Hari Agama Sedunia
Hari Agama Sedunia
Prepared
by Syamsuddin Ali Nasution BA, MA, PhD
Hari Agama Sedunia
diperingati pada setiap tahun pada bulan Januari. Ini merupakan suatu momentum
bagi setiap pemeluk agama untuk saling menghayati dan merenung ajaran dan
tradisi yang ada dalam agamanya masing-masing, dan menggunakan kesempatan untuk
belajar dari orang lain mengenai kekurangan dan kelebihan pengalaman beragama,
dan sekaligus dijadikan sebagai bahan renungan untuk masing-masing dalam meraih
kedamaian dan ketenangan yang sebenarnya. Berikut dikemukakan pengertian agama,
keurgensian agama bagi manusia dan lain-lain.
A. Apakah
itu Agama
Apabila dikaji dan
diteliti buku-buku referensi tentang terminologi “Agama”, baik yang
berbahasa Melayu maupun yang berbahasa Inggris, maka ditemukan berbagai macam definisi
yang dikemukakakan oleh para pakar, di antaranya ialah bahwa secara etimologi,
kata “Agama” berasal dari bahasa Sanskerta, bahasa Hindu kuno, yang berkonotasi
sebagai peraturan, kepercayaan, haluan dan jalan[i]. Sementara itu dalam kitab
suci agama Hindu, Rig Weda menyebutkan bahwa terminologi “Agama”
merupakan kata gabungan yang terdiri atas “A” yang bermakna “tidak” dan
“gama” yang mengandung arti “kacau”. Dengan
demikian, jika kedua kata itu digabung menjadi satu perkataan “Agama”
maka konotasinya ialah “tidak kacau, tenteram dan damai”[ii].
Sementara K.
Burhanuddin Wahid Key berpendapat bahwa agama ialah suatu sistem kepercayaan
dan peribadatan[iii].
Dalam pada itu, Kamus Dewan pula mengetengahkan arti agama sebagai suatu
kepercayaan kepada kuasa tertinggi yang menguasai alam ini dan cara-cara memuja
serta mengikutinya, kepercayaan kepada yang Mahakuasa (Tuhan, dewa dan
lain-lain)[iv]. Agama juga biasa
didefinisikan sebagai kepercayaan terhadap sesuatu yang supernatural dan
pengaturan upacara-upacaranya untuk menyembahnya[v].
Agama atau “Religion” dalam
bahasa Inggris, “Religio” dalam bahasa Latin dan “Religie” dalam bahasa Belanda
merupakan kata yang memiliki berbagai definisi. Dari keberbagaian definisi itu memunculkan pernyataan bahwa definisi agama kabur di
kalangan masyarakat[vi],
sebagaimana dapat dilihat dari ungkapan-ungkapan berikut tentang definisi
“Religion” (agama), di antaranya:
“Many
definitions of religion have been given, and while none seems to be entirely
agreed that religion treats of man’s relation to a supreme power, and his
method of expressing that relation in worship”[vii]
Sementara Radcliffe-Brown
pula mengemukakan definisi agama sebagai berikut:
“Anywhere
an expression in one form on another of a sense of dependence on a power
outside ourselves, a power of which we may speak as a spiritual or moral power”[viii].
Definisi lain
mengatakan bahwa agama ialah:
“a
system of belief involving a conviction that a supernatural power or powers
influences both natural and human phenomena and awakening feelings of
reverence, awe and dependence within men”[ix].
Selain dari definisi
yang dikemukakan di atas, terdapat suatu definisi yang sangat sederhana.
Definisi tersebut diberikan oleh E.B.Tylor yang mana ia mengatakan sebagai
berikut: “Religion is the belief in spiritual beings”[x].
Aneka ragam pengertian
agama yang dikemukakan oleh para pakar sebagaimana tersebut di atas,
mengindikasikan betapa sukar atau rumitnya menentukan definisi Agama dan
merumuskan pengertian yang komprehensif dan jelas, yang mencakup segala
aspeknya. Kerumitan tersebut bukan saja berasal dari fakta bahwa agama-agama
yang masih eksis dan yang tidak eksis lagi adalah mengetengahkan konsep-konsep
yang berbeda[xi],
tapi juga disebabkan banyaknya jenis agama.
