Dari Keraguan untuk Memperkuat Keyakinan: Belajar dari René Descartes dan Al Ghazali
Oleh: Aal Lukmanul Hakim, S.H., M.H., C.MED., CCD., MPM-LA
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Alhamdulillahirobbil alamin washolatu wassalamu ala asrofil anbiya wal mursalin Sayyidina wa Maulana Muhammadin wa ala alihi wa shohbihi ajma'in Amma ba'du.
Yang sama-sama kita hormati, Bpk. Chancellor, Ibu. Rektor, dan seluruh jamaah sholat dzuhur Masjid Baitul Hamdi yang insyaAllah dirahmati Allah SWT.
Jamaah kulbazu yang dirahmati Allah
Hari ini, mari kita belajar kembali tentang sesuatu. Kali ini kita akan belajar dari sebuah pemikiran seorang tokoh yang dijuluki sebagai Bapak Filsafat Modern. Dia adalah René Descartes. Siapa Dia ?
- René Descartes adalah filsuf, matematikawan, dan ilmuwan Prancis abad ke-17. Ia dikenal sebagai "Bapak Filsafat Modern" karena metode keraguan metodisnya yang bertujuan mencari kebenaran pasti. Ungkapan yang terkenal darinya adalah: "Cogito, ergo sum" (Aku berpikir, maka aku ada), menjadi fondasi pemikiran rasionalis dalam bukunya “Discourse on Method (1637)”.
- Rene Descartes berupaya mencari kebenaran yang paling mendasar dan tak terbantahkan.
- Bagaimana caranya? Descartes memutuskan untuk meragukan segala sesuatu yang bisa diragukan. Ia meragukan indra kita yang terkadang menipu, meragukan kenyataan dunia fisik yang mungkin hanya mimpi, bahkan meragukan keberadaan Tuhan jika itu memungkinkan.
- Tujuannya bukanlah untuk menjadi skeptis tanpa akhir, melainkan untuk membersihkan diri dari keyakinan-keyakinan yang belum teruji. Ia ingin menemukan satu titik pijak kebenaran yang kokoh,yang tidak bisa lagi digoyahkan.
- Dari proses keraguan yang ekstrem ini, Descartes akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang sangat terkenal: "Cogito, ergo sum." Dalam bahasa Latin, artinya "Aku berpikir, maka aku ada." Ia menyadari bahwa meskipun ia meragukan segalanya, fakta bahwa ia sedang meragukan (atau berpikir) itu sendiri adalah bukti bahwa ia, sebagai subjek yang berpikir, pasti ada.
APA KAITANNYA DENGAN KITA?
- Filsafat keraguan Descartes mengajarkan kita pentingnya berpikir kritis.
- Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali menerima informasi begitu saja, mengikuti arus opini publik, atau berpegang teguh pada keyakinan tanpa pernah menelaahnya secara mendalam.
- Metode Descartes mendorong kita untuk bertanya: "Apakah benar yang saya yakini ini?", "Apa dasar dari keyakinan saya?", "Apakah ada kemungkinan lain?".
- Ini bukan berarti kita harus meragukan segalanya secara membabi buta. Tetapi, dengan sedikit "keraguan yang sehat", kita bisa:
- Memperdalam pemahaman: Ketika kita meragukan, kita terdorong untuk mencari jawaban yang lebih baik dan lebih mendalam.
- Menghindari kesesatan: Keraguan dapat menjadi filter terhadap informasi yang salah atau menyesatkan.
- Memperkuat keyakinan: Justrudenganmengujikeyakinankita,jikaiaterbuktibenarsetelahmelalui proses keraguan, maka keyakinan itu akan semakin kokoh.
APA KATA ISLAM ?
- Menariknya, konsep keraguan yang sehat ini memiliki resonansi dalam ajaran Islam, meski dengan tujuan dan landasan yang berbeda.
- Dalam Islam, kita diajarkan untuk mencari ilmu dan bertadabbur (merenungkan ciptaan Allah). Proses ini seringkali diawali dengan pertanyaan, yang bisa kita sebut sebagai bentuk keraguan yang konstruktif.
- Imam Ghazali, dalam karyanya "Al-Munqidh min al-Dhalal" (Yang Menyelamatkan dari Kesesatan), juga melakukan perjalanan pencarian kebenaran yang mendalam. Al-Ghazali menunjukkan bahwa pencarian kebenaran yang hakiki membutuhkan keberanian untuk meragukan, menguji, dan tidak terpaku pada taklid. Perjalanannya dari keraguan terhadap indra dan akal, kritik terhadap berbagai aliran pemikiran, hingga akhirnya menemukan kedamaian dalam pengalaman spiritual tasawuf, menjadikannya sebagai teladan bagi siapa saja yang merindukan kebenaran yang kokoh dan membebaskan. Ia menekankan bahwa kebenaran sejati dicapai bukan hanya melalui pemikiranintelektual semata, tetapi juga melalui penyucian jiwa dan pengalaman langsung dengan Tuhan..
- dalam tradisi keilmuan Islam, pertanyaan-pertanyaan kritis dan "keraguan" terhadap metode atau pemahaman yang ada menjadi motor penggerak kemajuan ilmu pengetahuan. Para ulama seringkali mengajukan pertanyaan untuk menguji sebuah hadis, menelaah sebuah tafsir, atau mengembangkan sebuah kaidah fiqih. Ini semua adalah bentuk "keraguan yang konstruktif" untuk mencapai pemahaman yang lebih akurat.
- Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Al-Ghashiyah: 17-20
(17.Tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan?; 18. Bagaimana langit ditinggikan?; 19. Bagaimana gunung-gunung ditegakkan?; 20. Bagaimana pula bumi dihamparkan?..)
- Pertanyaan ini mengundang kita untuk meragukan pemahaman awal kita tentang ciptaan Allah dan mendorong kita untuk meneliti lebih dalam.
- Yang membedakan, dalam Islam, keraguan ini tidak pernah berakhir pada kesimpulan nihilistik seperti skeptisisme ekstrem. Keraguan kita berujung pada pengakuan akan kebesaran Allah (Tauhid).
- Kita meragukan kemampuan kita sendiri untuk memahami segalanya, lalu kita sadar akan kebutuhan kita pada Allah. Kita meragukan kebenaran hakiki yang hanya ada pada Allah. Kita meragukan keabsahan segala sesuatu selain Allah sebagai sumber kebenaran mutlak.
- Filsafat Descartes mencari kebenaran yang paling mendasar melalui "Aku berpikir". Islam menemukan kebenaran yang paling mendasar melalui "Aku adalah hamba Allah". Titik pijak kebenaran yang tak terbantahkan bagi seorang Muslim adalah keberadaan Allah, Sang Pencipta, Sang Pemberi Kebenaran.
- Jadi,marikitagunakan"keraguanyangsehat"yangdiajarkanolehfilsafatdanjugadikembangkandalam tradisi keilmuan Islam, sebagai alat untuk memperdalam pemahaman kita tentang dunia, tentang diri kita, dan yang terpenting, untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ilmu dan perenungan.
PENUTUP
Semangat keraguan Descartes, yang sejalan dengan penolakan taklid dan pengujian pemikiran oleh Al- Ghazali, menjadi inti dari penelitian sebagai salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi. Bagi seorang Dosen, penelitian bukanlah sekadar kewajiban administratif, melainkan sebuah proses aktif pencarian kebenaran yang didorong oleh keraguan yang sehat.
Terima kasih, semoga berkenan. Subhanaka allahuma anta astagfiruka waatubuilaih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh