evaluasi karena banyak lulusan MPI yang tidak terserap atau bekerja tidak sesuai dengan lulusannya. Perlu upaya dari beberapa pihak untuk mengatasi kebijakan MPI supaya para lulusan ini lebih terserap lagi,” jelasnya.
Dr. Zahra Khusnul Lathifah, M.Pd.I., M.C.E mengatakan bahwa Allah SWT telah menyediakan semua aspek dalam kehidupan yang sudah diatur dalam Al-Qur’an, dimana terisi perumpaan untuk manusia berpikir dan merenung sehingga menghasilkan sebuah ilmu dan pencerahan.
“Pendidikan Islam memiliki aspek-aspek ajaran pokok, yaitu aqidah yang merupakan sistem nilai dimana menguatkan keimanan dan ketaqwaan kita. Syariah, dimana semua hal itu diatur untuk memudahkan kita, dan ada Akhlak yang menjadi output dari Aqidah dan Syariah. Itu adalah basic value yang harus dimiliki setiap mahasiswa sebagai calon dari Khalifah. Pendidikan Islam ini menjadi sangat penting karena mengefektifkan aplikasi nilai-nilai agama, sehingga ada sentuhan nilai-nilai Ilahiyah yang harus selalu dilselipkan. Sehingga setiap hal yang kita lakukan memiliki jiwa, dan setiap hal yang kita sentuh ada ruh-nya,” paparnya.
Dr. Zahra Khusnul Lathifah, S.Pd.I., M.Pd.I menyebutkan surat Al-Baqarah ayat 30 yang artinya “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
“Dari ayat ini, kita bisa melihat bahwa potensi manusia untuk menciptakan kerusakan sudah ada sejak dulu. Manusia itu seperti kertas putih yang kosong, apakah akan diisi dan menjadi hal yang buruk atau hal yang baik. Hal itu dilalui dengan proses Pendidikan. Maka kita harus memberikan Pendidikan yang baik, yaitu Pendidikan Islam yang berisi nilai-nilai Ilahiyah,” lanjutnya.
Dr. Zahra Khusnul Lathifah, M.Pd.I., M.C.E juga menuturkan, dalam Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 31 bahwa dilarang oleh Allah untuk meninggalkan generasi yang lemah dalam 3 hal yaitu lemah dalam Akidah, Ilmu, dan Ekonomi. Pintar tidak cukup untuk meraih kesuksesan, dibutuhkan juga kecerdasan sosial dan emosional. Seseorang yang cerdas secara sosial dan emosional dapat mengatur perilakunya dan mampu bertahan disegala keadaan sehingga mampu meraih kesuksesan.
“Utamanya adalah generasi kita tidak boleh lemah Akidah, sekeras apapun Generasi, Globalisasi, Modernisasi dan terpaan lainnya. Kemudian, kita harus terus menerapkan “Life long Education” atau belajar sepanjang hayat untuk tidak memiliki generasi yang lemah ilmu. Karena orang yang tidak memiliki ilmu akan lemah secara ekonomi,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dalam kesempatan ini Dr. Zahra Khusnul Lathifah, M.Pd.I., M.C.E menjelaskan tentang Prodi MPI, peluang karir dan tantangan lulusan MPI.