Pada dasarnya
agama-agama yang eksis dewasa ini di dunia dapat dikategorikan kepada dua
bagian. Pertama yaitu agama-agama duniawi yang merupakan kebudayaan,
yang mana muncul dan berkembang dalam suatu masyarakat sebagai hasil buah
pikiran manusia, dan yang kedua ialah agama samawi atau wahyu yang
datangnya dari Allah swt[xii]. Justru itu, adalah
terlalu kompleks untuk memberikan suatu rumusan yang lengkap[xiii], jika tidak
memperhatikan berbagai unsur atau elemennya, atau jika hanya mencurahkan perhatian
kepada sebagian aspek dan sudut tertentu saja.
Bagaimanapun corak dan
bentuk definisi agama yang dikemukakan oleh seseorang itu, adalah jelas merujuk
kepada bentuk-bentuk hakikat tertentu, yaitu mengandung unsur akidah atau
kepercayaan, amalan atau kegiatan, perasaan-perasaan, sikap dan sebagainya.[xiv] Justru itu, terlalu
kompleks untuk memberikan suatu rumusan yang lengkap jika tidak memperhatikan
berbagai aspeknya.
Berdasarkan berbagai
definisi agama sebagaimana dipaparkan di atas, maka dapat dikonklusi hal-hal
berikut:
1.
Agama dapat dikatakan sebagai
suatu sistem hubungan antara manusia dengan Tuhan, dan tidak ada sangkut
pautnya dengan fenomena atau permasalahan-permasalahan yang berlaku antara
manusia dengan manusia, atau manusia dengan alam.
2.
Pada definisi-definisi agama
tersebut menggambarkan adanya kedamaian, apabila seseorang itu mematuhi
peraturan dan menuruti jalan yang sudah ditetapkan, dan dapat menciptakan
ketenangan jiwa serta dapat menghilangkan fikiran yang kacau.
3.
Terdapat beberapa point yang
menjadi ciri suatu agama, yaitu:
a. Kepercayaan
kepada kuasa tertinggi (supernatural power)
b. Amalan-amalan
yang dipersembahkan kepada kuasa tertinggi tersebut.
c. Tata
cara khusus dalam melaksanakan amalan-amalan (ritual) itu.
d. Amalan
yang dilakukan itu melahirkan rasa takzim, takut dan rasa ketergantungan kepada
kuasa tertinggi tersebut.
B.
Pengertian “al-Din”
Terminologi “al-Din”
yang biasa diinterpretasikan sebagai “agama” sebenarnya tidak sama makna dan
maksudnya dengan agama atau religion[xv]
sebagaimana dipaparkan artinya di atas. Memang sudah biasa atau lazim di
kalangan orang awam bahwa istilah “al-Din” itu diartikan sebagai agama
dalam bahasa Indonesia, dan religion dalam bahasa Inggris. Tetapi pengartian
itu hanya untuk mempermudah komunikasi atau dialog dengan orang awam saja[xvi].
Apabila dirujuk
kamus-kamus berbahasa Arab, seperti Lisan al-‘Arab, maka ditemukan bahwa kata “al-Din”
mengandung berbagai arti, di antaranya: perhitungan, ketaatan, Islam, adat dan
keadaan, kehinaan, kerajaan atau pemerintahan, dan lain-lain[xvii].
Begitu juga di dalam
Alquran, ditemukan bahwa kata “al-Din” memiliki berbagai konotasi atau arti
seperti makna pembalasan atau hari kiamat (surah al-Fatihah ayat 5), hukum atau
undang-undang (surah Yusuf ayat 76), “Din” (agama) yang hak dan yang
batil (surah al-Kafirun ayat 6), Islam (surah al-Rum ayat 30) dan lain-lain.
Kata “al-Din”
menurut Syara’ diartikan sebagai peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Allah
untuk membimbing orang-orang yang berakal dengan kehendak mereka kepadanya dalam
rangka meraih kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat[xviii]. Dalam konteks yang
sama, Syeikh Tantawi menyatakan bahwa asal-usul makna “al-Din” ialah
kepatuhan (berserah diri kepada Allah), kemudian dijadikan sebagai suatu nama
untuk semua perkara yang mana ummat manusia melakukan pengabdian kepada Allah,
lalu Dia menyuruh mereka untuk melaksanakannya[xix].
Berdasarkan arti dan
definisi di atas, maka dapat dipahami dengan jelas bahwa terdapat perbedaan
antara makna agama dengan al-Din. Oleh karena itu, sangat tidak
tepat menggunakan kata ‘agama’ sebagai makna al-Din, terutama apabila
yang dimaksud itu adalah al-Din yang sebenarnya, karena hanya Islam
sebagai al-Din yang hak dan yang diakui oleh Allah swt di sisi-Nya
sebagaimana disebutkan dalam surah Ali “Imran , 19:
إِنَّ
الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ .........
