Dialog dengan KDM di Lembur Pakuan, Mahasiswa MAP UNIDA Dalami Kepemimpinan Publik Berbasis Riset dan Spiritualitas
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Program Studi Magister Administrasi Publik (MAP) Universitas Djuanda (UNIDA) melaksanakan kunjungan studi banding dan dialog kepemimpinan bersama Gubernur Jawa Barat, H. Dedi Mulyadi, S.H., M.M. (KDM), pada Sabtu (17/01/2026), bertempat di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Kunjungan studi banding ini bertujuan untuk mempelajari serta mengadopsi praktik kepemimpinan publik berbasis digitalisasi yang diterapkan oleh Gubernur Jawa Barat sebagai role model kepemimpinan. Hasil kegiatan ini diharapkan menjadi referensi strategis yang relevan dan aplikatif dalam pengembangan keilmuan serta praktik administrasi publik di lingkungan Program MAP UNIDA.
Kegiatan tersebut diikuti oleh Ketua Program Studi Magister Administrasi Publik UNIDA, Dr. Muhamad Husein Maruapey, Drs., M.Sc., dosen pengampu mata kuliah Dr. Saprudin, S.Sos., M.Si., serta seluruh mahasiswa MAP UNIDA Angkatan 2025.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Jawa Barat H. Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa KDM, menyampaikan pandangan mendalam mengenai kepemimpinan, independensi ilmu pengetahuan, riset, serta pentingnya intuisi dan spiritualitas dalam proses pengambilan keputusan publik.
Menurutnya, kemajuan suatu bangsa sangat bergantung pada kekuatan intelektual dan akademik yang bertumpu pada riset yang independen.
“Bangsa-bangsa maju menjadikan riset sebagai dasar utama pengambilan keputusan negara maupun usaha. Basis riset adalah pengayaan pengetahuan manusia yang bersumber dari kemampuan otak. Otak akan berkembang jika memperoleh nutrisi yang baik dan dibiasakan membaca,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Indonesia sebagai bangsa Timur memiliki keunggulan tersendiri berupa kekuatan rasa, intuisi, dan spiritualitas.
“Orang Timur, termasuk kita di Nusantara, memiliki kemampuan mengolah rasa. Kecerdasan tertinggi tercapai ketika seseorang mampu menjaga dan mengasah intuisinya,” katanya.
KDM juga menilai kemunduran peradaban Indonesia banyak dipengaruhi oleh konflik politik, lemahnya budaya riset, serta hilangnya independensi ilmu pengetahuan akibat intervensi kepentingan kekuasaan.
“Setinggi apa pun pendidikan seseorang, tanpa independensi ilmu pengetahuan, bangsa tidak akan berkembang. Pengetahuan harus berdiri bebas dan tidak tunduk pada kepentingan politik,” tegasnya.
Pada sesi dialog bersama mahasiswa, KDM menjawab berbagai pertanyaan terkait tantangan generasi muda dalam membangun intuisi dan spiritualitas di era digital. Ia menekankan pentingnya kesederhanaan hidup, pengendalian diri, serta kedekatan dengan alam.
“Spiritualitas bukanlah mistik. Spiritualitas adalah disiplin hidup, puasa, pantangan, kesederhanaan, dan keheningan. Intuisi tidak tumbuh dari kehidupan yang terlalu bising,” jelasnya.
Menutup sesi dialog, KDM menegaskan bahwa masa depan Indonesia bergantung pada kemampuan memadukan kecerdasan akademik dengan kekuatan spiritual.
“Indonesia memiliki potensi untuk melaju lebih cepat apabila mampu menyatukan pikiran dan hati. Kita memiliki kapasitas akademik dan spiritualitas, yang dibutuhkan adalah keberanian untuk percaya pada jati diri bangsa,” pungkasnya.