[email protected] 0251-8240773
Berita

FAIPG UNIDA Gelar INCHES 2025: Akademisi Internasional Bahas Masa Depan Berkelanjutan melalui Pendidikan dan Ekonomi Islam

Fakultas Agama Islam dan Pendidikan Guru (FAIPG) Universitas Djuanda (UNIDA) menyelenggarakan International Conference on Human Sciences, Education and Islamic Economics (INCHES) 2025 pada Rabu, 5 November 2025. Kegiatan ini berlangsung secara hybrid, bertempat di Aula Gedung C Kampus UNIDA dan melalui Zoom Cloud Meetings.

Mengusung tema “Fostering Sustainable Futures through Human Sciences, Education, and Islamic Economics”, konferensi ini menghadirkan akademisi dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi dalam dan luar negeri sebagai pembicara utama. Di antaranya yakni Assoc. Prof. Dr. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I dari Universitas Djuanda, Prof. Dr. Tengku Faekah Tengku Ariffin dari Universiti Utara Malaysia, Prof. Dr. Ali Sabri IPEK dari Recep Tayyip Erdogan University, Türkiye, Asst. Prof. Dr. Weni Hawariyun dari University of Buraimi, Oman, Dr. Amirul Mukminin, M.Sc.Ed., Ph.D dari Universitas Jambi, serta Prof. Dr. Amirullah Abduh, M.Ed., Ph.D dari Universitas Negeri Makassar.

Konferensi yang dipandu oleh Dr. Mega Febriani Sya, M.Pd, dosen FAIPG UNIDA, ini juga diikuti oleh ratusan peserta dari berbagai perguruan tinggi, baik nasional maupun internasional.

Keynote Speaker, Rektor UNIDA Assoc. Prof. Dr. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I dalam kesempatan ini menekankan pentingnya sinergi antara ilmu pengetahuan manusia, pendidikan, dan ekonomi islam sebagai fondasi bagi masa depan berkelanjutan.

Menurutnya, melalui pendidikan berlandaskan tauhid, akan lahir generasi cerdas, berakhlak, dan peduli terhadap lingkungan.

“Membina masa depan berkelanjutan adalah amanah bersama. Melalui ilmu yang beretika, pendidikan bernilai, dan ekonomi Islam yang adil, kita dapat mewujudkan peradaban rahmatan lil‘alamin,” tuturnya.

Assoc. Prof. Dr. Siti Pupu Fauziah, M.Pd.I menjelaskan, dalam pendidikan islam tidak hanya transfer pengetahuan (ta‘līm), tetapi juga pembinaan kepribadian (tarbiyah) dan penyucian jiwa (ta’dīb).

“Ta’lim berdampak pada kecerdasan intelektual, tarbiyah berdampak pada kecerdasan emosional dan sosial, ta’dib berdampak pada kecerdasan spiritual dan pengendalian diri dan semuanya bermuara pada terbentuknya manusia yang berakhlak mulia,” jelasnya.

Narasumber lainnya, Prof. Dr. Tengku Faekah Tengku Ariffin memaparkan materi berjudul “Empowering Teacher Professionalism for Sustainable Educational Futures”. Ia menyoroti pentingnya transformasi profesionalisme guru sebagai landasan utama keberlanjutan pendidikan di abad ke-21.

“Sistem pendidikan global sedang berada di persimpangan. Untuk mencapai masa depan yang berkelanjutan, kita harus membangun profesionalisme guru yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada dampak,” ujarnya.

Peta kapabilitas guru masa depan, menurut Prof. Tengku Faekah, harus memiliki kemampuan inti, termasuk literasi masa depan, integrasi AI, kepemimpinan kolaboratif, ketahanan emosional, dan kesadaran keberlanjutan.

“Investasi terbesar dalam pendidikan bukanlah pada infrastruktur fisik, melainkan pada profesionalisme guru. Di tangan mereka, masa depan pendidikan yang tangguh dan berkelanjutan dapat terwujud,” tegasnya.

Sesi pemaparan dilanjutkan Prof. Amirullah Abduh, M.Ed., Ph.D yang memaparkan kajian komprehensif mengenai perkembangan kebijakan bahasa, pembentukan identitas nasional, dan implementasi pendidikan dwibahasa di Indonesia. Presentasi berjudul Language Policy, Identity, and Bilingual Education in Indonesia tersebut menelusuri perjalanan sejarah dan politik kebijakan bahasa Indonesia serta tantangan dan peluang yang dihadapi dalam konteks globalisasi pendidikan.