“
Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam...........”
Dengan demikian,
apabila diperhatikan ajaran-ajaran Din al-Islam yang meliputi berbagai
aspek hidup dan kehidupan, seperti masalah sosial, ekonomi dan lain-lain, maka
tidak mungkin dikatakan bahwa al-Din itu adalah hanya agama, karena ini
lebih luas dari makna agama. Tetapi agama hanya merupakan sebagian dari
kandungan Din al-Islam.
C. Kebutuhan
Manusia pada Agama
Menurut Alquran,
manusia merupakan perpaduan antara ruh dan jasad, spiritual dan fisik, dimana
dengan keterpaduan itu terwujudlah proses dan mekanisme hidup. Apabila
keterpaduan tersebut mengalami pemisahan maka proses dan mekanisme hidup pun
akan berhenti. Makhluk manusia diciptakan oleh Allah dari unsur material dan
immaterial[xx].
Hakikat penciptaan manusia
dari komponen jasmani telah digambarkan dalam Alquran surah Shad ayat 71:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي
خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
Malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah".
Juga dijelaskan pada surah al-Sajadah ayat 7-8
sebagai berikut:
الَّذِي
أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلالَةٍ مِنْ مَاءٍ
مَهِينٍ
“Yang
membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai
penciptaan manusia dari tanah, kemudian Dia menjadikan keturunannya dari
saripati air yang hina”.
Sementara proses
peniupan ruh manusia merupakan unsur immaterial sebagaimana dijalaskan dalam
Alquran surah Shad ayat 72:
فَإِذَا
سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
“Maka
apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh
(ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadaNya".
Di samping itu, firman
Allah pada surah al-Sajadah ayat 9 sebagai berikut:
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ
السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ
Kemudian
Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit
sekali bersyukur.
Berdasarkan ayat di
atas, adalah jelas bahwa Allah swt menciptakan Adam sebagai manusia pertama dan
keturunannya dengan mempunyai fisik, jasmani yang berasal dari benda (tanah).
Setelah sempurna proses pembentukannya, maka Allah swt meniupkan ruh
ciptaan-Nya yang qudus dan immaterial untuk menghidupkan fisik atau jasad
tersebut.
Apabila diperhatikan
penciptaan manusia yang terdiri dari dua komponen yang berbeda, yaitu tanah
yang letaknya di bumi dan ruh yang datangnya dari Yang Mahatinggi, maka dapatlah
dikatakan dengan tegas bahwa kebutuhan manusia juga terdiri dari dua hal yang
berbeda, berfungsi untuk menjaga dan
mempertahankan eksistensinya[xxi]. Kebutuhan tersebut
dapat diketegorikan kepada dua bagian:
1.
Kebutuhan hidup yang sesuai
dengan watak jasmani atau fisiknya (physical needs) yaitu terdiri dari tiga
hal utama: makanan, pakaian dan tempat tinggal yang semuanya berasal dari tanah[xxii].
2.
Kebutuhan hidup yang sesuai
dengan watak ruhaniahnya (Psychological needs), yaitu ia membutuhkan
nilai-nilai dan sifat-sifat ketinggian, merindukan hal kebenaran dan ketuhanan[xxiii], karena kebenaran itu
merupakan tujuan segala kenyataan; kebenaran yang mutlak adalah Tuhan[xxiv]. Kebutuhan tersebut
berasal dari alam ketinggian dan kekudusan.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan
di atas, maka dapat diambil suatu kepastian bahwa sifat-sifat manusia yang
bukan saja sebagai makhluk jasmani tetapi juga makhluk rohani telah menyebabkan
manusia bukan saja membutuhkan hal-hal kejasmanian, tapi juga membutuhkan
hal-hal kerohanian yang mana hanya dapat dipenuhi oleh agama[xxv]. Dengan demikian pula,
menjadi jelas bahwa agama merupakan suatu instinct, gharizah,
naluri dan fitrah semulajadi bagi setiap diri manusia. Hal ini juga diakui oleh
para sarjana Barat, yang mana mereka menegaskan “All men are religious”[xxvi]
Sarjana-sarjana non-Muslim
mengakui bahwa fitrah beragama telah tumbuh pada jiwa setiap insan sejak
eksistensinya di permukaan bumi ini, baik pada zaman dahulu maupun zaman kini.
