[email protected] 0251-8240773
Informasi

Hari Agama Sedunia

Hari Agama Sedunia

Prepared by Syamsuddin Ali Nasution BA, MA, PhD

 

Hari Agama Sedunia diperingati pada setiap tahun pada bulan Januari. Ini merupakan suatu momentum bagi setiap pemeluk agama untuk saling menghayati dan merenung ajaran dan tradisi yang ada dalam agamanya masing-masing, dan menggunakan kesempatan untuk belajar dari orang lain mengenai kekurangan dan kelebihan pengalaman beragama, dan sekaligus dijadikan sebagai bahan renungan untuk masing-masing dalam meraih kedamaian dan ketenangan yang sebenarnya. Berikut dikemukakan pengertian agama, keurgensian agama bagi manusia dan lain-lain.

A.   Apakah itu Agama

Apabila dikaji dan diteliti buku-buku referensi tentang terminologi “Agama”, baik yang berbahasa Melayu maupun yang berbahasa Inggris, maka ditemukan berbagai macam definisi yang dikemukakakan oleh para pakar, di antaranya ialah bahwa secara etimologi, kata “Agama” berasal dari bahasa Sanskerta, bahasa Hindu kuno, yang berkonotasi sebagai peraturan, kepercayaan, haluan dan jalan[i]. Sementara itu dalam kitab suci agama Hindu, Rig Weda menyebutkan bahwa terminologi “Agama” merupakan kata gabungan yang terdiri atas “A” yang bermakna “tidak” dan “gama”  yang mengandung arti “kacau”. Dengan demikian, jika kedua kata itu digabung menjadi satu perkataan “Agama” maka konotasinya ialah “tidak kacau, tenteram dan damai”[ii].

Sementara K. Burhanuddin Wahid Key berpendapat bahwa agama ialah suatu sistem kepercayaan dan peribadatan[iii]. Dalam pada itu, Kamus Dewan pula mengetengahkan arti agama sebagai suatu kepercayaan kepada kuasa tertinggi yang menguasai alam ini dan cara-cara memuja serta mengikutinya, kepercayaan kepada yang Mahakuasa (Tuhan, dewa dan lain-lain)[iv]. Agama juga biasa didefinisikan sebagai kepercayaan terhadap sesuatu yang supernatural dan pengaturan upacara-upacaranya untuk menyembahnya[v].

Agama atau “Religion” dalam bahasa Inggris, “Religio” dalam bahasa Latin dan “Religie” dalam bahasa Belanda merupakan kata yang memiliki berbagai definisi. Dari keberbagaian definisi itu memunculkan  pernyataan bahwa definisi agama kabur di kalangan masyarakat[vi], sebagaimana dapat dilihat dari ungkapan-ungkapan berikut tentang definisi “Religion” (agama), di antaranya:

“Many definitions of religion have been given, and while none seems to be entirely agreed that religion treats of man’s relation to a supreme power, and his method of expressing that relation in worship”[vii]

Sementara Radcliffe-Brown pula mengemukakan definisi agama sebagai berikut:

“Anywhere an expression in one form on another of a sense of dependence on a power outside ourselves, a power of which we may speak as a spiritual or moral power”[viii].

Definisi lain mengatakan bahwa agama ialah:

“a system of belief involving a conviction that a supernatural power or powers influences both natural and human phenomena and awakening feelings of reverence, awe and dependence within men”[ix].

Selain dari definisi yang dikemukakan di atas, terdapat suatu definisi yang sangat sederhana. Definisi tersebut diberikan oleh E.B.Tylor yang mana ia mengatakan sebagai berikut: “Religion is the belief in spiritual beings[x].

Aneka ragam pengertian agama yang dikemukakan oleh para pakar sebagaimana tersebut di atas, mengindikasikan betapa sukar atau rumitnya menentukan definisi Agama dan merumuskan pengertian yang komprehensif dan jelas, yang mencakup segala aspeknya. Kerumitan tersebut bukan saja berasal dari fakta bahwa agama-agama yang masih eksis dan yang tidak eksis lagi adalah mengetengahkan konsep-konsep yang berbeda[xi], tapi juga disebabkan banyaknya jenis agama.

