[email protected] 0251-8240773
Ketauhidan

Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, S.Pd.I., M.Pd.I isi Majelis Tasbih, Bahas Kisah-Kisah Terbaik dalam Al-Quran

Universitas Djuanda (UNIDA) melalui Badan Pengkajian dan Penerapan Tauhid (BPPT) kembali selenggarakan kegiatan rutin ketauhidan Majelis Tasbih. Pada minggu ini pada Jumat, 20 Oktober 2023. kegiatan majelis tasbih diisi oleh Direktur Eksekutif Yayasan Pusat Pendidikan Amaliyah Indonesia (YPSPIAI), Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, S.Pd.I., M.Pd.I.

Majelis Tasbih merupakan agenda rutin yang dilaksanakan pada hari Jumat setiap minggunya yang berisikan kajian kegamaan maupun keilmuan dan diikuti oleh seluruh insan UNIDA.

Dalam paparannya, Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, S.Pd.I., M.Pd.I menyampaikan materi berjudul “Kisah-Kisah Terbaik dalam Al-Quran”.

Dr. Hj. R. Siti Pupu Fauziah, S.Pd.I., M.Pd.I dalam paparannya menyampaikan bahwa ada beberapa pendapat ulama mengenai kisah-kisah terbaik dalam Al-Quran yaitu kisah Nabi Adam AS karena menjadi nabi pertama yang dijelaskan dalam Al-Quran, Nabi Musa AS karena hampir seluruh surat dalam Al-Quran memiliki petikan Nabi Musa AS, Nabi Ibrahim AS karena merupakan bapaknya dari para nabi serta Nabi Yusuf AS karena kisahnya yang sangat unik. Ada kemiripin dalam kisah Nabi Musa AS dan Nabi Yusuf seperti keduanya sama-sama tinggal di istana, berpisah dengan bapak dan ibunya serta sama-sama diangkat menjadi anak. Siapa sebenarnya Nabi Yusuf AS ini, Nabi Yusuf AS lahir sekitar tahun 1745-1635 SM yang merupakan nabi yang diutus setelah Nabi Yaqub AS. Nabi Yaqub AS. memiliki 4 istri dan 12 anak, yang salah satunya adalah nabi Yusuf AS, dilahirkan oleh ibu bernama Rahil, Nabi Yusuf juga memiliki saudara kandung yang bernama Bunyamin. Ibunya wafat ketika nabi yusuf AS ketika masih kecil, sehingga Nabi Yaqub AS bertugas menjadi sosok ayah dan ibunya, yang membuat saudara-saudara lainnya merasa cemburu kepada Nabi Yusuf AS dan Bunyamin.

Kisah diawali dengan mimpi dari Nabi Yusuf ketika kecil, dimana Nabi Yusuf menceritakan mimpi tersebut kepada Nabi Yaqub AS dimana dalam mimpi tersebut Nabi Yusuf AS melihat bulan, matahari dan 11 bintang bersujud kepadanya yang dimaksud sujud disini bukan untuk menyembah melainkan menghormati, kemudian Nabi Yaqub AS melarang Nabi Yusuf AS menceritakan mimpi tersebut kepada kepada saudara-saudaranya dikarenakan dikhawatirkan saudara-saudaranya akan berbuat makar pada Nabi Yusuf. Kisah berlanjut pada Nabi Yusuf yang dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya dikarenakan mereka dengki karena ayah mereka lebih perhatian kepada Nabi Yusuf AS dan Bunyamin. Saudara-saudaranya beranggapan bahwa merekalah yang lebih berhak disayang.