Dalam konteks ini, J.A. Macculloch menyatakan sebagai berikut:
“We
find that even among such backward people there exist religious and ethical
ideas of a strangely advanced orders. If, then, men everywhere and at all
stages is religious, this confirms the view that he has at all times been
religious”[xxvii]
Menurut sejarawan,
bangsa-bangsa purba seperti Greek dan Roma purba ditemukan mereka sudah
mempunyai kepercayaan masing-masing; mereka memiliki tuhan yang banyak; begitu
juga bangsa-bangsa yang lain. Kesemua kepercayaan mereka itu mengindikasikan
bahwa agama adalah merupakan tuntutan atau kebutuhan hidup manusia yang tidak
bisa terpisahkan[xxviii].
Oleh karena itu, tidak
ada suatu golongan masyarakat atau sesuatu bangsa di dunia yang tidak mempunyai
agama atau kepercayaan sama sekali, baik itu agama yang benar ataupun agama
yang salah. Dimana saja suatu masyarakat eksis, maka dapat dipastikan bahwa ada
agama yang menjadi anutan mereka[xxix]. Dalam konteks ini,
Afiff Abdul Fattah Thayyarah menegaskan sebagai berikut:
“Maka
dari itu, belum pernah agaknya kita menemukan suatu ummat, suatu golongan atau
suatu bangsa yang sama sekali tidak mempunyai agama, baik agama itu diredhai
oleh Allah atau tidak, baik agama itu menurut pandangan kita keliru dan salah
ataupun benar dan hak”[xxx]
Perspektif Islam
tentang persoalan manusia butuh agama adalah cukup jelas bahwa sifat manusia
mempercayai Tuhan Pencipta alam semesta telah ditemukan atau melekat pada diri
setiap insan, yang mana disebut sebagai “religious instinct”, dan inilah
yang membedakan manusia dari makhluk hewan. Berkaitan dengan ini, Allah
berfirman pada surah al-A’raf ayat 172:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ
ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا
بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا
غَافِلِينَ.
“Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi
mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan
kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari
kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Syeikh Muhammad Abduh
memberi komen kepada ayat di atas, dengan menyatakan bahwa Allah swt
menciptakan manusia di atas fitrah (naluri) Islam dan Dia meletakkan gharizah
(watak) keimanan dalam diri mereka. Kemudian Dia menciptakan daya pemahaman
pada akal dan pikiran manusia bahwa apabila didapati perbuatan maka sudah pasti
ada yang membuatnya, dan bahwa setiap eksis ciptaan sudah barang tentu ada
penciptanya, dan bahwa pada seluruh alam yang baharu ini ada kekuatan dan kekuasaan
yang lebih tinggi lagi, yaitu Allah swt yang Maha Berhak disembah[xxxi].
Sesungguhnya Allah swt
telah menciptakan manusia dalam keadaan “Haniif” dan juga dalam keadaan berada
pada Din al-Islam, sebagaimana Allah telah menegaskannya pada surah
al-Rum ayat 30, sebagai berikut:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ
الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ
الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ.
Maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada perubahan
pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahui, (Al-Rum, 30)
Ketika menguraikan ayat
di atas, seorang ulama Tafsir, Al-Alusiy menyatakan bahwa yang dimaksud dengan
menciptakan manusia di atas Din al-Islam ialah menjadikan mereka berada
dalam keadaan tunduk menerimanya, tidak berpaling daripadanya dan tidak
mengingkarinya, karena situasi Islam itu adalah bersesuaian dengan akal
(rasional) dan sejalan dengan pikiran yang sehat, sehingga seandainya mereka terbiar
begitu saja, maka sudah barang tentu mereka tidak memilih agama lain[xxxii].
Justru itu,apabila
seorang anak dibiarkan mengikuti fitrah (naluri) dan watak semulajadinya tanpa
diingatkan dan tidak pula dimasuki oleh pahaman apa pun, maka ia akan tumbuh,
berkembang dan menjadi besar dalam keadaan sadar dan mengakui keesaan Allah[xxxiii]. Tetapi karena
faktor-faktor luar seperti pendidikan, lingkungan dan pergaulan dalam kehidupan
ini mempengaruhinya, maka anak itu setelah dewasa biasanya menyimpang dari
naluri asalnya[xxxiv].
Sebab anak kecil belum memiliki kematangan lagi dalam menghadapi pertentangan
antara fitrahnya dan faktor-faktor tadi. Begitu juga, anak itu masih belum
mempunyai daya ketahanan dalam mengatasi atau mengalahkan rintangan-rintangan
atau musuh-musuh dari luar .
