Dosen Sekolah Pascasarjana UNIDA, Dr. Abu Bakar Iskandar, Drs., M.Si Isi Mejelis Tasbih Bahas Pentingnya Persaudaraan dalam Islam
Universitas Djuanda (UNIDA) melalui
Badan Pengkajian dan Penerapan Tauhid (BPPT) selenggarakan Majelis Tasbih pada
Jumat, 4 Agustus 2023 secara hybrid yaitu daring dan luring di Majelis Baitul Quran
(MBQ) UNIDA. Pada kesempatan ini, majelis tasbih diisi oleh Dosen Sekolah
Pasacasarjana UNIDA, Dr. Abu Bakar Iskandar, Drs., M.Si dan Kegiatan ini juga
turut dihadiri oleh pimpinan dan Insan UNIDA.
Majelis Tasbih sendiri merupakan program rutin yang dilaksanakan setiap
hari Jumat setiap minggunya dan berisikan kajian keilmuan yang berlandaskan
nilai-nilai islam.
Dr. Abu Bakar Iskandar, Drs., M.Si dalam paparan materinya menyatakan
bahwasanya terkesan oleh masyarakat, beberapa sosiolog membicarakan kerangka
teori konflik yang menunjukan kepada kita bahwa teori ini menjelaskan jika
Indonesia ini dibuat hancur oleh pihak lain maka salah satu teori yang
dipraktikkan adalah teori konflik dengan asumnya yaitu kepentingan adalah
unsur-unsur dari kehidupan sosial, kehidupan sosial melibatkan motif, kehidupan
sosial melahirkan oposisi, kehidupan melahirkan konflik struktural,
diferensiasi sosial akan melibatkan kekuatan. Oleh karenya kita harus
senantiasa menjaga perdamaian terutama saat ini Indonesia menjelang Pemilihan
Umum (Pemilu) di tahun 2024 yang dimana sangat rentan dalam hal keamanan. Dan
sebagai umat islam tentu harus terus ikut serta menajaga keamanan selama
menjelang sampai selesai Pemilu 2024 nanti. Untuk menepis disintegrasi
nasional, perlu dikaji bersama teori konsensus yang dijadikan pijakan menegakan
NKRI, teori konsesus memiliki asumsi yaitu norma-norma dan nilai-nilai adalah
unsur dasar dari kehidupan sosial, kehidupan sosial melibatkan komitmen,
masyarakat perlu kohesif, kehidupan sosial bergantung pada solidaritas sosial.
Pertentangan antara dua teori tersebut, bisa saja dianggap benar, tetapi kedua
pendekatan teoritis tersebut diangkat ke tingkat yang lebih paradigmatik,
justru keduanya berasal dari paradigma yakni paradigma fakta sosial.
“Mengenai persaudaraan dalam islam itu seperti sebuah bangunan yang
dibangun dengan kombinasi material. Karena itulah saya mengajak untuk
senantiasa menjalin persaudaraan dan solidaritas untuk terus menjaga keamanan
dan perdamaian. Pernyataan sebuah bangunan tersebut mengandung makna bahwa
islam menghendaki untuk terus mempererat ukhuwah islamiah sehingga bisa
terjalin rapih bagaikan semen, batu, pasir dan melahirkan tembok yang kokoh
seperti sebuah bangunan yang kokoh. Persaudaraan kita jalin haruslah
persaudaraan seperti kedua tangan, jangan seperti kedua daun telinga. Dengan
adanya majelis tasbih ini, solat dhuha bersama, khataman Al-Quran, insyAllah
persaudaraan kita semakin baik, semakin erat, semakin akrab dan semakin intim.
Kemudian munculah integrasi sosial sesama umat islam yang tangguh, kuat dan
solid, karena itu kemudian prediksi dunia saat ini bahwa ada satu kekuatan
besar yang akan menguasai dunia adalah islam,” ungkapnya.
“Selain menjaga perdamaian, kita juga perlu menjadi muslim yang kaffah,
untuk menjadi kaffah maka tidak ada pilihan lain kecuali dengan giat mengikuti
kajian ilmiah baik melalui membaca, menulis, mendengar, meneliti dan diskusi,
sehingga semua amalan diatas dilandaskan ilmu. sebab amalan tanpa ilmu bagaikan
fata morgana dan amalan tanpa ilmu juga bagaikan hujan ditengah laut. Serta untuk
menjadi islam yang lengkap maka ada lima kewajiban yang harus dilakukan yaitu
mengkaji islam, mengajarkan islam, mengamalkan islam, memperjuangkan islam dan
membela islam,” lengkapnya.