Saudara-saudara Nabi Yusuf AS berencana untuk tidak membunuhnya, akan tetapi mereka berencana untuk memasukan Nabi Yusuf AS ke dalam sumur agar nantinya ada musafir yang memungutnya. Setelah direncanakan, saudara-saudaranya meminta izin untuk mengajak Nabi Yusuf AS bermain akan tetapi Nabi Yaqub AS ragu untuk mengizinkannya. Saudara-saudara Nabi Yusuf AS terus membujuk Nabi Yaqub AS agar mengizinkannya. Dikarenakan saudara-saudaranya berjanji untuk mengawasi Nabi Yusuf AS sungguh-sungguh, dengan berat hati Nabi Yaqub AS pun mengizinkannya.

Setelah berhasil memasukkannya ke dalam sumur, saudara-saudaranya mengambil baju Yusuf dan melumurinya dengan darah kambing. Kemudian mereka pulang ke rumah dan menemui Nabi Yaqub AS untuk melapor kejadian palsu tersebut. Mereka bersedih seraya menangis di hadapan ayah mereka dan menjelaskan bahwa Yusuf AS dimangsa serigala. Lalu mereka memperlihatkan baju Nabi Yusuf AS yang telah berlumuran darah sebagai pembuktian kepada ayahnya. Sebenarnya, Nabi Yaqub tidak pecaya begitu saja terhadap pengakuan anak-anaknya. Namun Yaqub AS hanya bisa berpasrah dan menyerahkan segala kepada Allah SWT.

ketika saudara-saudaranya telah pergi meninggalkannya, Nabi Yusuf AS duduk di dalam sumur sembari menunggu pertolongan Allah SWT kepadanya. Beberapa lama kemudian datanglah para musafir ke sumur yang ada Nabi Yusuf AS di dalamnya. Musafir ini adalah rombongan pedagang dari Syam yang hendak menuju Mesir. Saat salah satu dari mereka mengambil air dari sumur dengan mengulurkan tali timba ke dalam lalu menariknya kembali ke atas, tiba-tiba Nabi Yusuf AS menggelantungkan diri pada tali timba itu. Musafir penarik tali timba melihat seorang anak yang tertarik bersama timbanya, lalu ia merasa senang karena bisa menjadikannya sebagai barang dagangan. Mereka hendak menjual Yusuf AS tepatnya sebagai budak ketika telah sampai di Mesir. Pada saat tiba di tempat tujuan, para musafir menjual Nabi Yusuf AS dengan harga murah kepada sepasang suami istri. Ternyata yang membeli Nabi Yusuf AS adalah orang yang terkenal dan terhormat. Dikatakan, ia adalah seorang menteri dengan jabatan tinggi. Suaminya dikenal dengan sebutan al-Aziz, sementara istrinya dikenal dengan nama Zulaikha.

Setelah dibeli, Nabi Yusuf AS dijadikan hamba sahaya dan pelayan di rumah dari tuannya tersebut. Ketika beranjak dewasa Nabi Yusuf AS semakin bersinar ketampanannya. Suatu waktu, istri dari tuannya merayu dan mengajak Nabi Yusuf AS untuk melakukan perbuatan yang tidak pantas akan tetapi Nabi Yusuf AS menolak ajakannya, kemudian Nabi Yusuf AS lari dan dikejar lah oleh Zulaikha lalu ditariklah baju Nabi Yusuf AS hingga sobek. Lalu setelah itu terpergoklah Nabi Yusuf AS dan Zulaikha oleh suaminya yaitu Al-Aziz, Namun Zulaikha membela diri dan menuduh jika Nabi Yusuf AS. Kemudian ada seseorang yang mengatakan jika robek bajunya di bagian depan berarti memang Nabi Yusuf AS pelakunya, namun jika di bagian belakang maka Zulaikha lah pelakunya. Pada nyatanya baju bagian belakang Nabi Yusuf AS lah yang sobek sehingga membuktikan bahwa Nabi Yusuf AS tidak bersalah dan Zulaikha ditegur oleh suaminya serta Al-Aziz berkata pada Nabi Yusuf AS untuk tidak menceritakan kejadian tersebut kepada orang lain.