Penjelasan-penjelasan
di atas membuktikan bahwa kepercayaan kepada Allah swt merupakan instinct
(naluri) yang tidak dapat terpisahkan dari jiwa setiap insan, yaitu suatu
fitrah yang sehat dan murni. Bagaimanapun, fitrah yang sehat itu terkadang terkena
noda, karat atau kotoran oleh sebab adanya pengaruh-pengaruh material dan
kurangnya pendidikan rohani. Namun noda tersebut bisa hilang apabila manusia
itu tertimpa musibah, dilanda kesusahan dalam hidupnya atau diancam oleh bahaya
bencana alam, banjir dan gempa bumi yang memusnahkan harta benda dan
mengorbankan jiwa. Manusia pada ketika itu terpaksa meminta dan memohon bantuan
kepada Tuhan yang Mahakuasa dan Maha Pencipta. Kondisi seperti ini digambarkan
oleh Allah swt di berbagai tempat dalam Alquran, diantarnya disebutkan dalam
surah Yunus ayat 12 sebagai berikut:
وَإِذَا مَسَّ الإنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا
أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَى
ضُرٍّ مَسَّهُ كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١٢)
Dan
apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring,
duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia
(kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa
kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah
orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka
kerjakan.
Dengan demikian, adalah
jelas bahwa ketergantungan manusia kepada Allah Yang Maha Kuasa merupakan suatu
hal yang tidak dapat dielakkan, karena memang tujuan penciptaan manusia itu pun
adalah untuk menghambakan diri kepada-Nya, sebagaimana ditegaskan oleh Allah
swt dalam Alquran surah al-Zariyat ayat 56 sebagai berikut:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
(٥٦)
Dan Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.
Buya HAMKA ketika
memberi komentar kepada ayat tersebut menegaskan sebagai berikut:
“Di
sinilah Tuhan menjuruskan hidup kita, memberi kita pengarahan, Allah mencipta
kita, jin dan manusia tidak untuk yang lain, hanya untuk satu macam tugas saja,
yaitu mengabdi, beribadat. Beribadat yaitu mengakui bahwa kita ini hamba-Nya,
tunduk kepada kemauan-Nya.”[xxxv]
Seluruh umat manusia
yang hidup di permukaan bumi ini tidak dapat melepaskan dirinya dari tuntutan
bertuhan kepada Allah swt dan Din al-Islam yang merupakan instinct dan
fitrah suci manusia. Apabila fitrah tersebut dikesampingkan, maka timbullah
berbagai efek yang negatif dan buruk, serta krisis pun muncul. Tanpa (agama)
Islam, segala kemajuan yang tercapai oleh manusia, baik dari segi pikiran
maupun dari aspek teknologi tidak akan memberikan kebahagiaan dan ketenteraman,
malah akan membinasakan umat manusia[xxxvi].
Berdasarkan uraian-uraian
dan bukti-bukti di atas, maka dapatlah ditegaskan bahwa apapun pernyataan dan
pengakuan orang-orang yang berfaham atheis, yang menidakkan dan mengingkari
eksistensi Tuhan Yang Maha Kuasa adalah pengakuan yang tidak disandarkan kepada
logika yang sehat, juga tidak didasarkan pada pengetahuan yang kokoh. Pada
dasarnya, mereka itu sebenarnya adalah orang-orang yang percaya kepada keesaan
Allah swt.
Sekian dan terimakasih
[i] Mohd. Fauzi bin Haji Awang, Ugama2 Dunia, PAP Kelantan 1964,
h.14.
[ii] . Mardaham Al-Imam .R.M (H), Agama yang Lurus Benar, Kalam
Mulia Jakarta 1989, h. 6.
[iii] K. Burhanuddin Wahid Key, Konsep Pembudayaan Manusia Dalam Islam,
Ghalia Indonsia, Jakarta 1978, h.22.
[iv] Tengku Iskandar, Kamus Dewan, Dewan Bahasa Dan Pustaka, Kuala
Lumpur 1970, h.1312.
[v] Moersaleh, Islam Agamaku Dari Seorang Awam Kepada Sesama Awam,
Kalam Mulia, Jakarta 1989, h.5.
[vi] Sidi Gazalba, Islam Dan Perubahan Sosiobudaya: Kajian Islam Tentang
Perubahan Masyarakat, Pustaka Antara, Kuala Lumpur 1983, h. 28.
[vii]. American Educator Encyclopedia, The United Educators, Inc,
Chicago, New York, Toronto, Vol.11, p.75.
[viii] Betty R.Scharf, The Sociological Study Of Religion, Hutchinson
University Lybrary, London 1970, p.31.