Pada dasarnya agama-agama yang eksis dewasa ini di dunia dapat dikategorikan kepada dua bagian. Pertama yaitu agama-agama duniawi yang merupakan kebudayaan, yang mana muncul dan berkembang dalam suatu masyarakat sebagai hasil buah pikiran manusia, dan yang kedua ialah agama samawi atau wahyu yang datangnya dari Allah swt[xii]. Justru itu, adalah terlalu kompleks untuk memberikan suatu rumusan yang lengkap[xiii], jika tidak memperhatikan berbagai unsur atau elemennya, atau jika hanya mencurahkan perhatian kepada sebagian aspek dan sudut tertentu saja.

Bagaimanapun corak dan bentuk definisi agama yang dikemukakan oleh seseorang itu, adalah jelas merujuk kepada bentuk-bentuk hakikat tertentu, yaitu mengandung unsur akidah atau kepercayaan, amalan atau kegiatan, perasaan-perasaan, sikap dan sebagainya.[xiv] Justru itu, terlalu kompleks untuk memberikan suatu rumusan yang lengkap jika tidak memperhatikan berbagai aspeknya.

Berdasarkan berbagai definisi agama sebagaimana dipaparkan di atas, maka dapat dikonklusi hal-hal berikut:

1.    Agama dapat dikatakan sebagai suatu sistem hubungan antara manusia dengan Tuhan, dan tidak ada sangkut pautnya dengan fenomena atau permasalahan-permasalahan yang berlaku antara manusia dengan manusia, atau manusia dengan alam.

2.    Pada definisi-definisi agama tersebut menggambarkan adanya kedamaian, apabila seseorang itu mematuhi peraturan dan menuruti jalan yang sudah ditetapkan, dan dapat menciptakan ketenangan jiwa serta dapat menghilangkan fikiran yang kacau.

3.    Terdapat beberapa point yang menjadi ciri suatu agama, yaitu:

a.    Kepercayaan kepada kuasa tertinggi (supernatural power)

b.    Amalan-amalan yang dipersembahkan kepada kuasa tertinggi tersebut.

c.    Tata cara khusus dalam melaksanakan amalan-amalan (ritual) itu.

d.    Amalan yang dilakukan itu melahirkan rasa takzim, takut dan rasa ketergantungan kepada kuasa tertinggi tersebut.

 

B. Pengertian “al-Din”

Terminologi “al-Din” yang biasa diinterpretasikan sebagai “agama” sebenarnya tidak sama makna dan maksudnya dengan agama atau religion[xv] sebagaimana dipaparkan artinya di atas. Memang sudah biasa atau lazim di kalangan orang awam bahwa istilah “al-Din” itu diartikan sebagai agama dalam bahasa Indonesia, dan religion dalam bahasa Inggris. Tetapi pengartian itu hanya untuk mempermudah komunikasi atau dialog dengan orang awam saja[xvi].

Apabila dirujuk kamus-kamus berbahasa Arab, seperti Lisan al-‘Arab, maka ditemukan bahwa kata “al-Din” mengandung berbagai arti, di antaranya: perhitungan, ketaatan, Islam, adat dan keadaan, kehinaan, kerajaan atau pemerintahan, dan lain-lain[xvii].

Begitu juga di dalam Alquran, ditemukan bahwa kata “al-Din” memiliki berbagai konotasi atau arti seperti makna pembalasan atau hari kiamat (surah al-Fatihah ayat 5), hukum atau undang-undang (surah Yusuf ayat 76), “Din” (agama) yang hak dan yang batil (surah al-Kafirun ayat 6), Islam (surah al-Rum ayat 30) dan lain-lain.

Kata “al-Din” menurut Syara’ diartikan sebagai peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Allah untuk membimbing orang-orang yang berakal dengan kehendak mereka kepadanya dalam rangka meraih kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat[xviii]. Dalam konteks yang sama, Syeikh Tantawi menyatakan bahwa asal-usul makna “al-Din” ialah kepatuhan (berserah diri kepada Allah), kemudian dijadikan sebagai suatu nama untuk semua perkara yang mana ummat manusia melakukan pengabdian kepada Allah, lalu Dia menyuruh mereka untuk melaksanakannya[xix].

