[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Dosen Sekolah Pascasarjana UNIDA, Dr. Abu Bakar Iskandar, Drs., M.Si Isi Mejelis Tasbih Bahas Pentingnya Persaudaraan dalam Islam

Universitas Djuanda (UNIDA) melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Tauhid (BPPT) selenggarakan Majelis Tasbih pada Jumat, 4 Agustus 2023 secara hybrid yaitu daring dan luring di Majelis Baitul Quran (MBQ) UNIDA. Pada kesempatan ini, majelis tasbih diisi oleh Dosen Sekolah Pasacasarjana UNIDA, Dr. Abu Bakar Iskandar, Drs., M.Si dan Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh pimpinan dan Insan UNIDA.

Majelis Tasbih sendiri merupakan program rutin yang dilaksanakan setiap hari Jumat setiap minggunya dan berisikan kajian keilmuan yang berlandaskan nilai-nilai islam.

Dr. Abu Bakar Iskandar, Drs., M.Si dalam paparan materinya menyatakan bahwasanya terkesan oleh masyarakat, beberapa sosiolog membicarakan kerangka teori konflik yang menunjukan kepada kita bahwa teori ini menjelaskan jika Indonesia ini dibuat hancur oleh pihak lain maka salah satu teori yang dipraktikkan adalah teori konflik dengan asumnya yaitu kepentingan adalah unsur-unsur dari kehidupan sosial, kehidupan sosial melibatkan motif, kehidupan sosial melahirkan oposisi, kehidupan melahirkan konflik struktural, diferensiasi sosial akan melibatkan kekuatan. Oleh karenya kita harus senantiasa menjaga perdamaian terutama saat ini Indonesia menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) di tahun 2024 yang dimana sangat rentan dalam hal keamanan. Dan sebagai umat islam tentu harus terus ikut serta menajaga keamanan selama menjelang sampai selesai Pemilu 2024 nanti. Untuk menepis disintegrasi nasional, perlu dikaji bersama teori konsensus yang dijadikan pijakan menegakan NKRI, teori konsesus memiliki asumsi yaitu norma-norma dan nilai-nilai adalah unsur dasar dari kehidupan sosial, kehidupan sosial melibatkan komitmen, masyarakat perlu kohesif, kehidupan sosial bergantung pada solidaritas sosial. Pertentangan antara dua teori tersebut, bisa saja dianggap benar, tetapi kedua pendekatan teoritis tersebut diangkat ke tingkat yang lebih paradigmatik, justru keduanya berasal dari paradigma yakni paradigma fakta sosial.

“Mengenai persaudaraan dalam islam itu seperti sebuah bangunan yang dibangun dengan kombinasi material. Karena itulah saya mengajak untuk senantiasa menjalin persaudaraan dan solidaritas untuk terus menjaga keamanan dan perdamaian. Pernyataan sebuah bangunan tersebut mengandung makna bahwa islam menghendaki untuk terus mempererat ukhuwah islamiah sehingga bisa terjalin rapih bagaikan semen, batu, pasir dan melahirkan tembok yang kokoh seperti sebuah bangunan yang kokoh. Persaudaraan kita jalin haruslah persaudaraan seperti kedua tangan, jangan seperti kedua daun telinga. Dengan adanya majelis tasbih ini, solat dhuha bersama, khataman Al-Quran, insyAllah persaudaraan kita semakin baik, semakin erat, semakin akrab dan semakin intim. Kemudian munculah integrasi sosial sesama umat islam yang tangguh, kuat dan solid, karena itu kemudian prediksi dunia saat ini bahwa ada satu kekuatan besar yang akan menguasai dunia adalah islam,” ungkapnya.

“Selain menjaga perdamaian, kita juga perlu menjadi muslim yang kaffah, untuk menjadi kaffah maka tidak ada pilihan lain kecuali dengan giat mengikuti kajian ilmiah baik melalui membaca, menulis, mendengar, meneliti dan diskusi, sehingga semua amalan diatas dilandaskan ilmu. sebab amalan tanpa ilmu bagaikan fata morgana dan amalan tanpa ilmu juga bagaikan hujan ditengah laut. Serta untuk menjadi islam yang lengkap maka ada lima kewajiban yang harus dilakukan yaitu mengkaji islam, mengajarkan islam, mengamalkan islam, memperjuangkan islam dan membela islam,” lengkapnya.