[email protected] 0251-8240773
Berita

Bangun Kapasitas Mahasiswa Tangguh, Wakil Ketua MPR-RI Ingatkan Mahasiswa UNIDA Jauhi Gaya Hidup Hedonis dan Pragmatis

Saat ini seluruh negara di dunia baru mulai bangkit dari pandemi COVID-19, ekonomi baru mulai bergerak, aktiftas mulai berjalan, tetapi tiba-tiba dihadapkan pada keadaan dunia yang diantaranya adanya perang antara Rusia dengan Ukraina.  Perang ini menyebabkan dampak besar, khususnya dalam ketahanan pangan, dikarenakan Ukraina dan Rusia merupakan penghasil gandum terbesar dunia. Hal itulah yang disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI), H. Ahmad Muzani, saat menjadi narasumber seminar nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Djuanda (UNIDA), pada Senin (17/10/2022) di Aula Gedung C, Kampus UNIDA.

H. Ahmad Muzani mengemukakan, sebelumnya pandemi COVID-19 yang menjadi momok seluruh negara di dunia mempengaruhi banyak hal dan berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Saat ini dampak perang Rusia-Ukraina berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan beberapa pasokan bahan baku.

 “Banyak negara dunia yang menyandarkan bahan pokoknya terhadap gandum, seperti negara arab. Sekarang kesulitan, harganya meroket. Itu sebabnya bahwa dunia kekurangan pangan karena harga pangan dunia tidak lagi wajar. Selain itu, Ukraina dan Rusia juga merupakan penghasil potasium, yang mana digunakan sebagai bahan pupuk. Negara seperti India, tidak terkecuali Indonesia terdampak. Akibatnta suplly itu menjadi berkurang karena pupuknya berkurang mengakibatkan hasil panen pun berkurang,” terangnya.

Lebih jauh, H. Ahmad Muzani menyampaikan, di tengah situasi tersebut serta kondisi politik yang belum menujukan kondisi kondusif, gaya hidup hedonisme yang lebih mengutamakan kesenangan dan kepuasan tanpa batas ini menjadi tantangan tersendiri. Sifat Pragmatisme pun tidak terlepas dari permasalahan kehidupan yang seharusnya dihindari, khususnya oleh para generasi muda calon pemimpin masa depan bangsa.

“Pragmatisme menjadi cara kehidupan yang paling dipilih oleh banyak profesi, ini merupakan sebuah cara untuk dapat menghasilkan sesuatu dengan cepat. Tapi namanya manusia, pengeroposan dari dalam selalu terjadi. Ini dari gaya hidup. Orientasi jangka pendek menjadi pilihan dibanding orientasi jangka hidup panjang seperti apa yang diajarkan oleh guru kita, orang tua kita, agama kita. Pragmatisme ini menjadi tantangan berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.

“Pragmatisme ialah sebagai cara ingin cepat yang meninggalkan norma-norma, ajaran yang diajarkan kepada kita. Saya berharap mahasiswa UNIDA tidak begitu, tidak boleh seperti itu. Semua harus dihasilkan oleh proses yang benar, harus bisa memilah dan memilih contoh yang baik, sekalipun dilakukan oleh siapapun. Gaya hidup pragmatis telah merusak segala sendi kehidupan kita, tak luput juga dari politik. Maka untuk itu, berpegang teguhlah pada ajaran agama, pancasila, orang tua kita, niatkan itu dalam hatimu, konsisten lakukan, nanti kita akan temukan jalan yang benar,” sambungnya.

H. Ahmad Muzani juga berpesan agar para mahasiswa dapat terus berada dalam jalan kebenaran. Menjadikan akhlak mulia sebagai pondasi dalam menghadapi gaya hidup hedonisme dan sifat pragmatisme untuk bisa memajukan negeri.

“Percayalah kalau kita terus berada dalam kebenaran kita akan mulia di kemudian hari. Sebaliknya, kita akan merugi jika tidak berbuat benar. Akhlak mulia adalah tujuan kita, akhlak mulia adalah cara kita menghadapi gaya hidup hedonisme. Saya percaya mahasiswa UNIDA bisa memilah mana kebenaran dan mana kebatilan. Dosen-dosenmu, orang tuamu, bersusuah payah menyekolahkanmu di tempat baik ini, di UNIDA, maksudnya satu agar kita menjadi orang baik berguna bagi bangsa. Kebanggaan seorang guru, orang tua, dan dosen ketika melihat anaknya, mahasiswanya yaitu ingin menjadi orang  yang berguna bagi sekitarnya,” pungkasnya.