Berdasarkan arti dan definisi di atas, maka dapat dipahami dengan jelas bahwa terdapat perbedaan antara makna agama dengan al-Din. Oleh karena itu, sangat tidak tepat menggunakan kata ‘agama’ sebagai makna al-Din, terutama apabila yang dimaksud itu adalah al-Din yang sebenarnya, karena hanya Islam sebagai al-Din yang hak dan yang diakui oleh Allah swt di sisi-Nya sebagaimana disebutkan dalam surah Ali “Imran , 19:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ .........

“ Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam...........”

Dengan demikian, apabila diperhatikan ajaran-ajaran Din al-Islam yang meliputi berbagai aspek hidup dan kehidupan, seperti masalah sosial, ekonomi dan lain-lain, maka tidak mungkin dikatakan bahwa al-Din itu adalah hanya agama, karena ini lebih luas dari makna agama. Tetapi agama hanya merupakan sebagian dari kandungan Din al-Islam.

 

C.   Kebutuhan Manusia pada Agama

Menurut Alquran, manusia merupakan perpaduan antara ruh dan jasad, spiritual dan fisik, dimana dengan keterpaduan itu terwujudlah proses dan mekanisme hidup. Apabila keterpaduan tersebut mengalami pemisahan maka proses dan mekanisme hidup pun akan berhenti. Makhluk manusia diciptakan oleh Allah dari unsur material dan immaterial[xx].

Hakikat penciptaan manusia dari komponen jasmani telah digambarkan dalam Alquran surah Shad ayat 71:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah".

Juga dijelaskan pada surah al-Sajadah ayat 7-8 sebagai berikut:

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ.  ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ

Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina”.

Sementara proses peniupan ruh manusia merupakan unsur immaterial sebagaimana dijalaskan dalam Alquran surah Shad ayat 72:

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ

Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya".

Di samping itu, firman Allah pada surah al-Sajadah ayat 9 sebagai berikut:

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Berdasarkan ayat di atas, adalah jelas bahwa Allah swt menciptakan Adam sebagai manusia pertama dan keturunannya dengan mempunyai fisik, jasmani yang berasal dari benda (tanah). Setelah sempurna proses pembentukannya, maka Allah swt meniupkan ruh ciptaan-Nya yang qudus dan immaterial untuk menghidupkan fisik atau jasad tersebut.

Apabila diperhatikan penciptaan manusia yang terdiri dari dua komponen yang berbeda, yaitu tanah yang letaknya di bumi dan ruh yang datangnya dari Yang Mahatinggi, maka dapatlah dikatakan dengan tegas bahwa kebutuhan manusia juga terdiri dari dua hal yang berbeda,  berfungsi untuk menjaga dan mempertahankan eksistensinya[xxi]. Kebutuhan tersebut dapat diketegorikan kepada dua bagian:

1.    Kebutuhan hidup yang sesuai dengan watak jasmani atau fisiknya (physical needs) yaitu terdiri dari tiga hal utama: makanan, pakaian dan tempat tinggal yang semuanya berasal dari tanah[xxii].

2.    Kebutuhan hidup yang sesuai dengan watak ruhaniahnya (Psychological needs), yaitu ia membutuhkan nilai-nilai dan sifat-sifat ketinggian, merindukan hal kebenaran dan ketuhanan[xxiii], karena kebenaran itu merupakan tujuan segala kenyataan; kebenaran yang mutlak adalah Tuhan[xxiv]. Kebutuhan tersebut berasal dari alam ketinggian dan kekudusan.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, maka dapat diambil suatu kepastian bahwa sifat-sifat manusia yang bukan saja sebagai makhluk jasmani tetapi juga makhluk rohani telah menyebabkan manusia bukan saja membutuhkan hal-hal kejasmanian, tapi juga membutuhkan hal-hal kerohanian yang mana hanya dapat dipenuhi oleh agama[xxv]. Dengan demikian pula, menjadi jelas bahwa agama merupakan suatu instinct, gharizah, naluri dan fitrah semulajadi bagi setiap diri manusia. Hal ini juga diakui oleh para sarjana Barat, yang mana mereka menegaskan “All men are religious[xxvi]

Sarjana-sarjana non-Muslim mengakui bahwa fitrah beragama telah tumbuh pada jiwa setiap insan sejak eksistensinya di permukaan bumi ini, baik pada zaman dahulu maupun zaman kini. Dalam konteks ini, J.A. Macculloch menyatakan sebagai berikut:

“We find that even among such backward people there exist religious and ethical ideas of a strangely advanced orders. If, then, men everywhere and at all stages is religious, this confirms the view that he has at all times been religious”[xxvii]

Menurut sejarawan, bangsa-bangsa purba seperti Greek dan Roma purba ditemukan mereka sudah mempunyai kepercayaan masing-masing; mereka memiliki tuhan yang banyak; begitu juga bangsa-bangsa yang lain. Kesemua kepercayaan mereka itu mengindikasikan bahwa agama adalah merupakan tuntutan atau kebutuhan hidup manusia yang tidak bisa terpisahkan[xxviii].

