[email protected] 0251-8240773
Berita

Bedah Buku Memperingati Milad ke-39 UNIDA, Dosen Akuntansi FEB UNIDA Soroti Peran Corporate Citizenship bagi Keberlanjutan Bisnis

Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Djuanda (UNIDA) menyelenggarakan kegiatan bedah buku bertajuk “Strategic Sustainability: Aligning CSR Finance and Reputation in Modern Enterprise” pada Selasa (07/04/2026) secara daring melalui platform Zoom Cloud Meeting. Dalam kesempatan ini, dosen Program Studi Akuntansi FEB UNIDA Dr. Yoyok Priyo Hutomo, S.E., M.Ak memaparkan konsep Corporate Citizenship.

Pelaksanaan kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-39 UNID yang diharapkan dapat memberikan wawasan bagi mahasiswa dan civitas akademika dalam memahami pentingnya peran bisnis yang berkelanjutan serta relevansinya dalam praktik ekonomi modern.

Dalam pemaparannya, Dr. Yoyok Priyo Hutomo, S.E., M.Ak menjelaskan bahwa konsep Corporate Citizenship merupakan evolusi dari pandangan tradisional shareholder primacy yang hanya berfokus pada kepentingan pemegang saham. Kini, perusahaan dituntut untuk mengadopsi pendekatan stakeholder theory, yakni memperhatikan kepentingan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat dan lingkungan.

“Perusahaan tidak lagi sekadar entitas ekonomi, tetapi juga sebagai ‘warga negara’ yang memiliki tanggung jawab moral terhadap lingkungan sosialnya,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia memaparkan perbedaan antara Corporate Social Responsibility (CSR) dan Creating Shared Value (CSV). Jika CSR cenderung bersifat filantropis dan reaktif, CSV hadir sebagai pendekatan yang lebih strategis dan integratif, di mana perusahaan menciptakan nilai ekonomi sekaligus nilai sosial secara bersamaan.

Dalam konteks implementasi di Indonesia, konsep Corporate Citizenship dikaitkan dengan kerangka Triple Bottom Line yang meliputi tiga aspek utama, yaitu profit, people, dan planet. Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara keberlanjutan finansial, kesejahteraan masyarakat, serta kelestarian lingkungan.

Dr. Yoyok juga mencontohkan sejumlah praktik yang telah diterapkan perusahaan di Indonesia, seperti program inklusi keuangan dan digitalisasi desa, pemberdayaan UMKM, peningkatan konektivitas digital, hingga pengelolaan ekonomi sirkular berbasis lingkungan.

Selain itu, transformasi juga terjadi dalam praktik pelaporan perusahaan. Saat ini, perusahaan tidak hanya dituntut menyajikan laporan keuangan, tetapi juga laporan keberlanjutan (sustainability reporting) yang mencakup aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (Environmental, Social, and Governance/ESG). Hal ini diperkuat dengan adanya regulasi yang mewajibkan pelaporan dampak lingkungan sebagai bagian dari akuntabilitas perusahaan.

“Pelaporan terintegrasi menjadi kunci untuk membangun transparansi dan legitimasi perusahaan di mata publik,” jelasnya.

Sebagai penutup, Dr. Yoyok menegaskan bahwa integrasi Corporate Citizenship dalam strategi bisnis bukan lagi sekadar pilihan etis, melainkan telah menjadi kebutuhan strategis. Perusahaan yang mampu mengelola tanggung jawab sosial menjadi peluang ekonomi dinilai akan memiliki daya tahan dan legitimasi yang lebih kuat di tengah persaingan global.