Dari Desa untuk Indonesia: Refleksi 80 Tahun Kemerdekaan
Oleh: Rifqi Galan Firdaus (Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik)
Delapan puluh tahun sudah Indonesia merdeka. Perjalanan panjang itu tak hanya diukir di pusat kota, tetapi juga di pelosok desa. Dari sawah, ladang, hingga balai desa, semangat membangun negeri terus berdenyut. Desa Sukamanah, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, adalah salah satu buktinya.
Dulu, akses ke desa ini terbatas. Kini, jalan-jalan teraspal mulus, jaringan internet menjangkau sekolah dan balai desa, sementara sektor pertanian mulai mengadopsi teknologi modern. Kemajuan juga terlihat pada layanan publik, program beasiswa kuliah, posyandu rutin, koperasi, dan usaha mikro menjadi pendorong kemandirian ekonomi warga. Kesadaran lingkungan pun meningkat.
Di Kampung Akur, RT 001 RW 002, misalnya, aturan denda Rp50.000 bagi pembuang sampah sembarangan dipatuhi warga. Ketua RT H. Sopyan bahkan menyediakan tong sampah di setiap sudut kampung.
“Kebersihan dan kemajuan ini adalah hasil gotong royong,” ujar seorang tokoh setempat.
Tidak ada kemajuan tanpa kerja bersama
Pembangunan desa, menurut saya, harus menempatkan manusia sebagai subjek utama. Tujuannya bukan hanya kesejahteraan materi, tetapi juga ketahanan sosial, kemandirian politik, kelestarian lingkungan, dan kecerdasan berlandaskan iman dan takwa.
Tantangan tetap ada: urbanisasi yang menguras tenaga muda desa, perubahan iklim yang mengancam pertanian, dan kesenjangan informasi yang memperlebar jurang kemajuan. Untuk itu, mentalitas ketergantungan perlu diubah menjadi budaya inovasi dan kolaborasi.
Negeri ini tak akan maju hanya dengan mimpi di ibu kota. Ia tumbuh dari keringat yang menetes di sawah, doa yang terucap di surau, dan tangan-tangan yang tak lelah membangun desa. Dari Sukamanah untuk Indonesia kemajuan bangsa dimulai dari halaman rumah kita sendiri.