Oleh karena itu, tidak ada suatu golongan masyarakat atau sesuatu bangsa di dunia yang tidak mempunyai agama atau kepercayaan sama sekali, baik itu agama yang benar ataupun agama yang salah. Dimana saja suatu masyarakat eksis, maka dapat dipastikan bahwa ada agama yang menjadi anutan mereka[xxix]. Dalam konteks ini, Afiff Abdul Fattah Thayyarah menegaskan sebagai berikut:

“Maka dari itu, belum pernah agaknya kita menemukan suatu ummat, suatu golongan atau suatu bangsa yang sama sekali tidak mempunyai agama, baik agama itu diredhai oleh Allah atau tidak, baik agama itu menurut pandangan kita keliru dan salah ataupun benar dan hak”[xxx]

Perspektif Islam tentang persoalan manusia butuh agama adalah cukup jelas bahwa sifat manusia mempercayai Tuhan Pencipta alam semesta telah ditemukan atau melekat pada diri setiap insan, yang mana disebut sebagai “religious instinct”, dan inilah yang membedakan manusia dari makhluk hewan. Berkaitan dengan ini, Allah berfirman pada surah al-A’raf ayat 172:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

Syeikh Muhammad Abduh memberi komen kepada ayat di atas, dengan menyatakan bahwa Allah swt menciptakan manusia di atas fitrah (naluri) Islam dan Dia meletakkan gharizah (watak) keimanan dalam diri mereka. Kemudian Dia menciptakan daya pemahaman pada akal dan pikiran manusia bahwa apabila didapati perbuatan maka sudah pasti ada yang membuatnya, dan bahwa setiap eksis ciptaan sudah barang tentu ada penciptanya, dan bahwa pada seluruh alam yang baharu ini ada kekuatan dan kekuasaan yang lebih tinggi lagi, yaitu Allah swt yang Maha Berhak disembah[xxxi].

Sesungguhnya Allah swt telah menciptakan manusia dalam keadaan “Haniif” dan juga dalam keadaan berada pada Din al-Islam, sebagaimana Allah telah menegaskannya pada surah al-Rum ayat 30, sebagai berikut:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Al-Rum, 30)

Ketika menguraikan ayat di atas, seorang ulama Tafsir, Al-Alusiy menyatakan bahwa yang dimaksud dengan menciptakan manusia di atas Din al-Islam ialah menjadikan mereka berada dalam keadaan tunduk menerimanya, tidak berpaling daripadanya dan tidak mengingkarinya, karena situasi Islam itu adalah bersesuaian dengan akal (rasional) dan sejalan dengan pikiran yang sehat, sehingga seandainya mereka terbiar begitu saja, maka sudah barang tentu mereka tidak memilih agama lain[xxxii].

Justru itu,apabila seorang anak dibiarkan mengikuti fitrah (naluri) dan watak semulajadinya tanpa diingatkan dan tidak pula dimasuki oleh pahaman apa pun, maka ia akan tumbuh, berkembang dan menjadi besar dalam keadaan sadar dan mengakui keesaan Allah[xxxiii]. Tetapi karena faktor-faktor luar seperti pendidikan, lingkungan dan pergaulan dalam kehidupan ini mempengaruhinya, maka anak itu setelah dewasa biasanya menyimpang dari naluri asalnya[xxxiv]. Sebab anak kecil belum memiliki kematangan lagi dalam menghadapi pertentangan antara fitrahnya dan faktor-faktor tadi. Begitu juga, anak itu masih belum mempunyai daya ketahanan dalam mengatasi atau mengalahkan rintangan-rintangan atau musuh-musuh dari luar .

