Bangun Kapasitas Mahasiswa Tangguh, Wakil Ketua MPR-RI Ingatkan Mahasiswa UNIDA Jauhi Gaya Hidup Hedonis dan Pragmatis
Saat ini seluruh negara di dunia
baru mulai bangkit dari pandemi COVID-19, ekonomi baru mulai bergerak, aktiftas
mulai berjalan, tetapi tiba-tiba dihadapkan pada keadaan dunia yang diantaranya
adanya perang antara Rusia dengan Ukraina.
Perang ini menyebabkan dampak besar, khususnya dalam ketahanan pangan,
dikarenakan Ukraina dan Rusia merupakan penghasil gandum terbesar dunia. Hal itulah yang disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan
Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI), H. Ahmad Muzani, saat menjadi narasumber seminar nasional yang
diselenggarakan oleh Universitas Djuanda (UNIDA), pada Senin (17/10/2022) di
Aula Gedung C, Kampus UNIDA.
H. Ahmad Muzani mengemukakan, sebelumnya pandemi COVID-19 yang menjadi momok seluruh negara di
dunia mempengaruhi banyak hal dan berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Saat ini dampak perang Rusia-Ukraina berpengaruh terhadap
pemenuhan kebutuhan beberapa pasokan bahan baku.
“Banyak negara dunia yang menyandarkan bahan
pokoknya terhadap gandum, seperti negara arab. Sekarang kesulitan, harganya
meroket. Itu sebabnya bahwa dunia kekurangan pangan karena harga pangan dunia
tidak lagi wajar. Selain itu, Ukraina dan Rusia juga merupakan penghasil
potasium, yang mana digunakan sebagai bahan pupuk. Negara seperti India, tidak
terkecuali Indonesia terdampak. Akibatnta suplly
itu menjadi berkurang karena pupuknya berkurang mengakibatkan hasil panen pun
berkurang,” terangnya.
Lebih jauh, H. Ahmad Muzani
menyampaikan, di tengah situasi tersebut serta kondisi politik yang belum
menujukan kondisi kondusif, gaya hidup hedonisme yang lebih mengutamakan
kesenangan dan kepuasan tanpa batas ini menjadi tantangan tersendiri. Sifat
Pragmatisme pun tidak terlepas dari permasalahan kehidupan yang seharusnya
dihindari, khususnya oleh para generasi muda calon pemimpin masa depan bangsa.
“Pragmatisme menjadi cara kehidupan
yang paling dipilih oleh banyak profesi, ini merupakan sebuah cara untuk dapat
menghasilkan sesuatu dengan cepat. Tapi namanya manusia, pengeroposan dari
dalam selalu terjadi. Ini dari gaya hidup. Orientasi jangka pendek menjadi
pilihan dibanding orientasi jangka hidup panjang seperti apa yang diajarkan
oleh guru kita, orang tua kita, agama kita. Pragmatisme ini menjadi tantangan
berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.
“Pragmatisme ialah sebagai cara
ingin cepat yang meninggalkan norma-norma, ajaran yang diajarkan kepada kita.
Saya berharap mahasiswa UNIDA tidak begitu, tidak boleh seperti itu. Semua
harus dihasilkan oleh proses yang benar, harus bisa memilah dan memilih contoh
yang baik, sekalipun dilakukan oleh siapapun. Gaya hidup pragmatis telah
merusak segala sendi kehidupan kita, tak luput juga dari politik. Maka untuk
itu, berpegang teguhlah pada ajaran agama, pancasila, orang tua kita, niatkan
itu dalam hatimu, konsisten lakukan, nanti kita akan temukan jalan yang benar,”
sambungnya.
H. Ahmad Muzani juga berpesan agar
para mahasiswa dapat terus berada dalam jalan kebenaran. Menjadikan akhlak
mulia sebagai pondasi dalam menghadapi gaya hidup hedonisme dan sifat
pragmatisme untuk bisa memajukan negeri.
“Percayalah kalau kita terus berada
dalam kebenaran kita akan mulia di kemudian hari. Sebaliknya, kita akan merugi
jika tidak berbuat benar. Akhlak mulia adalah tujuan kita, akhlak mulia adalah
cara kita menghadapi gaya hidup hedonisme. Saya percaya mahasiswa UNIDA bisa memilah
mana kebenaran dan mana kebatilan. Dosen-dosenmu, orang tuamu, bersusuah payah
menyekolahkanmu di tempat baik ini, di UNIDA, maksudnya satu agar kita menjadi
orang baik berguna bagi bangsa. Kebanggaan seorang guru, orang tua, dan dosen
ketika melihat anaknya, mahasiswanya yaitu ingin menjadi orang yang berguna bagi sekitarnya,” pungkasnya.