[email protected] 0251-8240773
Informasi

Hari Krida Pertanian sebagai Momentum Kebangkitan Petani Milenial

oleh: Dr. Abdullah Baharun, S.Pt., M.Si
(Wakil Dekan Akademik Fakultas Pertanian Universitas Djuanda Bogor)

 

Hari Krida Pertanian yang ditetapkan pada tanggal 21 Juni merupakan hari besar yang diperingati oleh seluruh pelaku industri pertanian di Indonesia, termasuk petani, peternak, nelayan, pegawai, serta pengusaha yang bergerak di sektor pertanian. Sejarah peringatan Hari Krida Pertanian didasarkan dari segi astronomis di mana matahari memberikan energi kehidupan bagi tumbuhan, hewan dan manusia, berada pada garis balik utara (23,50 lintang utara). Matahari dengan sinar dan cahayanya merupakan sumber energi utama bagi seluruh makhluk di bumi. Energi cahaya matahari akan diserap oleh zat hijau daun atau klorofil bersama dengan kandungan air dan mineral dari dalam tanah, serta semua unsur akan diolah dan menghasilkan energi dan oksigen yang dinamakan proses fotosintesis. Proses tersebut diperlukan bagi tumbuhan sebagai sumber kehidupan. Hidupnya tumbuhan hijau pada akhirnya merupakan pergerakan utama kerjasama rantai makanan. Hal inilah yang pada akhirnya menjadikan matahari sebagai sumber energi utama bagi kehidupan di bumi.

 

Fungsi matahari sebagai sumber energi dan pergerakan utama rantai makanan adalah bentuk keteraturan alam yang menunjang kehidupan hewan baik yang di darat maupun di lautan, binatang ternak maupun manusia yang telah diatur dan merupakan tanda-tanda kebesaran Allah SWT. ?Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya? (QS. Fussilat: 37). Di samping itu, hakikat dari Hari Krida Pertanian merupakan hari bersyukur, hari berbangga hati, sekaligus hari mawas diri serta hari dharma bhakti, tidak terkecuali bagi petani milenial yang merupakan ujung tombak dalam keberlanjutan sistem pertanian untuk ketahanan pangan Nasional.

 

Petani milenial adalah petani yang berusia antara 19-39 tahun dengan harapan produktivitas yang tinggi. Sebagaimana Rasulullah SAW sangat mendukung kiprah pemuda dalam mengembangkan ilmu pengetahuan termasuk dalam bidang pertanian. Peran penting petani milenial dalam memajukan sektor pertanian dapat dilakukan melalui modernisasi pertanian masa depan. Melalui pemanfaatan teknologi digital, petani milenial akan menggerakkan kewirausahaan bidang agrikultur yang menjadikan wajah pertanian menjadi lebih segar dan atraktif untuk bisa berkelanjutan. Petani milenial mempunyai peran penting guna untuk melanjutkan pembangunan di sektor pertanian yang perlu didukungan oleh sumberdaya manusia (SDM) pertanian yang maju, mandiri, dan modern. Peningkatan kapasitas SDM petani milenial perlu dirancang dan berfokus dengan tujuan untuk dapat mengimplemantasikan inovasi, sarana dan prasarana dengan baik dan benar, serta mampu mengusul dan menghasilkan kebijakan perundangan yang mendukung peningkatan produktivitas sektor pertanian.  

 

Pemerintah perlu melakukan reformasi kebijakan pertanian dalam mendorong petani milenial berperan aktif yang berfokus dalam mengatasi lima tantangan utama terkait ketahanan pangan. Pertama, aspek peningkatan produksi dan pasokan, khususnya terkait dengan luas lahan, produktivitas, ketersediaan data, insentif bagi petani milenial, dan kebijakan impor. Kedua, aspek pemenuhan infrastruktur penunjang pertanian, khususnya pengairan berbasis penerapan teknologi buatan. Ketiga, aspek akses pembiayaan untuk menunjang keberlanjutan usaha petani milenial. Keempat, aspek distribusi, logistik, dan tata niaga pangan. Terakhir, aspek efisiensi struktur pasar yang berhubungan dengan panjangnya rantai perdagangan komoditi pangan yang perlu sentuhan digitalisasi. Digitalisasi sektor pertanian merupakan aspek penting dalam menunjang peningkatan produktivitas petani milenial. Disamping itu, kaum milenial mampu untuk memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intellegency), robotic, internet of thing (IOT) dalam menghasilkan produk-produk pertanian yang terjamin kuantitas, kualitas, dan kontinyuitasnya dalam memenuhi target swasembada pangan nasional dan sebagai lumbung pangan dunia di tahun 2045. Sektor-sektor tersebut di atas harus menjadi perhatian pemerintah dalam melibatkan petani milenial demi keberlanjutan sistem pangan sehingga tercapai ketahanan pangan nasional.

 

Secercah harapan dalam memperingati Hari Krida Pertanian pada tahun 2022, sebagai momen kebangkitan para petani milenial dalam berperan aktif sebagai tulang punggung untuk mendukung ketahanan pangan di Indonesia dapat tercapai.