Setelah kejadian itu, Zulaikha memanggil teman-temannya ke rumahnya. Ia ingin menunjukkan ketampanan Yusuf AS yang membuatnya tertarik dan ingin menggoda. Melihat paras rupawan Yusuf AS, teman-teman Zulaikha pun ternganga hingga tak sadar membuat mereka mengiris jari-jari tangannya sendiri. Mendengar tragedi sebelumnya antara Zulaikha dan Yusuf AS, teman-temannya itu pun menyebarluaskan kabar tersebut hingga membuat heboh sekitar. Melihat kenyataan tersebut, al-Aziz dan Zulaikha sepakat untuk memenjarakan Yusuf AS agar muncul opini bahwa Yusuf-lahyang menggoda istri tuannya.

Lalu masuklah Nabi Yusuf AS ke dalam penjara. Di sana beliau hanya bisa bersabar dan memohon pertolongan Allah SWT. Para ulama berbeda pendapat terkait jangka waktu dipenjaranya Yusuf AS. Ada yang mengatakan tiga, tujuh, bahkan 10 tahun. Dalam penjara, Nabi Yusuf AS bertemu dengan mantan pelayan raja dan pada saat mereka bermimpi, mereka meminta tolong pada Nabi Yusuf AS untuk menakwilkan mimpinya, mereka pun kagum akan kepandaian Nabi Yusuf AS dalam menakwilkan mimpi. Ketika kedua orang tersebut keluar dari penjara, Nabi Yusuf AS berpesan agar mereka mengatakan keahliannya dalam menakwilkan mimpi kepada tuannya atau raja.

Suatu ketika raja Mesir kala itu bermimpi dalam tidurnya, dan mimpinya itu membuat ia cemas. Raja itu bermimpi seakan-akan ia berada di tepi sungai, lalu dari dalam sungai muncul tujuh sapi betina dengan tubuh gemuk. Ketujuh sapi betina itu merasa senang berada di padang rumput yang subur. Setelah muncul tujuh sapi gemuk, dalam mimpi raja muncul kembali tujuh sapi bertubuh lemah dan kurus. Anehnya, ketujuh sapi yang bertubuh kurus itu ikut bersenang-senang dengan tujuh sapi betina bertubuh gemuk. Kemudian sapi-sapi bertubuh lemah memakan tujuh sapi betina yang gemuk.

Setelah terbangun, raja tersebut terkejut lalu ia melanjutkan tidur dan bermimpi aneh kembali. Mimpi-mimpi tersebut membuat raja cemas kemudian raja bercerta kepada para pembesar kerajaan namun tidak ada yang dapat menakwilkan mimpi tersebut. Kemudian orang yang pernah terpenjara dengan Nabi Yusuf AS pun meminta pada raja untuk mengizinkannya membawa Nabi Yusuf AS pada raja. Datanglah Nabi Yusuf AS kehadapan raja kemudian menjelaskan mengenai mimpi raja tersebut bahwa mimpi raja tersebut akan datang musim subur dan makmur selama tujuh tahun. Setelah itu, datanglah musim paceklik yang penuh kesulitan selama tujuh tahun pula. Nabi Yusuf AS juga memberikan solusi-solusi pada permasalahan tersebut. Kagum akan kepandaiannya, raja pun menawarkan Nabi Yusuf AS akan terlepas dari tuduhan yang selama ini dituduhkan padanya. Namun Nabi Yusuf AS menolok, ia ingin raja mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada Al-Aziz dan Zulaikha, setelah dikonfimasi ternyata benar Nabi Yusuf AS tidak bersalah.

Setelah bebas dari penjara, Nabi Yusuf AS diberikan kedudukan tinggi di Mesir oleh raja dan Nabi Yusuf AS meminta untuk dijadikan bendaharawan karena ia adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan. Raja pun percaya dan memberikan jabatan tersebut. Setelah itu Nabi Yusuf AS pun menikah dengan Zulaikha karena Zulaikha telah kembali jadi wanita bermartabat dan suaminya sudah meninggal dunia.

