Etika Berkomunikasi dalam Islam
Kajian
Muslimah UNIDA
Oleh Mariah
Fitriah, S.Sos.,M.Si Dosen Sains Komunikasi
Kita sebagai makhluk sosial tentu berinteraksi antar
sesama manusia. Rasulullah SAW telah mencontohkan perkataan yang santun dan
lembut. Ada beberapa etika berkomunikasi Rasulullah SAW antara lain:
- Jangan terlalu berceloteh
Kita berhati-hati terlalu banyak berceloteh yang akan
memperpanjang pembicaraan. Cukup perkataan yang ringkas dan jelas.
- Berbicara dengan hati-hati atau berkata yang baik
Lidah tak bertulang. Berbicaraklah dengan hati-hati
supaya tidak menyakiti. Kata-kata yang menyakiti akan membekas lebih lama
dibanding sakitnya secara fisik. Kita terkadang lupa, berkomunikasi zaman
sekarang ini juga tidak lepas menggunakan media sosial, salah satunya whatsapp.
Segala bentuk tulisan akan memiliki makna, termasuk penggunaan huruf kapital
dan tanda baca. Layaknya berbicara secara langsung, itu memiliki intonasi
berbeda. HR. Bukhari dan Muslim: Siapa yang beriman kepada Allah Swt dan hari
akhir, maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.
- Tidak mencela
Orang yang beriman adalah orang-orang yang selalu
berbicara dalam kebaikan
HR Bukhari dan Muslim: “Siapa yang beriman kepada
Allah Swt dan hari akhir maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau diam.”
- Menjauhi debat kusir
“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah
untuk mereka melainkan karena terlalu banyak berdebat” (HR Ahmad dan Tarmidzi)
Perkataan yang baik merupakan perkataan yang direstui
oleh Allah Swt (Qs. Ibrahim: 24-25). Dalam Islam, ada jenis-jenis perkataan
yang baik yaitu:
- Qawlun Ma’uf: perkataan yang identik dengan
kesantunan dan kerendahan jati.
- Qawlun Tsabut: perkataan yang memiliki
argumentasi kuat dilandasi keimanan
- Qawlun Sadid: perkataan yang benar
- Qawlun Baliqh: perkataan yang efektif dan efisien
- Qawlun karim: perkataan yang mulia dengan tutur
kata yang bersih dari nada merendahkan
- Qawlun Maysur: perkataan perkataan yang layak dan
pantas
- Qawlun Layyin: perkataan yang lemah lembut
Etika berkomunikasi salah satunya yaitu harus memperhatikan dengan siapa kita berbicara dengan orang tua, dengan pimpinan atau rekan sejawat. Selayaknya dalam hubungan sehari-hari diimplementasikan dan komunikasi dengan sesama supaya tidak menyakiti.