DIKJAR UNIDA Selenggarakan Workshop, Tingkatkan Kapasitas Kompetensi Dosen dalam Pembelajaran Hybrid
Biro Pendidikan dan Pembelajaran (DIKJAR) Universitas Djuanda (UNIDA) menyelenggarakan Workshop Peningkatan Kompetensi Dosen dalam Pembelajaran Hybrid pada Selasa, 2 September 2025, bertempat di Aula Gedung C, Kampus UNIDA.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Kepala Biro DIKJAR UNIDA Dr. La Ode Amril, M.Pd, Dosen Universitas Terbuka (UT) Dr. Trini Prastati, M.Pd, serta Kepala Badan Digitalisasi dan Knowledge Management (BDKM) UNIDA Dede Jaenudin, S.E., M.A.P. Workshop diikuti oleh para dosen UNIDA sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas dalam mendukung pengembangan inovasi pembelajaran berbasis hybrid.
Rektor UNIDA, Assoc. Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I., dalam sambutannya menekankan bahwa workshop ini menjadi bagian penting dari persiapan komprehensif dalam menyelenggarakan pembelajaran hybrid yang berkualitas.
“Pembelajaran hybrid tidak hanya sebatas kuliah jarak jauh, melainkan juga memastikan materi dapat tersampaikan secara optimal kepada mahasiswa dengan tetap menjaga semangat dalam proses perkuliahan,” tuturnya.
Assoc. Prof. Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I juga menegaskan bahwa workshop ini merupakan langkah strategis UNIDA dalam memastikan seluruh dosen memiliki kompetensi memadai untuk menjalankan sistem pembelajaran hybrid tanpa mengurangi mutu pendidikan.
Dalam sesi pemaparan, Dr. Trini Prastati, M.Pd menyampaikan bahwa model pembelajaran hybrid ini memadukan aktivitas tatap muka di kelas dengan aktivitas non-tatap muka. Ia kemudian menjelaskan bahwa pembelajaran daring tersebut mencakup Reading Assignment Test (RAT), Student Assignment Test (SAT), materi inisiasi, tutorial online, serta tugas wajib dan partisipasi yang dirancang untuk bersifat interaktif, personal, dan mendorong kesuksesan mahasiswa.
"Indikator utama kualitas akademik Pendidikan Tinggi Jarak Jauh (PTJJ) meliputi kualitas bahan ajar yang self-instructional, bantuan bimbingan belajar, bimbingan supervisi praktik, dan evaluasi hasil belajar yang semuanya harus mengandung elemen pengenalan konsep, kegiatan belajar aktif, dan asesmen yang mengacu pada capaian kompetensi," jelasnya.
Kepala Biro DIKJAR UNIDA, Dr. La Ode Amril, M.Pd yang sekaligus menjadi pemateri juga menjelaskan bahwa panduan hybrid learning disusun untuk memberikan arahan sistematis terkait pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, termasuk prinsip-prinsip dasar, standar minimal perangkat, prosedur integrasi luring dan daring, serta model evaluasi yang sesuai.
"Panduan ini menjadi rujukan resmi bagi dosen, mahasiswa, dan pengelola program studi dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran hybrid yang berkualitas," ujarnya.
Dr. La Ode Amril, M.Pd lalu menyampaikan bahwa untuk menjamin kualitas, UNIDA menerapkan sistem monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh Badan Penjaminan Mutu dan Pengembangan Institusi (BPMPI) dua kali per semester, yaitu saat Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester.
Pada kesempatan yang sama, Dr. La Ode Amril, M.Pd memaparkan mengenai indikator penilaian yang mencakup 12 aspek, mulai dari ketersediaan dokumen RPS di sistem e-learning, topik pembelajaran sesuai RPS, aktivitas dan kehadiran mahasiswa, hingga adanya minimal 2 tugas dalam 1 semester dan bukti perkuliahan via video conference.
"Pelaksanaan hybrid learning diharapkan mampu meningkatkan mutu pembelajaran dan memfasilitasi perkuliahan sesuai kebutuhan belajar mahasiswa, sehingga pembelajaran dapat dilakukan secara mandiri, kapanpun dan dimanapun," tuturnya.
Sementara itu Kepala BDKM UNIDA, Dede Jaenudin, SE., M.A.P menerangkan bahwasanya dibutuhkan fasilitas pendukung untuk melakasanakan pembelajaran hybrid. Ia juga menyebutkan bahwa layout ruang kelas harus dirancang khusus untuk mengakomodasi pembelajaran hybrid dengan penempatan strategis semua perangkat teknologi, ini memungkinkan interaksi natural antara peserta luring dan daring.
"Pembelajaran hybrid memadukan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran daring. Untuk itu, diperlukan fasilitas pendukung baik hardware maupun software demi kelancaran proses kegiatan pembelajaran," ungkapnya.