Dengan itu, raja Mesir pun mempercayakan jalannya pemerintahan kepada Nabi Yusuf. Di kala Mesir dilanda paceklik, 10 orang saudara yang dulu membuang Nabi Yusuf AS datang ke istana untuk menukar bahan makanan. Mereka tidak mengenali Nabi Yusuf AS akan tetapi Nabi Yusuf AS mengenali mereka dan memberikan bahan makanan. Nabi Yusuf AS tahu bahwa Bunyamin saudara kandungnya tidak datang maka dari itu Nabi Yusuf AS meminta mereka datang lagi nanti ke istana dengan Bunyamin.

Kembalilah saudara-saudara Nabi Yusuf AS ke kampung halaman, setelah sampai di rumah mereka menceritakan bahwa penguasa Mesir ingin bertemu dengan saudara mereka yaitu Bunyamin. Dan mereka pun sadar bahwa barang yang mereka bawa bukan dibarter melainkan mereka diberi jatah makanan. Setelah meyakinkan Nabi Yaqub, mereka pun berangkat kembali dengan Bunyamin dan barang yang akan ditukar dengan bahan makanan nanti.

Setelah mereka sampai di istana untuk berdiskusi mengenai penukaran barang, Nabi Yusuf AS pun bertemu dengan saudara-saudaranya dan Bunyamin lalu mengungkapkan identitasnya asli. Penguasa Mesir tiba-tiba mengungkapkan bahwa dirinya adalah Nabi Yusuf AS. Saudara-saudara Yusuf AS keheranan, tapi Yusuf AS menegaskan, "Akulah Yusuf dan ini saudaraku Bunyamin" Setelah mengetahui bahwa penguasa Mesir adalah Yusuf AS, lalu Yusuf AS memerintahkan kepada saudara-saudaranya untuk membawa baju yang ia kala itu beliau pakai kepada ayahnya Nabi Yaqub.

Yusuf AS pun juga memerintah agar sang ayah, Nabi Yaqub AS beserta keluarganya yang lain untuk dibawa ke Mesir supaya bisa bertemu dengannya. Demikian Nabi Yaqub bersama keluarganya datang ke Mesir untuk menemui dan berkumpul kembali dengan Yusuf AS setelah puluhan tahun terpisah. Ada ulama yang mengatakan bahwa Yusuf AS dan Nabi Yaqub terpisah selama 35 tahun, ada juga yang menyebut 83 tahun.

Setelah Yusuf AS menyadari bahwa nikmat yang diberikan Allah SWT kepadanya telah sempurna, yakni menjadi nabi, dengan dirinya yang telah berkumpul lagi dengan keluarganya, serta menjadi penguasa Mesir, beliau juga sadar bahwa kehidupannya di dunia adalah fana. Maka dari itu, Yusuf AS memohon kepada Allah SWT agar diwafatkan dalam keadaan memeluk Islam dan berharap kelak dipertemukan dengan hamba-hamba-Nya yang sholeh.

Sebelum Yusuf AS wafat, Allah terlebih dahulu mewafatkan Nabi Yaqub AS. Dijelaskan bahwa Nabi Yaqub AS menetap di Mesir bersama Nabi Yusuf AS selama 17 tahun. Sebelum wafat, Nabi Yaqub AS berwasiat kepada Yusuf agar mengebumikannya di wilayah Syam di sisi makam kakek dan ayahnya, yaitu Ibrahim dan Ishaq. Demikian Nabi Yaqub pun wafat pada usia sekitar 140 tahun. Beberapa tahun setelah kepergian ayahnya, Yusuf AS juga dipanggil Allah SWT ke hadapannya. Beliau wafat dan juga dikebumikan di tempat pemakaman orang tuanya. Yusuf AS diketahui wafat pada usia 120 tahun.