[email protected] 0251-8240773
Berita

FISIP UNIDA Gelar Kuliah Umum Bersama Akademisi Universiti Kebangsaan Malaysia, Ulas Sistem Pemilu hingga Pemberdayaan Komunitas Digital

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Djuanda (UNIDA) menggelar kuliah umum bersama akademisi dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) pada Jumat (08/05/2026) di Ruang Kelas D.303 FISIP UNIDA. Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Novel Anak Lyndon dan Dr. Junaidi Awang Besar sebagai narasumber, serta diikuti oleh mahasiswa dan insan akademika FISIP UNIDA.

Kuliah umum tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan lintas negara yang membahas dinamika sistem demokrasi, geografi politik, hingga pemberdayaan komunitas berbasis digital di era modern.

Wakil Dekan Akademik FISIP UNIDA, Dr. Saprudin, M.Si menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen FISIP UNIDA dalam menghadirkan pembelajaran berwawasan global sekaligus memperluas perspektif mahasiswa terhadap isu-isu internasional.

Menurutnya, kehadiran akademisi dari Malaysia menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman akademik yang lebih luas melalui diskusi dan pertukaran pengetahuan secara langsung.

“Kehadiran akademisi internasional kali ini menjadi investasi ilmu bagi kita semua. Melalui kuliah umum ini, mahasiswa diharapkan dapat memperluas cara berpikir, memperoleh perspektif baru, serta membangun jejaring akademik yang bermanfaat bagi pengembangan keilmuan,” ujarnya pada saat memberikan sambutan.

Pada sesi pertama, Prof. Dr. Novel Anak Lyndon membahas perbedaan mendasar sistem pemilu di Malaysia dan Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Malaysia menerapkan sistem First Past the Post (FPTP), sementara Indonesia menggunakan sistem Perwakilan Proporsional dengan pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat.

“Di Malaysia, Perdana Menteri dipilih melalui anggota parlemen, sedangkan di Indonesia pemimpin dipilih langsung oleh rakyat melalui pemilu,” jelasnya.

Ia juga mengulas bagaimana faktor geografis dan demografis memengaruhi pola pemungutan suara di Malaysia, termasuk perbedaan karakteristik pemilih di wilayah perkotaan dan pedesaan. Menurutnya, meski kedua negara memiliki sistem yang berbeda, tujuan utama demokrasi tetap sama, yakni menjaga stabilitas politik dan pemerintahan.

Selain itu, Prof. Dr. Novel turut memaparkan hasil Pemilihan Umum ke-15 (PRU-15) Malaysia tahun 2022 yang mencatat sejarah sebagai salah satu pemilu paling kompetitif di negara tersebut karena menghasilkan kondisi hung parliament atau tidak adanya mayoritas mutlak di parlemen.

Sementara itu, pada sesi kedua, Dr. Junaidi Awang Besar menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat dalam memperkuat demokrasi dan pembangunan komunitas. Ia menilai keterlibatan warga menjadi elemen penting dalam membangun tata kelola yang transparan dan berkelanjutan.

Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan literasi digital kini menjadi bagian penting dalam pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam menciptakan smart communities atau komunitas cerdas.

“Literasi digital saat ini bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan kebutuhan mendasar. Namun kesenjangan akses dan infrastruktur digital di wilayah pedesaan masih menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian serius,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai agen transformasi sosial melalui kepemimpinan, keterlibatan sipil, dan aktivisme digital. Menurutnya, pembangunan berkelanjutan akan berjalan optimal apabila masyarakat dilibatkan sebagai mitra aktif dalam proses pembangunan.

Kuliah umum berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab bersama mahasiswa. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan yang membahas isu demokrasi, partisipasi publik, hingga tantangan transformasi digital di tengah masyarakat. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi foto bersama.