Penjelasan-penjelasan di atas membuktikan bahwa kepercayaan kepada Allah swt merupakan instinct (naluri) yang tidak dapat terpisahkan dari jiwa setiap insan, yaitu suatu fitrah yang sehat dan murni. Bagaimanapun, fitrah yang sehat itu terkadang terkena noda, karat atau kotoran oleh sebab adanya pengaruh-pengaruh material dan kurangnya pendidikan rohani. Namun noda tersebut bisa hilang apabila manusia itu tertimpa musibah, dilanda kesusahan dalam hidupnya atau diancam oleh bahaya bencana alam, banjir dan gempa bumi yang memusnahkan harta benda dan mengorbankan jiwa. Manusia pada ketika itu terpaksa meminta dan memohon bantuan kepada Tuhan yang Mahakuasa dan Maha Pencipta. Kondisi seperti ini digambarkan oleh Allah swt di berbagai tempat dalam Alquran, diantarnya disebutkan dalam surah Yunus ayat 12 sebagai berikut:

وَإِذَا مَسَّ الإنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَى ضُرٍّ مَسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٢)

Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

Dengan demikian, adalah jelas bahwa ketergantungan manusia kepada Allah Yang Maha Kuasa merupakan suatu hal yang tidak dapat dielakkan, karena memang tujuan penciptaan manusia itu pun adalah untuk menghambakan diri kepada-Nya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah swt dalam Alquran surah al-Zariyat ayat 56 sebagai berikut:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Buya HAMKA ketika memberi komentar kepada ayat tersebut menegaskan sebagai berikut:

“Di sinilah Tuhan menjuruskan hidup kita, memberi kita pengarahan, Allah mencipta kita, jin dan manusia tidak untuk yang lain, hanya untuk satu macam tugas saja, yaitu mengabdi, beribadat. Beribadat yaitu mengakui bahwa kita ini hamba-Nya, tunduk kepada kemauan-Nya.”[xxxv]

Seluruh umat manusia yang hidup di permukaan bumi ini tidak dapat melepaskan dirinya dari tuntutan bertuhan kepada Allah swt dan Din al-Islam yang merupakan instinct dan fitrah suci manusia. Apabila fitrah tersebut dikesampingkan, maka timbullah berbagai efek yang negatif dan buruk, serta krisis pun muncul. Tanpa (agama) Islam, segala kemajuan yang tercapai oleh manusia, baik dari segi pikiran maupun dari aspek teknologi tidak akan memberikan kebahagiaan dan ketenteraman, malah akan membinasakan umat manusia[xxxvi].

Berdasarkan uraian-uraian dan bukti-bukti di atas, maka dapatlah ditegaskan bahwa apapun pernyataan dan pengakuan orang-orang yang berfaham atheis, yang menidakkan dan mengingkari eksistensi Tuhan Yang Maha Kuasa adalah pengakuan yang tidak disandarkan kepada logika yang sehat, juga tidak didasarkan pada pengetahuan yang kokoh. Pada dasarnya, mereka itu sebenarnya adalah orang-orang yang percaya kepada keesaan Allah swt.

 

Sekian dan terimakasih

 



[i] Mohd. Fauzi bin Haji Awang, Ugama2 Dunia, PAP Kelantan 1964, h.14.

[ii] . Mardaham Al-Imam .R.M (H), Agama yang Lurus Benar, Kalam Mulia Jakarta 1989, h. 6.

[iii] K. Burhanuddin Wahid Key, Konsep Pembudayaan Manusia Dalam Islam, Ghalia Indonsia, Jakarta 1978, h.22.

[iv] Tengku Iskandar, Kamus Dewan, Dewan Bahasa Dan Pustaka, Kuala Lumpur 1970, h.1312.

[v] Moersaleh, Islam Agamaku Dari Seorang Awam Kepada Sesama Awam, Kalam Mulia, Jakarta 1989, h.5.

[vi] Sidi Gazalba, Islam Dan Perubahan Sosiobudaya: Kajian Islam Tentang Perubahan Masyarakat, Pustaka Antara, Kuala Lumpur 1983, h. 28.

[vii]. American Educator Encyclopedia, The United Educators, Inc, Chicago, New York, Toronto, Vol.11, p.75.

[viii] Betty R.Scharf, The Sociological Study Of Religion, Hutchinson University Lybrary, London 1970, p.31.