[email protected] 0251-8240773
Kegiatan Kemahasiswaan

Gen Z Membaca UNIDA dan Readvolution IPB Kolaborasi Angkat Tema Pentingnya Literasi Konvensional di Era Digital

Komunitas Gen Z Membaca Universitas Djuanda (UNIDA) berkolaborasi dengan komunitas Readvolution Sekolah Vokasi (SV) IPB University bertemakan “Pentingnya Literasi Konvensional di Era Digital”, Minggu, 9 November 2025, di Ruang Audio Visual SV IPB University, Babakan, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Inisiator sekaligus Ketua Gen Z Membaca, Fairuz Husna Lana, mengungkapkan bahwa kegiatan ini menjadi pengalaman berharga bagi komunitasnya.

“Ini merupakan kegiatan yang sangat berharga dan positif. Kami ingin menularkan kebiasaan membaca secara perlahan, menginspirasi, dan mengajak orang-orang untuk berkembang bersama. Dengan membaca, kita bisa membentuk karakter dan menciptakan citra positif terhadap buku konvensional,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu panitia pelaksana kegiatan, Mika Eunieke Gultom, mahasiswa Komunikasi Digital Media SV IPB University, menuturkan bahwa kolaborasi ini membuka wawasan baru tentang pentingnya membaca buku.

“Kolaboratif antara Gen Z Membaca dan IPB University berjalan dengan sangat baik. Banyak insight baru mengenai pentingnya membaca buku, sekaligus kesempatan bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai pemikiran menarik. Semoga kegiatan seperti ini terus berlanjut dan berkembang,” tuturnya.

Salah satu pemateri dalam kegiatan ini, Muhamad Deril, mahasiswa Sains Komunikasi FISIP UNIDA sekaligus Wakil Ketua Gen Z Membaca, menjelaskan bahwa literasi konvensional memiliki peran penting di tengah arus digitalisasi.

“Literasi adalah kemampuan membaca dan memahami situasi. Untuk menguasai literasi digital, kita perlu memiliki dasar literasi konvensional yang kuat. Karena itu, kebiasaan membaca buku menjadi penting agar kita mampu mengikuti perkembangan teknologi dengan bijak,” jelasnya.

Salah satu peserta, Muhamad Farhan Adi Nugroho, mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberinya semangat baru untuk kembali membaca buku fisik.

“Dari kegiatan ini saya jadi sadar kalau membaca buku fisik ternyata lebih berkesan dan membuat lebih fokus. Rasanya beda aja dibanding baca di layar. Jadi pengin lebih sering baca buku lagi,” katanya.

Rangkaian kegiatan ini meliputi sesi membaca bersama, sharing, talkshow interaktif, serta games seputar literasi konvensional, lalu ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan kenang-kenangan antar komunitas.