“Bahasa tidak hanya alat komunikasi, tetapi juga bagian dari keadilan sosial. Diskriminasi linguistik masih menjadi bentuk ketimpangan yang jarang disadari,” ungkapnya, mengutip teori Rosina Lippi-Green tentang language as the last back door to discrimination.

Sementara itu Prof. Amirul Mukminin dari Universitas Jambi memaparkan peran penting pesantren sebagai wajah sejati pendidikan Islam di Indonesia. Dalam presentasinya yang berjudul Islamic Boarding Schools (Pesantren) and Human Capital Development: Bridging Tradition and Innovation, ia menekankan bahwa pesantren bukan hanya lembaga keagamaan, tetapi juga pusat pembentukan karakter, moral, dan sumber daya manusia yang berdaya saing.

Prof. Amirul menjelaskan bahwa berdasarkan data Kementerian Agama tahun 2024/2025, terdapat 42.433 pesantren aktif di Indonesia dengan sekitar 4,9 juta santri. Provinsi dengan jumlah pesantren terbesar adalah Jawa Barat (13.005), diikuti Jawa Timur (7.347) dan Banten (6.776).

“Angka ini menunjukkan bahwa pesantren bukanlah lembaga pendidikan pinggiran, melainkan bagian penting dan nyata dari sistem pendidikan nasional,” ujar Prof. Amirul.

Meskipun kemajuan kebijakan sudah signifikan, Prof. Amirul menilai implementasi masih belum merata. Pesantren kecil dan tradisional sering kali tertinggal dalam hal teknologi, pendanaan, dan manajemen. Oleh karena itu, ia menyerukan transformasi kepemimpinan pesantren menuju model kepemimpinan transformatif dan kolaboratif, serta penguatan kurikulum dengan literasi digital dan keterampilan hidup.

“Pesantren harus menjadi lembaga yang mampu menjembatani tradisi dengan inovasi. Mengakar kuat pada nilai-nilai Islam, tetapi tetap terbuka terhadap perkembangan zaman,” tegasnya.

Hadir secara virtual, narasumber INCHES 2025 yakni Prof. Dr. Ali Sabri IPEK dan Dr. Weni Hawariyuni. Dua akademisi internasional menyoroti pentingnya reformasi pendidikan dan keuangan Islam sebagai fondasi bagi pembangunan manusia dan keberlanjutan global.

Prof. Dr. Ali Sabri IPEK memaparkan presentasi yang bertajuk Innovating Primary Education for the 21st Century: Lessons from Turkey’s Educational Reform.

Melalui Türkiye Century Education Model (TCEM), Türkiye mengembangkan sistem pendidikan yang menekankan pembentukan pelajar yang “competent and virtuous”. Model ini berfokus pada penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai, serta menekankan kesetaraan kesempatan belajar bagi semua siswa.

“Pendidikan yang berpusat pada siswa dan mengintegrasikan nilai serta karakter akan menjadi kunci bagi masa depan bangsa mana pun,” tambah Prof. Ali Sabri.

Sementara itu, Dr. Weni Hawariyuni dari University of Buraimi menyoroti peran ekonomi dan keuangan Islam dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Oman dan negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC).

“Keuangan Islam bukan hanya sistem keuangan yang bebas riba, tetapi juga instrumen moral yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan,” jelasnya.

Dalam paparannya bertajuk The Role of Islamic Economics and Finance on Human and Sustainable Development in Oman and GCC Countries, Dr. Weni menegaskan bahwa prinsip maqasid al-shariah, zakat, dan waqf dapat diintegrasikan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) PBB.

“Oman Vision 2040 dan Saudi Vision 2030 adalah contoh nyata bagaimana nilai-nilai Islam dapat menjadi dasar kebijakan ekonomi hijau dan inklusif,” ujar Dr. Weni.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, bank, dan universitas untuk memperkuat riset dan inovasi dalam ekonomi Islam.

“Pendidikan membentuk karakter, dan ekonomi Islam mengarahkan perilaku. Keduanya adalah pilar untuk masa depan yang berkeadilan dan berkelanjutan,” terangnya.